
"Kamu sudah selesai?" tanya Riu.
Dia tak hanya membalikkan badan, tetapi juga kembali ke setelan awal—sikap berwibawa dan wajah datar penuh kharisma.
Kelvin mengangguk dan mengulas senyum ragu. Dia masih bingung dengan perubahan sang paman yang begitu singkat.
Sementara Riu sendiri berusaha abai dengan tatapan Kelvin, yang ia yakini memikirkan sikapnya barusan. Ya, memang konyol. Namun, apa boleh buat, pengakuan Vale barusan benar-benar membahagiakan untuknya.
"Kerjaanmu ... sudah selesai, Paman?" tanya Kelvin, sengaja mengalihkan topik.
"Mmm, sudah." Jawaban yang tidak tegas, tampak jelas jika itu hanya dibuat-buat.
Namun, Kelvin jua tak berani membantah, apalagi menuding bahwa barusan memang sengaja menguping. Dia lebih memilih diam demi keamanan diri sendiri.
"Ya sudah, Paman, terima kasih untuk waktunya. Aku pamit pulang." Kelvin menyunggingkan senyum simpul. "Semoga Bibi lekas sembuh," lanjutnya.
"Ya, hati-hati," jawab Riu sekenanya. Pikiran masih belum terlalu fokus untuk menanggapi Kelvin. Bahkan, sampai lelaki itu berlalu meninggalkannya, kesadaran Riu masih terbagi dengan Vale.
Ahh, cinta terkadang memang selucu itu.
_______
Keesokan harinya, kesehatan Vale makin membaik. Bahkan, Riu sudah mulai bekerja seperti biasa—sebelum keduanya pergi bulan madu. Kendati begitu, Riu meninggalkan banyak pesan. Mulai dari Vale dilarang melakukan kegiatan yang menguras tenaga, sampai ponsel yang tidak boleh jauh darinya. Karena dalam senggangnya, Riu akan menghubungi Vale guna memantau kondisi sang istri.
__ADS_1
Mungkin terkesan berlebihan, tetapi Riu memang ingin yang terbaik untuk Vale. Cukup sekali kemarin dia ceroboh dan telat mengetahui kehamilan Vale, ke depannya tidak akan ada kesalahan lagi. Anak dan istrinya harus selamat dan baik-baik saja.
'Thalia akan ke sini, katanya ingin menjengukku. Sekarang masih dalam perjalanan.'
Pesan yang Vale kirim usai jam makan siang. Kala itu, Riu baru saja menemui klien. Namun, ia menyempatkan waktu untuk membalas walau hanya dengan kalimat singkat.
Sementara di kediaman keduanya, Vale menunggu Thalia sambil menyisir rambut yang agak berantakan akibat berbaring sedari tadi. Lantas, ia keluar kamar dan duduk di ruang keluarga.
Sekitar dua puluh menit menunggu, akhirnya Thalia tiba juga di sana. Wanita muda nan cantik itu langsung memeluk Vale dengan erat, tak lupa pula mengusap perut Vale yang masih rata.
"Baik-baik ya Dedek di sana, cepat tumbuh besar dan lahir dengan sehat, Tante sudah tak sabar untuk gendong kamu," ucap Thalia dengan girangnya.
"Masih lama, tujuh bulan lebih. Tapi, terima kasih banyak untuk doanya," sahut Vale sembari tersenyum. Tetap cantik dan menawan meski tak ada riasan di wajahnya.
"Waktu dengar kabar kamu pingsan kemarin, aku khawatir banget loh, Val. Tapi, mendadak bahagia pas dapat kabar lagi kalau ternyata kamu hamil. Akhirnya ... kamu bakal jadi ibu." Thalia terus bicara, sembari mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Ngomong-ngomong bagaimana reaksi mantanmu? Secara ... kamu sekarang mau kasih dia sepupu," ucap Thalia lagi dengan mulut yang penuh.
Vale tersenyum tipis, "Sempat ke sini semalam. Kayaknya ... agak kecewa. Tapi, harusnya tidak apa-apa lah. Dia kan tak pernah kekurangan wanita."
Thalia mencebik, jelas sekali jika dia meremehkan Kelvin.
"Ya ... mungkin memang banyak sih. Tapi, kalau bisanya cuma naik ranjang doang, buat apa? Memangnya masa depan hanya seputar selang-kangan?" ucapnya.
__ADS_1
Vale tertawa. Dalam masalahnya dengan Kelvin dulu, Thalia adalah salah satu orang yang ikut marah. Tak heran jika sekarang dia masih membenci lelaki itu.
Setelah membahas Kelvin, kedua sahabat itu mengobrol ringan. Sesekali melontarkan candaan hingga tertawa bersama. Sampai akhirnya, Vale menyadari satu hal yang berubah dari Thalia. Ya, Thalia kerap kali menggenggam gelang jam yang melingkar di lengan kirinya. Setiap kali melakukan itu, pipinya bersemu merah. Mau tidak mau Vale menaruh curiga, jangan-jangan ... gelang jam itu dari seseorang yang spesial.
"Tha, kamu sudah ada pacar? Mmm, minimal gebetan?" tanya Vale, tak mau lagi memendam rasa penasarannya.
Thali terlihat salah tingkah, "Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?"
"Sejak tadi kamu menggenggam gelangmu, dan ... kayak malu-malu gitu."
"Kelihatan banget ya?" Thalia tersenyum lebar. Sejak tadi ia sudah gatal untuk berbagi hal tersebut. Namun, masih ada sedikit rasa yang membuatnya bimbang.
"Jadi benar kamu sudah punya pacar?" tanya Vale dengan sorot mata yang berbinar. Ia pun sudah tak sabar melihat sahabatnya duduk di pelaminan.
Melihat Thalia mengangguk, Vale lebih antusias lagi. Dia menghujani Thalia dengan bermacam pertanyaan, yang semuanya seputar identitas kekasih Thalia.
"Nanti kalau sudah tiba saatnya, aku akan mengenalkan dia ke kamu. Sekarang, kami masih berhubungan jarak jauh, dia tinggal di luar negeri," ujar Thalia. Nyatanya, dia belum cukup nyali untuk mengungkap identitas lelaki yang kini resmi menjadi kekasihnya.
"Ya, soal kenalan nanti-nanti tak masalah. Sekarang cukup kasih tahu nama dan fotonya. Aku penasaran tahu," sahut Vale.
"Namanya___" Thalia tiba-tiba mengambil ponselnya. "Eh, sebentar ya, ada telfon," sambungnya.
Vale terdiam di tempatnya. Gerak-gerik Thalia barusan terlihat aneh menurutnya. Seolah-olah wanita itu sengaja menghindari pertanyaan yang dia ajukan.
__ADS_1
"Thalia seperti enggan menyebutkan nama kekasihnya. Apa mungkin ... lelaki itu bukan orang asing bagiku?" gumam Vale.
Bersambung...