Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Siuman


__ADS_3

'Keadaan belum memungkinkan untuk kutinggal, Paman. Beri aku waktu setidaknya sampai satu minggu ke depan.'


Riu membuang napas kasar. Beberapa waktu terakhir ini, ia seakan kekurangan waktu. Begitu banyak urusan yang membutuhkan dirinya, sampai terkadang tak ada sempat untuk beristirahat dengan baik.


'Baik, satu minggu. Jangan mundur lagi.'


Zack kembali membalas pesannya, yang kemudian sekadar ia tanggapi dengan jawaban 'ya'.


Pasalnya Riu tahu, tidak akan cukup sehari dua hari menemui pamannya yang ada di Spanyol itu. Pasti menghabiskan cukup banyak waktu, karena kedatangannya ke sana untuk mengurus pengalihan kepemilikan aset milik Zack.


Di tengah rasa lelahnya, Riu membuang puntung rokok dan kemudian menyandarkan punggung. Dengan senyum penuh kemenangan, Riu melihat kembali ponselnya. Namun, bukan lagi menampilkan tulisan pesan dari Zack, melainkan video Marc yang dikirim orang suruhannya tempo hari.


Dalam video itu, terlihat jelas wajah putus asa Marc di dalam ruang jeruji. Tak ada keangkuhan seperti yang biasa ditunjukkan. Bahkan, untuk mengangkat kepala saja sepertinya Marc sangat enggan.


"Pasti ini sangat tidak sesuai dengan ekspetasimu, kan? Bukan aku yang paling hancur, tapi kamu. Aku tetap bisa bekerja sama dengan Jester Corporation, juga bisa berkeliaran bebas. Dan ... aku juga akan memiliki aset yang sebelumnya menjadi harapanmu. Marc, kamu sudah tamat," ucap Riu dengan tatapan yang penuh kebencian.


Marc sudah berani melukai Vale, dan itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Tidak bisa dimaafkan. Ke depannya, Riu akan membuat Marc menikmati sisa hidup di balik jeruji, sedetik pun tak akan ia biarkan keluar dari sana. Dia harus meratapi penyesalan dan keputusasaan dalam kesendirian.


Sesaat setelah puas melihat kehancuran Marc, Riu mulai menghidupkan mesin mobil. Lantas, meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan area rumah sakit. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Vale dan juga kedua anaknya. Merekalah yang bisa meredakan lelah fisik dan pikirannya.


Sesampainya di rumah, Riu langsung menuju kamar dan disambut Vale yang kala itu sedang duduk bersandar di atas ranjang.


"Sayang, kamu belum tidur?" Riu mendekati Vale dan duduk tepat di sebelahnya. Lalu, memeluk tubuh ramping itu dan mendaratkan kecupan mesra di kening.


"Aku belum ngantuk."


"Tunggu aku membersihkan diri dulu. Nanti kita tidur bersama," ujar Riu.


"Perlu aku bantu menyiapkan air hangat?"


Riu tersenyum. "Tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri, Sayang. Kamu cukup menunggu di sini."

__ADS_1


Sebelum bangkit dan pergi ke kamar mandi, Riu terlebih dahulu mendaratkan kecupan singkat di bibir Vale. Tak sampai menyalurkan aroma nikotin yang masih tertinggal di bibirnya.


Kendati begitu, sudah cukup untuk mendebarkan hati Vale. Memang, pesona suaminya itu tak pernah surut. Jangankan ciuman, sedikit sentuhan dan tatapan saja sudah mampu meluluhlantakkan perasaan.


Beberapa menit kemudian, Riu keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak lebih segar dibanding tadi. Masih di tempatnya, Vale menatap Riu dengan pipi yang bersemu merah. Tubuh Riu hanya dibalut celana pendek, sedangkan bagian atas dibiarkan terpampang sempurna. Tanpa dipinta, pikiran Vale berkelana pada adegan-adegan seputar dada bidang dan perut sixpack itu. Ahh!


"Si kembar tadi bagaimana? Apa rewel?" tanya Riu sembari mendekat kembali ke tempat Vale, dengan dada yang tetap terbuka tentunya.


"Tadi sempat menangis. Tapi setelah dibuatkan su-su, mereka tidur lagi." Vale sedikit menunduk, menyembunyikan pipinya yang masih bersemu. "Kamu mau melihat mereka?" sambungnya.


Riu mengiakan. Kemudian, Vale mengambil ponsel yang tergeletak di meja samping ranjang. Lantas, menunjukkan tampilan dari CCTV yang terpasang di kamar Orion dan Oliver. Sejak buah hatinya lahir kapan hari, Riu memang menyuruh orang untuk memasang CCTV di kamar itu. Gunanya untuk melihat bayi-bayi mungil itu ketika waktu tak memungkinkan untuk datang ke sana.


"Mereka sangat pulas," gumam Riu saat melihat Oliver dan Orion tidur nyenyak. Sementara dua pengasuhnya juga tidur, di ranjang yang berbeda.


Vale pun turut melihat dan kemudian menyahut, "iya. Mereka pintar, tidak pernah rewel di malam hari."


Setelah cukup lama melihat sang buah hati, Riu meletakkan kembali ponsel Vale.


"Kita juga harus tidur, Sayang. Ini sudah larut malam," ucapnya.


Tak lama kemudian, Riu dan Vale sudah berbaring bersama di atas ranjang. Keduanya saling memeluk dan merapatkan tubuh satu sama lain. Tangan kekar Riu dengan penuh posesif memeluk erat pinggang Vale, sedangkan Vale sendiri mencari kenyamanan di dada bidang suami.


"Maaf ya, akhir-akhir ini aku tidak punya banyak waktu untuk kamu," bisik Riu.


Vale mengangguk pelan. "Aku paham. Banyak urusan yang harus kamu dahulukan. Semua juga kamu lakukan demi keluarga kita, kan?"


"Mmm."


Usai menggumam, Riu tak bicara lagi. Dia malah asyik menciumi puncak kepala Vale, sekaligus menghirup wangi shampoo yang melekat di rambut sang istri. Sangat menenangkan.


"Kamu dan anak-anak adalah prioritasku. Kemarin aku lalai, tapi ke depannya ... aku janji kejadian itu tidak akan terulang lagi," ujar Riu beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Iya. Aku percaya padamu, Sayang."


Bukan sekadar jawaban yang asal diungkap, melainkan memang itu yang Vale rasakan saat ini. Sedikit banyak ia sudah tahu apa terjadi pada Marc sekarang, dan dia yakin Riu bukanlah orang mudah disentuh. Kalaupun kelak ada bahaya yang membayang lagi, Vale percaya Riu bisa menjaganya.


"Tidurlah!"


"Kamu juga, Sayang."


"Mmm."


Lantas, tak ada lagi percakapan. Kenyamanan mengantar mereka pada alam mimpi yang tak kalah indah dengan cinta keduanya.


_______


"Jangan bicara tentang kematian, aku tidak suka. Asal kamu tahu ya, Vin, aku tidak akan pernah memaafkan kamu jika berani mati lebih dulu."


Suara wanita yang terdengar galak, rasanya memenuhi ruangan tempat Kelvin berada saat ini. Tak jelas dari mana sumber suara itu, tetapi yang pasti terus terdengar, seolah memaksa Kelvin untuk mencerna baik kalimat tersebut.


Selagi Kelvin masih kebingungan karena belum berhasil menemukan pemilik suara, tiba-tiba ada gambaran adegan yang begitu nyata dalam ingatannya.


Di sebuah taman yang indah, dia berjalan sambil bergandengan tangan dengan seorang perempuan. Lantas, mereka duduk di dekat hamparan bunga yang berwarna-warni. Canda tawa mewarnai suasana. Senyum si perempuan begitu tulus, sangat menenangkan untuk dipandang. Nyaris tak bisa membuatnya berpaling.


Entah bagaimana mulanya, perbincangan akhirnya tiba pada pembahasan kematian, hingga wajah perempuan berubah manyun. Lantas, berulang kali menegaskan bahwa tidak akan ada kata maaf jika dirinya berani mati lebih dulu.


Tak lama berselang, mata Kelvin terasa sakit. Lantas memejam karena makin lama rasa sakit merambat ke sekujur tubuh.


Setelah cukup lama memejam dan rasa sakit tak juga mereda, Kelvin berusaha membuka mata kembali. Namun, kali ini ia berada di tempat yang berbeda. Sebuah ruangan berwarna putih dengan aroma yang khas. Lantas samar-samar ia mendengar suara yang berbunyi secara berkala, namun tak jelas suara apa itu.


Sembari menahan sakit, Kelvin berusaha menyapukan pandangan ke sekeliling. Kemudian, tatapannya terpaku pada slang infus yang menancap di punggung tangan kirinya.


"Tuan Kelvin, Anda sudah siuman?"

__ADS_1


Kelvin hanya menanggapi dengan tatapan. Masih cukup rumit baginya untuk memahami apa yang terjadi. Yang ia tahu saat ini hanya satu, wanita yang berdiri di hadapannya ... bukanlah wanita yang bersamanya tadi.


Bersambung...


__ADS_2