
Sekarang El dan Najwa sudah berada di bandara, sebenernya Rania cukup kesal menunggu bosnya cukup lama di bandara tapi mau bagaimana lagi gak mungkin juga Rania memarahi bosnya.
"Selamat siang tuan" ujar Rania kala melihat bosnya datang tapi yang membuat Rania semakin tidak suka karena ternyata El membawa serta istrinya ke bali.
"Apa dia juga ikut tuan?" tanya Rania dengan menunjuk ke arah Najwa.
"Dia, dia yang sopan kamu, dia itu istriku namanya Najwa, panggil nyonya Najwa" jawab El dengan nada tidak suka sewaktu sekertarisnya itu nunjuk nunjuk istrinya, sedangkan Najwa gak mau ambil pusing dengan masalah itu, Najwa lebih memilih diam toh suaminya sudah membelanya.
"Ma ..... maaf tuan" ujar Rania dengan menunduk.
"Ayo sayang" El merangkul pundak istrinya untuk memasuki pesawat pribadinya sedangkan Rania mengekor dari belakang.
"Yah kirain aku cuma berangkat berdua dengan tuan muda El eh ternyata dia membawa istrinya juga" Gumam Rania dalam hati.
Padahal Rania sudah berdandan sekece mungkin untuk menarik pehatian tuanya tapi tetep aja tuanya itu biasa aja saat memandangnya.
"Lho kok sepi mas, di dalam pesawat cuma ada kita aja ini, biasanya kan banyak penumpangnya?" tanya Najwa yang merasa bingung pasalnya di dalam pesawat hanya ada dirinya, suaminya serta sekertaris suaminya,sedangkan Rania yang mendengar perkataan dari Najwa jadi ingin ketawa.
"Sayang denger ya ini itu pesawat pribadiku jadi hanya ada kita saja disini" jawab El yang membuat Najwa menganga.
"Wah jadi pesawat ini milik suamiku, kaya banget ya ternyata suamiku" gumam Najwa dalam hati.
Posisinya sekarang Najwa duduk berdampingan dengan El, El langsung menggenggam tangan istrinya saat pesawat akan lepas landas.
"Mas kamu itu sekaya apa sih sampai sampai punyai pesawat pribadi segala?" tanya Najwa dengan tiba tiba.
"Apa kamu masih meragukan kekayaanku hem"
"Kalau menurut Najwa ni ya mas, mas El harus menyisihkan sebagian uang mas El untuk orang orang yang lebih membutuhkan" ujar Najwa yang sebenernya ingin menyedekahkan uang milik suaminya ke pantai asuhan atau orang orang yang kurang mampu.
"Kamu fikir aku gak pernah menyedekahkan hartaku hem? aku ini donatur tetap di beberapa pantai asuhan dan aku juga sudah sering menyumbangkan sebagian hartaku untuk pembangunan masjid dan sebagainya" jawab El yang membuat Najwa bangga.
"Subhanallah, kalau begitu apa Najwa boleh mas emberikan sedikit hartamu untuk anak anak yatim piatu atau ke pantai asuhan?" tanya Najwa.
"Boleh terserah kamu saja sayang, kamu pasti mikirnya aku ini gak penah sedekah dan berzakat kan?" tanya El sedangkan Najwa hanya menggelengkan kepalanya. "kamu salah sayang sedari aku kecil mommyku sudah mengajarkanku untuk berzakat ataupun bersedekah"
"Subkhanallah suamiku selain kaya baik juga ya" ujar Najwa yang membuat El langsung merasa bangga dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Iyalah suaminya siapa dulu" jawab El yang membuat Najwa jadi ingin ketawa.
"Hahaha..... Ih mas El narsis banget sih" ujar Najwa dengan memukul lengan suaminya sedangkan Rania yang melihat interaksi antara Najwa dan El jadi merasa kesal pasal dirinya jadi merasa terabaikan, padahal biasanya El itu selalu membahas perkejaan dengannya tapi gara gara ada istrinya El gak membahas masalah perkerjaan ke sekertarisnya.
Gak terasa setelah mengudara selama 1 jam 45 menit akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat sempurna di bandara internasional ngurah rai, sesampainya mereka di bandara mereka sudah di jemput oleh supir yang sebelumnya sudah di perintahkan oleh El untuk memjemputnya di bandara.
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil yang siap mengantarkanya ke sebuah Resort yang mewah, posisi duduk El berada di bagian penumpang belakang dengan Najwa sedangkan Rania terpaksa duduk di depan dengan supir.
******
Setelah Bryan bebas kini Bryan jadi ingin bertemu dengan Nesya, jujur saja selama bebera hari tidak bertemu dengan Nesya Bryan jadi merindukannya.
Bryan lebih memilih untuk menghubungi Nesya untuk bertemu, Bryan mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya lalu Bryan segera menghubungi Nesya lewat aplikasi hijau diponselnya.
"Halo" jawab Nesya di sebrang sana saat sambungan telfonnya sudah terhubung.
"Halo Nes kamu sedang apa?" tanya Bryan.
"Gak ngapa ngapain Bry memangnya ada apa?" jawab Nesya dengan balik bertanya.
"Maaf Bry aku lagi males keluar lain kali aja deh" jawab Nesya yang membuat Bryan menjadi sangat kecewa.
"Yah kok gitu sih Nes gak asyik kamu"
Bryan sebenernya sudah sangat kesel banget dengan Nesya karena Nesya selalu saja menolaknyan padahal sekarang El sudah punya istri jadi sudah gak ada harapan lagi bagi Nesya untuk besama dengan El, lantas alasan apa lagi yang mau Nesya katakan untuk menolaknya.
"Ayo dong Nes please" ujar Bryan dengan memohon supaya Nesya mau bertemu dengannya.
"Bukan apa apa Bry soalnya aku sekarang harus istirahat karena besok harus terbang ke yogya bukannya kamu juga harus ke yogya secara kamu kan ikut kerja sama dengan proyek itu" jelas Nesya yang membuat Bryan jadi berbinar.
"Ja jadi besok kamu yang mengurus proyek baru itu di Yogya? bukan papah kamu?" tanya Bryan.
"Iya Bryan papahku yang menyuruhku untuk menangani proyek itu" jawab Nesya yang membuat Bryan jadi kegirangan, kalau begitu ceritanya Bryan akan punya banyak waktu untuk bertemu dengan Nesya secara mereka berdua terlibat urusan bisnis.
"Ya udah besok kita berangkat bareng aja ke yogyanya, bagaimana?" tanya Bryan yang meminta persetujuan dengan Nesya.
"Boleh Bry, besok kamu yang jemput aku ya" jawab Nesya, sedangkan Bryan langsung mengiyakan permintaan dari Nesya yang minta di jemput, jadi otomatis dia besok akan berangakat ke yogya berdua bareng Nesya.
__ADS_1
"Siap tuan putri"
"Ya udah Bry sampai bertemu besok" Setelah itu Nesya langsung memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.
"Yes, aku harus menyusun rencana buat menembak Nesya lagi, aku yakin kali ini Nesya pasti akan menerimaku secara dia sudah gak ada harapan untuk bersama El lagi" gumam Bryan dengan memikirkan cara untuk menembak Nesya secara romantis.
********
Sedangkan di rumah Nesya sudah selesai menyiapkan segala kebutuhanya selama berada di yogya.
"Sayang gimana apa kamu sudah selesai menyeiapkan semua kebutuhan kamu selama berada di yogya nanti?" tanya Riska yang memasuki kamar anak gadisnya.
"Udah kok mah, itu udah beres semua" jawab Nesya dengan menunjuk satu koper besar yang terletak di sudut ruangan.
"Ya sudah nanti kamu jangan lupa selama di sana sering sering hubungin mamah ya"
"Iya mamahku sayang" jawab Nesya dengan memeluk mamahnya, sedangkan Ken yang bersandar di pintu jadi tersenyum melihat istri dan anaknya yang saling berpelukan.
"Ehhhmmmm, malah pada peluk pelukan sendiri papah gak di ajak ini" celetuk Ken yang seketika membuat Nesya melepaskan pelukanya dengan mamahnya.
"Eh papah, jadi papah mau di peluk juga" ujar Nesya yang langsung memeluk papahnya. "Owh iya mah, pah besok Bryan malah ngajakin berangkat bareng ke yogya"
"Terus kamunya gimana mau apa nggak?" tanya Ken.
"Iya Nesya mau mau aja sih kalau cuma berangkat bareng kan malah jadi ada temannya" jawab Nesya sedangkan Ken hanya menganggukkan kepalanya.
"Terus kamu berangkatnya di jemputkan sayang sama Bryan?" tanya Riska.
"Iya dong mah, besok Bryan akan jemput Nesta kesini" jawab Nesya.
"Kenapa kamu gak menerima Bryan saja sih sayang lagian papah lihat Bryan orangnya baik, siapa tau ajakan kamu jadi bisa lupain El" ujar Ken yang Berharap Anaknya itu segera melupakan El.
"Iya Nes mamah juga setuju kalau kamu dengan nak Bryan" tambah Riska ikut menimpali.
"Gimana ya mah, pah Nesya itu gak Cinta sama Bryan" jawab Nesya sedangkan Ken dan Riska tidak mau memaksakan anaknya biarlah anaknya itu menentukan pilihannya sendiri, bagi Ken dan Riska yang penting anaknya bahagia.
BERSAMBUNG.
__ADS_1