Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Kejujuran yang Membingungkan


__ADS_3

Kebingungan Kelvin pada pagi itu, berlanjut sampe dua hari setelahnya. Sama seperti sebelumnya, kemarin dan hari ini dia kembali mendapat kiriman setangkai mawar merah, lengkap dengan kartu ucapan.


"Apa semalam ada yang masuk ke ruangan ini?" tanya Kelvin ketika dokter datang dan mengganti cairan infusnya.


Selama ini, memang dokter itu yang bertanggung jawab atas dirinya, yang otomatis sering keluar masuk ruangannya.


"Selain ibu Anda, sepertinya tidak ada orang lain lagi."


Jawaban dokter sangat tidak memuaskan, karena lagi-lagi Kelvin kehilangan titik terang.


Awalnya, dia berharap dokter tersebut tahu siapa gerangan yang menyelinap dan menaruh bunga untuknya. Karena jika diamati, sepertinya orang itu sudah paham dengan seluk-beluk keadaan. Buktinya, dia bisa menaruh bunga tanpa diketahui oleh siapa pun. Padahal, Annisa hampir setiap saat berjaga di sana.


"Tapi ... setiap pagi selalu ada bunga ini. Jika tidak dibawa orang, mau dari mana asalnya?" sahut Kelvin sambil mencari kebohongan di mata dokter. Namun, ia tak menemukan itu.


Dokter itu tersenyum. "Mungkin itu dari ibu Anda. Sebagai bentuk penyemangat untuk kesembuhan Anda."


Kelvin melengos. Sangat tidak masuk akal pikirnya. Akan tetapi, ia juga tidak tahu masuk akalnya bagaimana, karena tak mungkin dokter itu sendiri pelakunya. Dia sudah menikah, bahkan anaknya sudah besar, kurang kerjaan sekali jika memberi bunga untuk pasien.


Tanpa bicara apa pun lagi, Kelvin mengalihkan pandangannya pada seorang perawat yang membantu sang dokter. Memang masih muda, paras pun cantik, dan kelihatannya ... belum menikah—tidak ada cincin di jari manis. Namun, agak sulit juga jika mencurigai dia. Pasalnya, hanya sesekali Kelvin melihatnya. Terkadang, perawat lain yang datang bersama dokter. Apalagi jika malam hari, tak pernah sekali pun Kelvin melihat wajah perawat yang satu ini.


"Kalau Anda ... apakah tahu siapa yang menaruh bunga ini?"


Meski tak yakin mendapat jawaban yang memuaskan, tetapi Kelvin tetap nekat bertanya.


"Maaf, Tuan, saya juga tidak tahu. Minggu-minggu ini saya tidak ada shift malam."


Kelvin hanya menanggapi dengan gumaman pelan. Sedikit merasa kesal karena sampai tiga kali mendapatkannya, namun belum tahu siapa pengirimnya. Orang yang punya niat lain atau sekadar iseng dan mencari perhatian. Sejauh ini masih sulit untuk ditebak.


Sialnya, setelah tiga kali berturut-turut itu tak ada lagi drama mawar merah. Padahal, Annisa sudah terjaga semalaman—sampai pagi, hanya demi memergoki orang yang menaruh bunga tersebut.

__ADS_1


Sekarang, ada dua kemungkinan yang belum diketahui mana yang paling benar. Pertama, sang pengirim sudah tahu dengan rencana Annisa. Yang kedua ... pengirim sudah tidak ada di rumah sakit lagi.


"Aku penasaran dengan kamu. Aku harap, kamu bersedia menemuiku nanti," batin Kelvin sembari menatap salah satu kelopak mawar yang mulai layu.


______


Setelah beberapa hari jadwal padat, dari pagi sampai malam, hari itu Riu bisa pulang lebih awal. Usai mengunjungi kantor Astoria dan Jaya Sakti, Riu mulai bernapas lega. Tidak ada masalah yang serius pada perusahaan yang sudah diakuisisi itu. Di sisi lain, kerja sama dengan Jester Corporation juga berjalan lancar, pun dengan pengelolaan aset yang baru ia terima dari Zack. Benar-benar sesuai dengan harapan.


Karena tak ada lagi beban dan pekerjaan yang begitu menekan—setidaknya dalam waktu dekat, Riu beranjak dari kursi kerja sekitar jam setengah empat. Lantas, dia mampir terlebih dahulu di rumah utama keluarga Brox, guna mengunjungi Jason yang masih setia dengan kursi rodanya.


"Papa barusan masuk kamar. Kamu mau menyusul ke sana atau Papa saja yang kuajak kemari?" sambut Camelia, yang memang masih berada di Indonesia. Hanya Sander yang bolak-balik ke Perancis dan mengurusi pekerjaan di sana.


"Biar aku saja yang ke sana."


Usai mendengar jawaban Riu, Camelia turut bangkit dan mengekori langkah adiknya itu. Mereka menuju kamar Jason yang tak jauh dari ruang keluarga.


"Papa masih tidak menyangka, Nak, hubunganmu dengan Zack akan sebaik ini. Kamu benar-benar hebat," ujar Jason setelah berbasa-basi dengan menanyakan kabar.


Menanggapi pujian ayahnya, Riu sekadar mengulas senyum tipis seraya berucap, "Berkat Papa."


Mendengar itu, Jason tertawa sumbang. Memang berkat ketidakadilan darinya Riu bisa dekat dengan Zack. Andai dari dulu dia tidak berat sebelah, Riu tidak mungkin mengenal keluarga Dilara, juga tidak mungkin memiliki kepribadian yang seperti sekarang. Ahh, sudahlah. Semua telah berlalu.


"Selain melihat kondisi Papa, aku ke sini juga untuk membicarakan sedikit hal," ujar Riu sesaat kemudian.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Rumah Kak Annisa di London."


Jadon menarik napas panjang. Lalu berkata, "Jangan dipikirkan lagi! Biarlah dimakan Theo. Setidaknya sekarang Theo sudah mendekam di penjara, tidak akan lagi mengusik kakakmu. Lagi pula ... sekarang kakakmu juga sudah bekerja di sini. Begitu pula dengan Kelvin. Jadi, tak seberapa penting lagi rumah di sana. Sudah tidak ada, ya biarlah! Tak perlu dipikirkan terlalu keras."

__ADS_1


"Sebenarnya ... rumah itu sudah menjadi milikku. Aku membelinya ketika dijual oleh Theo. Tapi, aku melakukan transaksi atas bantuan orang lain. Jadi, Theo tidak tahu jika akulah pembeli aslinya," terang Riu.


Meski awalnya ingin menyembunyikan itu semua, namun akhirnya ia ungkap juga. Ada sesuatu hal yang membuatnya harus mengatakan secara gamblang. Namun sebelum itu terjadi, Riu berterus terang dulu pada Jason. Sebagai satu-satunya orang tua yang patut dihormati.


Sementara itu, di hadapan Riu Jason sangat terkejut. Matanya sampai membelalak karena nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Rumah yang dia pikir sudah hilang dan menjadi milik orang lain, nyatanya ... justru dimiliki oleh Riu. Ya ... putranya itu benar-benar di luar dugaan.


"Aku melakukan itu karena suatu alasan. Dan sekarang aku berterus terang pada Papa ... juga karena ada alasan," sambung Riu karena Jason belum jua menyahut.


Akan tetapi, penuturan itu justru membuat Jason makin menyimpan banyak pertanyaan.


"Boleh Papa tahu alasanmu apa?" tanya Jason sesaat kemudian.


"Istriku." Singkat, padat, dan tidak jelas.


"Istrimu?"


"Iya." Riu menjawab serius sambil mengangguk.


"Apa kakakmu sudah tahu ini?" Jason mengajukan pertanyaan lain. Yang dia harap bisa mengisi puzzle yang masih acak di kepalanya.


"Mungkin secepatnya."


Sebuah jawaban yang membuat kepala kian pening.


"Riu, Papa masih tidak mengerti dengan maksudmu. Apa hubungannya antara masalah ini dengan Vale dan juga kakakmu? Papa sama sekali tidak bisa mengira-ngira. Tolong kamu jelaskan lebih rinci lagi!" sahut Jason, sangat tidak sabar untuk mengetahui semuanya.


Namun, rasa penasaran Jason tak juga terjawab karena Riu masih betah dengan diamnya. Malah, dia hanya mengulas senyum simpul yang dibarengi dengan tatapan penuh arti.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2