Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Setangkai Mawar Merah


__ADS_3

"Sejak kapan kau ada di sini?"


Suara Riu terdengar dingin. Entah karena lelah atau justru rasa cemburu.


Lelaki yang tak lain adalah Sander, yang kala itu sedang berbicara dengan kepala pelayan, menoleh seketika. Lalu, bangkit sambil mengulas senyum lebar untuk menyambut sang paman.


"Kamu tahu kan, aku kurang suka melihatmu di rumahku! Terlebih jika aku tidak ada," kata Riu, masih dengan nada yang jauh dari kata ramah.


Namun, Sander tidak tersinggung. Dalam hatinya malah dia ingin tertawa. Paman yang begitu bijak dan berwibawa, nyatanya bisa menjadi budak cinta. Ya ... walau cara menunjukkannya dibuat elegan.


"Jangan salah paham, Paman. Aku ke sini bersama Thalia. Kurasa Paman sudah tahu bagaimana hubungan kami," ujar Sander. Dia menjelaskan tanpa mengurangi atau menambahi cerita.


Kenyataannya memang begitu. Dia diminta Thalia untuk mengantarnya ke rumah Riu, mengunjungi Vale dan si kembar. Kebetulan Sander sendiri sudah tiba kembali di Jakarta sejak kemarin.


Melihat pamannya sekadar mendengkus dan kemudian meninggalkannya tanpa sepatah kata pun, Sander hanya bisa menggeleng-geleng. Lantas dalam hatinya ia membatin, "Untungnya aku bertemu Thalia, jadi tak tertarik dengan Vale lagi. Andai perasaan itu masih ada, bisa-bisa aku mati muda di tangan Paman."


Sementara itu, Riu bergegas menuju kamar si kembar, karena menurut kepala pelayan Vale ada di sana. Ternyata benar, istrinya itu sedang bersama Thalia di kamar tersebut.


Senyuman dan pelukan hangat langsung Vale suguhkan manakala sang suami menghampirinya. Meski terbilang singkat, namun sudah cukup untuk mengobati rindu yang menggebu dalam seminggu kemarin.


Di dekat mereka, Thalia tersenyum sendiri. Ada dua kebahagiaan yang ia rasakan kala itu. Pertama, bahagia karena Vale sudah menemukan cinta sejati, dan luka hati akibat perbuatan Kelvin dulu tak lagi merajai. Yang kedua, bahagia karena membayangkan diri sendiri akan merasakan hal yang sama dalam waktu dekat.


"Mereka sangat lelap." Meski terbesit senyum di bibirnya, namun Riu juga menghela napas panjang. "Besok kuusahakan pulang lebih awal, agar bisa melihat mereka selagi masih terjaga," sambungnya.


Vale menanggapinya dengan tatapan penuh arti. Ya, dia tahu bagaimana perasaan Riu saat itu. Sedikit banyak pasti sedih karena tidak punya cukup waktu untuk mereka. Namun, keadaan juga belum bisa diajak kompromi.


Tak lama kemudian, Riu pamit untuk membersihkan diri. Lantas, Vale dan Thalia pun turut keluar dari kamar si kembar. Keduanya menuju ruang keluarga di mana Sander berada.


"Val, setelah ini kami pulang ya. Sudah malam," ucap Thalia setelah duduk bersebelahan dengan Sander.


"Tidak ikut makan dulu? Sudah disiapkan loh sama Bibi."


"Tidak usah, ini sudah malam. Lagian, kami juga masih kenyang," tolak Thalia, dan Sander pun setuju dengan penolakan itu.


Selain hari memang sudah malam dan dia harus mengantar kembali Thalia ke rumahnya, bukan pilihan bagus juga makan satu meja dengan Vale dan Riu. Cemburunya Riu bisa-bisa melayangkan segala sesuatu yang ada di meja makan. Mengerikan.


Beberapa menit kemudian, Riu menghampiri mereka dengan baju santainya. Thalia dan Sander tak membuang waktu lagi, keduanya langsung pamit undur diri.

__ADS_1


"Kenapa mereka buru-buru? Apa sudah lama di sini?" tanya Riu ketika Thali dan Sander sudah keluar dari rumahnya.


"Mereka datang sejak sore tadi, cukup lama di sini. Dan karena tahu kamu akan pulang, makanya mereka menunggu. Tadi ... aku juga sudah memberi tahu kamu kan, lewat pesan?"


Mendengar jawaban Vale, Riu langsung menggaruk tengkuk. Dia telah melewatkan informasi itu, dan baru ingat sekarang, setelah Vale mengulanginya lagi. Rupanya karena Riu terlalu fokus dengan rindunya sendiri, sehingga melupakan hal lain yang kurang berkaitan dengan sang istri.


"Jangan menyimpan cemburu lagi, dia sudah punya Thalia sekarang," sambung Vale diiringi dengan dekapan mesra di lengan Riu.


'Aku terlalu takut kehilangan kamu', sebuah pernyataan yang sekadar diucap dalam hati. Sedangkan yang ia tunjukkan secara nyata, hanyalah balasan peluk dan cium di puncak kepala.


Setelah itu, keduanya bersama-sama menuju meja makan. Menyantap hidangan sambil sesekali saling menyuap. Sungguh, hubungan yang sangat mesra dan manis. Terlebih lagi setelah keduanya masuk ke kamar. Pelukan dan tatapan yang syarat akan cinta bertabur di antara mereka. Menguntai nada terindah yang menghapus letih dan lelah. Sampai kemudian mengantar mereka pada alam mimpi yang damai.


_______


Jarum jam masih menunjukkan angka lima, cukup pagi bagi seorang Kelvin untuk terjaga saat ini. Mungkin ... terlalu lama di rumah sakit mulai membuatnya bosan, sehingga tidur malam pun tak bisa nyenyak. Atau mungkin ... skenario mimpinya tidak menarik, jadi dengan mudah ditinggalkan dan kembali ke alam nyata.


Sesaat setelah terbangun, Kelvin mengucek matanya yang sedikit sepat. Lantas, melayangkan pandangan ke sekeliling. Dan dia mendapati kursi di sudut ruangan kosong, tidak ada ibunya di sana.


"Sepagi ini, Mama ke mana?" gumam Kelvin seorang diri.


Biasanya, Annisa memang tak pernah absen menemaninya. Walau terkadang ia pinta untuk pulang karena terlihat penatnya, tetapi Annisa selalu menolak. Apa pun yang terjadi, wanita yang bergelar ibu itu senantiasa bermalam di rumah sakit.


Kelvin sedikit meringis ketika berusaha bangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa sakit, terkadang pandangan juga berputar dan berkunang-kunang. Selain itu, kaki dan tangan masih belum bisa digerakkan secara bebas. Walau kata dokter tidak ada kemungkinan lumpuh, tetapi butuh waktu untuk membuatnya kembali normal.


Setelah berhasil duduk sambil menyandarkan punggung, Kelvin mengembuskan napas panjang berulang kali. Lantas, menoleh ke samping dengan tujuan mengambil minum yang tersedia di atas meja, di samping ranjangnya.


Tepat pada saat itu, pandangan Kelvin terhenti pada setangkai mawar merah yang tergeletak di atas meja. Di bawahnya, terdapat kartu ucapan yang berhiaskan pita merah jambu.


"Bunga? Milik siapa?" gumam Kelvin.


Karena penasaran, ia pun mengambil bunga tersebut. Untungnya tidak terlalu jauh dari ranjang, jadi bisa ia jangkau meski ruang geraknya masih terbatas.


Beberapa detik lamanya, Kelvin memperhatikan bunga tersebut. Kelopaknya masih sangat segar, aroma pun semerbak wangi, menelusup ke dalam hidung. Sepertinya, bunga itu belum lama dipetik.


Kemudian, Kelvin membuka kartu ucapan yang disertakan.


'Semoga lekas sembuh, Kelvin', empat kata yang tertera di sana.

__ADS_1


"Jadi, ini memang untukku. Tapi ... dari siapa?"


Kelvin dibuat bingung. Pasalnya, tidak ada orang lain yang keluar masuk ke ruangan itu. Hanya ibunya seorang, dan terkadang Riu. Bahkan, pelayan di rumahnya pun tidak pernah masuk, sekadar berhenti di luar pintu.


"Apa mungkin Mama?" lanjut Kelvin.


Selagi Kelvin masih sibuk bertanya-tanya, pintu dibuka dari luar. Rupanya Annisa yang datang.


"Kelvin, kamu sudah bangun?"


Kelvin menoleh, dan langsung bertanya, "Apa ini dari Mama?"


Annisa mengernyitkan kening. Lalu mendekati Kelvin dan turut melihat bunga barusan.


"Kamu mendapatkan itu dari mana? Mama tidak pernah membelinya."


"Tadi aku menemukannya di meja. Ada kartu ucapan yang memang ditujukan untukku. Kalau bukan dari Mama, lalu dari siapa?"


Annisa kebingungan. Pasalnya, dia memang tidak tahu apa-apa soal bunga itu. Seingatnya, juga tidak ada orang lain yang masuk dam mungkin menaruh bunga itu.


"Apa semalam ada yang mengunjungiku?" tanya Kelvin.


Annisa dengan cepat menggeleng. "Tidak ada, hanya Sander. Itu pun hanya masuk sebentar karena kamu sudah tidur. Memang ke sininya larut malam, katanya habis mengantar Thalia ke rumah Vale. Tapi, Mama juga tahu dia tidak membawa apa-apa kok."


Kelvin berpikir sejenak, lantas kembali bertanya, "Barusan Mama dari mana?"


"Cuma keluar di koridor depan ini, sebentar, paling lima menitan. Itu pun Mama tidak pergi jauh. Hanya jalan bolak-balik untuk melemaskan pinggang. Kalau misalkan ada orang masuk, Mama pasti tahu."


Kelvin makin bingung dibuatnya.


"Tadi Mama juga tidak salah lihat, bunga itu sudah ada atau belum waktu Mama keluar. Cuma lihat kamu sekilas dan masih tidur, ya sudah, Mama langsung jalan begitu saja," sambung Annisa.


Kelvin terdiam lagi. Dia masih tak bisa menebak dari mana asal muasal bunga itu. Mungkinkah semalam ada orang yang menyelinap masuk? Namun, siapa?


Yang ia tempati kini adalah rumah sakit besar, keamanan sangat terjamin. Tidak mungkin ada sembarangan orang keluar masuk ke ruang pasien. Selain itu, saat ini tak ada wanita yang dekat dengannya.


"Tidak mungkin salah satu dari wanita yang pernah kukencani sewaktu di London, kan?" batin Kelvin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2