Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Pribadi yang Berbeda


__ADS_3

"Sejak kapan kamu sembuh?"


Pertanyaan pertama yang Jason lontarkan ketika ia dan Riu sudah keluar dari ruang rapat, dan Kairi pun sudah lebih dulu pergi meninggalkan tempat.


"Semalam." Satu jawaban yang sudah jelas bohongnya.


"Tapi___"


"Selama ini aku juga berjuang keras untuk sembuh. Apa Papa tidak suka kalau aku bisa berjalan lagi?" pungkas Riu.


Jason menggeleng cepat, "Bukan begitu, Riu. Papa cuma kaget saja. Sebelumnya lumpuhmu divonis permanen, dan tiba-tiba sekarang bisa sembuh normal. Padahal, kemarin-kemarin belum ada tanda-tanda."


Riu tertawa sumbang, "Aku sendiri memang pesimis, Pa. Jadi, sedikit demi sedikit kemajuan hanya kusimpan sendiri. Aku tidak mau jika banyak yang tahu dan ternyata aku tidak bisa kembali normal, nanti yang ada aku jadi bahan tertawaan. Ya ... seperti sebelumnya. Banyak kan, Pa, yang menertawakan kelumpuhanku ini? Termasuk, orang-orang terdekat."


Jason diam seketika. Dia tahu siapa yang disindir Riu—kakak-kakaknya. Makin ke sini juga dia makin paham sebesar apa kekecewaan Riu. Ya ... memang dirinya yang salah. Terlalu menyayangi anak-anaknya dari Miranda. Dari dulu terus memanjakan mereka, hingga mengabaikan Riu yang notabennya juga darah dagingnya.

__ADS_1


Sekarang, disesali pun sudah terlambat. Karena beberapa hari terakhir saja, dia masih membela Kelvin. Yang artinya ... lagi lagi berpihak pada Annisa.


"Aku harap Papa tidak keberatan dengan keputusanku menjual perusahaan ini pada Tuan Kairi. Aku sedang butuh dana untuk mengembangkan bisnis di Indonesia."


Jason kembali menatap Riu, yang begitu tenang mengucap kalimat barusan.


"Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama pada perusahaan yang dipegang Camelia?" tanyanya.


"Bisa iya bisa tidak, tergantung nanti," jawab Riu.


"Maaf, Pa, kalau aku terkesan tega pada mereka. Aku hanya mengembalikan apa yang pernah mereka perbuat. Aku tidak mau terus menjadi lemah dan diinjak-injak oleh mereka. Aku harus kuat dan berani melawan karena hidupku bergantung pada diriku sendiri. Aku tidak seperti Kak Annisa atau Kak Camelia, yang punya dukungan penuh dari Papa," sambung Riu karena ayahnya masih terus diam.


"Riu, Papa tidak___"


"Papa mau bilang tidak mendukung? Lalu ... bagaimana dengan permintaan Papa yang menyuruhku mengambil dua di antara tiga pilihan kemarin? Bahkan, sampai melibatkan Vale. Padahal, itu tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Aku menikahinya ketika dia tidak terlibat hubungan dengan siapa pun. Yang memberi jalan untuk kami bersama juga Papa Mertua, sama sekali tidak ada campur tangan keluarga Brox, kan? Lantas, kenapa sekarang Kelvin menginginkan dia? Sampai tega meminta bantuan Papa agar aku mau melepaskan Vale. Apakah itu pantas?" pungkas Riu. Intonasinya tidak tinggi, tetapi kesannya sangat tegas dan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Jason hanya menggerak-gerakkan bibirnya, tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.


"Nanti ... aku juga akan mencontoh sikap Papa," ujar Riu, yang kemudian langsung ditanggapi oleh ayahnya, dengan sebuah pertanyaan akan maksud dari perkataan barusan.


"Papa kan mengingkari janji. Katanya siapa yang curang, namanya akan dicoret dari keluarga Brox dan tidak berhak mendapatkan aset apa pun, tapi nyatanya ... masih ada banyak alasan untuk menghapus janji itu. Jadi, aku pun akan melakukan hal yang sama, Pa. Aku akan mengingkari janjiku."


Jason tersentak, "Apa maksudmu? Kamu tidak mau mau membebaskan kakakmu?"


Riu menggeleng, "Bukan. Soal itu Papa tidak perlu khawatir, meraka akan tetap kubebaskan. Tapi ... Vale tidak akan pernah kulepaskan. Dia adalah wanitaku, selamanya akan menjadi wanitaku. Jangankan hanya Kalvin atau Papa yang menginginkan itu, dia sendiri yang menginginkannya pun, aku tidak akan pernah memberi izin. Karena apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah menjadi milik orang lain."


Ucapan tegas yang disertai kilatan tajam membuat Jason tertegun lama. Bergetar hatinya melihat sang putra memiliki tatapan itu—sebuah tatapan yang bahkan dirinya pun tak punya meski selama ini dikenal dingin dan tegas. Rupanya ... sikap tidak adilnya selama ini telah membentuk Riu sebagai pribadi yang berbeda.


"Paman! Aku ingin bicara empat mata denganmu!" teriak Kelvin yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2