
"Nyonya dan Tuan Besar bertengkar. Nyonya sampai mau bunuh diri, Tuan."
Sebuah pernyataan yang membuat Sander langsung berlari meninggalkan kamarnya. Bahkan ketika menuruni tangga pun, langkah kakinya tetap cepat. Ia mengabaikan keselamatannya sendiri karena mengkhawatirkan kondisi ibunda.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Sander untuk tiba di kamar orang tuanya. Pintu yang terbuka lebar memudahkan Sander untuk mengetahui apa yang terjadi.
Vir tampak mengemasi bajunya ke dalam koper, sedangkan Camelia menangis histeris sambil menggenggam pisau yang mengarah tepat ke perutnya—antara nekat dan menggertak.
"Kalau kamu nekat pergi, selamanya tidak akan melihatku lagi, Mas!" teriak Camelia.
"Apa peduliku?" Vir menyahut datar, tanpa menoleh. Dia terus fokus mengemasi baju-bajunya.
Sebelum ibunya menjawab lagi, Sander lebih dulu masuk dan mendekati ayahnya. Tatapan tajam ia layangkan, berikut dengan pertanyaan berintonasi tinggi.
"Apa yang Papa lakukan?"
Kali ini Vir mendongak, menatap putra semata wayang yang selalu membangkang.
"Kami akan cerai, dan aku akan pergi dari sini," ucapnya tanpa basa-basi. Pikir Vir, untuk apa? Sander juga tidak bisa diandalkan, jadi biar saja dia tinggal bersama Camelia.
"Cerai? Kenapa?" tanya Sander dengan nada dingin.
"Sudah tidak cocok."
"Tidak cocok karena Mama sudah tidak kaya lagi. Iya, kan?" tebak Sander tanpa tedeng aling-aling.
"Apa maksudmu?"
Sander tersenyum miring, "Kenapa? Papa mau berkilah? Heh, percuma. Aku sudah paham dengan Papa. Selama ini cinta Papa karena berdasarkan harta, kan? Sekarang Mama tidak kaya lagi, dan Kak Annisa yang biasa mendukung kita sekarang juga sudah hancur. Itu kan yang membuat Papa tidak cocok lagi dengan Mama?"
Emosi Vir bangkit seketika. Meski semua yang dikatakan Sander benar, tetapi dia tak suka mendengarnya.
"Jaga ucapanmu! Jangan sembarangan menuduh Papa!"
__ADS_1
"Aku tidak sembarangan menuduh, memang begitu kok Papa." Sander menjawab dengan berani. Sesekali dia juga melirik ibunya yang masih menangis, tetapi tidak sehisteris tadi.
"Terserah apa katamu. Kamu saja dengan ibumu ... tidak berguna!" Vir memicing ke arah Sander, sekilas saja. Lalu, kembali memasukkan beberapa helai baju yang masih tersisa di atas ranjang.
"Terserah Papa mau bicara apa. Mau pergi dan menceraikan Mama juga terserah. Tapi ... satu hal yang harus Papa ingat, sekali Papa memutuskan untuk meninggalkan Mama, jangan harap bisa kembali lagi," ujar Sander dengan tegas.
Vir tak peduli dengan ucapan anaknya. Menurut dia, hidup akan lebih baik tanpa anak dan istri. Karena nantinya, dia bisa mencari pendamping yang bisa diandalkan.
Namun, Camelia sedikit pun tak setuju dengan ucapan Sander. Di dalam hatinya, rasa cinta untuk Vir masih utuh seperti dulu. Dan dia tak mau kehilangan lelaki itu.
"Jangan bicara seperti itu, Sander! Kamu harus menahan papamu! Jangan biarkan dia pergi!" teriak Camelia di sela-sela sisa tangisnya.
Sander beralih menatap ibunya, yang tampak mengenaskan karena mengemis cinta dari lelaki tak tahu diri.
"Sander___"
"Sudah, Ma. Jangan menangis lagi! Papa tidak pantas mendapatkan air mata dari Mama," pungkas Sander sembari mendekati ibunya.
Namun, belum sempat ia menyentuh tubuh sang ibunda, tubuhnya sendiri yang lebih dulu ditarik oleh Vir. Dalam hitungan detik, tamparan keras telah mendarat di pipi Sander.
Tanpa memedulikan rasa panas dan nyeri di pipi, Sander menatap ayahnya dengan nyalang.
"Ini, kan, hasil didikan Papa?"
"Kamu akan menyesal, Sander!" bentak Vir seraya menyambar koper miliknya. Lantas, berlalu begitu saja meninggalkan anak dan istrinya.
Selama ini telanjur memuja harta, hingga hatinya sampai buta dan tega mengorbankan keluarga. Padahal, dia belum sampai kekurangan apalagi kelaparan. Memang ... jiwa serakah sudah merasuk dalam dirinya.
"Mas! Jangan pergi, Mas! Mas! Mas!" Camelia terus saja berteriak. Namun, Vir tak acuh. Ia tetap pergi seolah tak mendengar panggilan barusan.
Dulu dia sudah rela berjauhan dengan keluarga, demi mengikuti Camelia tinggal di Perancis. Ternyata sekarang, perusahaan yang ia perjuangkan bukan menjadi miliknya lagi. Vir merasa rugi waktu dan tenaga, makanya sekarang begitu tega.
"Mas!"
__ADS_1
"Ma, sudah. Kita akan baik-baik saja tanpa Papa," ujar Sander sambil merengkuh tubuh ibunya dan menenangkannya.
"Tapi, aku mencintai papamu. Harusnya kamu membantu Mama menahan dia, bukan malah melawan dan membuat dia marah."
"Aku hanya tidak mau harga diri Mama diinjak-injak oleh Papa. Dari pada menyalahkan aku, seharusnya Mama sekarang sadar bagaimana sifat Papa yang sebenarnya. Cinta yang berdasarkan harta, cinta yang tidak seharusnya membuat Mama sampai tega menyakiti Paman!" kata Sander dengan lebih tegas.
Camelia terdiam. Cinta terlalu menggebu untuk sang suami, hingga akhirnya rasa kehilangan pun tak bisa dielakkan lagi. Ibarat kata, hidup tanpa Vir seperti siang tanpa matahari—nyaris mati.
"Lepaskan ini, Ma. Dunia masih indah untuk ditinggalkan," ucap Sander sambil melepaskan pisau yang ada dalam genggaman Camelia.
Namun, wanita itu masih diam.
"Percaya padaku, Ma. Kita akan baik-baik saja tanpa Papa." Sander kembali bicara. Meski di satu sisi merasa sedih karena ditinggalkan sang ayah, tetapi di sisi lain lega jua karena dengan begini ibunya akan paham dengan salah dan benar.
Namun, tanpa disadari Sander, perasaan Camelia hancur tak karuan. Kendati sadar bahwa Vir memang tidak baik—bahkan dari lama, tetapi cinta telah menutup segalanya. Menuntut logika agar mengerti dan mengikuti alur yang terkadang pahit, asal tetap bersama Vir.
"Tapi pada akhirnya, aku tetap ditinggalkan," batin Camelia.
_________
'Sesuai dengan prediksi Anda, Tuan.'
Di sela-sela pekerjaan yang menggunung, Riu menyandarkan punggung sejenak dan melihat satu pesan dari orang kepercayaannya. Sebuah kabar yang membuatnya mengulum senyum miring.
'Lakukan sesuai rencana awal.'
'Baik, Tuan.'
Usai membaca balasan dari orang tersebut, Riu kembali meletakkan ponselnya. Satu lagi rencana tersusun rapi dalam otaknya.
Untuk saat ini dan sampai kapanpun nanti, siapa saja yang berani mencari masalah dengannya, maka harus berani melihat sisi lain dalam dirinya.
"Heh, sehebat apa kamu?" gumam Riu sambil membayangkan sosok seseorang yang akan menjadi target berikutnya.
__ADS_1
Bersambung...