Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Setelah melakukan persiapan selama satu bulan penuh, akhirnya tiba juga pada hari di mana Vale dan Riu melangsungkan pesta pernikahan. Acara tersebut digelar di ballroom Hotel Highland—hotel terbaik di Ibu Kota. Tamu yang datang mencapai seribu lebih, dengan dominan orang-orang kalangan atas. Sebagian rekan bisnis Riu dan sebagian lagi teman Vale. Kebanyakan dari mereka ingin menyaksikan secara langsung kesembuhan Riu, yang selama ini hanya didengar kabarnya.


Selain rekan dan teman, kakak dan keponakan Riu pun turut hadir di sana. Bukan hanya Annisa dan Kelvin yang sekarang memang tinggal di rumah Jason yang datang, melainkan juga Camelia dan Sander yang baru tiba kemarin lusa. Kendati dalam hati masih tak rela melihat pamannya bahagia dengan Vale, tetapi ia hadir jua. Karena bagaimanapun, Riu adalah pamannya.


Kala itu, tepat pukul 08.00 malam, Riu dan Vale bersama-sama memasuki ballroom. Kecantikan Vale mencuri perhatian semua pasang mata yang ada di sana. Dengan mengenakan gaun putih panjang yang berkilauan, juga rambut disanggul rapi dengan hiasan mahkota bertahtakan batu permata, paras cantik Vale benar-benar terpancar sempurna. Dia bak seorang putri yang bersanding di sisi pangeran.


Ya, Riu sangat layak disebut pangeran. Selain perawakannya yang ideal, wajahnya juga menjadi dambaan kebanyakan kaum hawa. Dengan mengenakan kemeja putih dan jas hitam, Riu tampak tampan dan menyerupai pangeran kerajaan.


"Mereka sangat serasi, laki-lakinya tampan dan wanitanya cantik," ucap beberapa orang yang menatap Riu dan Vale, dari pertama kali masuk sampai berhenti di pelaminan.


Meski tidak ada lagi sesi akad yang sakral, tetapi nyatanya pesta itu tetap berkesan. Terlebih karena Riu tampil layaknya laki-laki normal, bukan menggunakan kursi roda seperti biasanya.


Akan tetapi, ada jua yang malah menunduk dan membatin keras bahwa mereka tidak pantas bersama. Siapa lagi kalau bukan Kelvin dan Sander. Kedua lelaki itu terbakar cemburu ketika menatap Riu dan Vale berdampingan di pelaminan. Riu dengan tatapan penuh cinta, sementara Vale dengan senyum manjanya.


"Dulu senyuman itu menjadi milikku, tapi sekarang ... justru menjadi milik Paman. Hah, kebetulan macam apa ini," batin Kelvin sambil menyulut sebatang rokok, guna menenangkan perasaan yang makin berserakan.


Sementara Sander, apa yang dia rasa juga tak jauh beda apa yang dirasakan Kelvin. Walau sebelumnya sudah mendapat peringatan dari Riu, tetapi hatinya tetap saja terpaut pada Vale.


"Andai kita bisa bertemu lebih awal, mungkin ... ada akhir yang berbeda untuk kita." Begitulah batin Sander.


Di tempat yang tak jauh dari Kelvin dan Sander, Annisa dan Camelia menatap adik bungsu mereka dengan raut yang berbalut sesal. Bagaimana tidak, adik yang dulu mereka khianati, bahkan sampai dirampas masa depannya, sekarang justru menjadi satu-satunya yang bahagia. Sementara mereka sendiri, pernikahannya malah kandas. Laki-laki yang disanjung dan dipuja, nyatanya sekadar mencintai harta.


Beruntunglah kini Theo sudah mendekam di penjara, berikut dengan selingkuhan yang ia banggakan. Namun sayang, hal yang sama tidak terjadi pada Vir. Semenjak pergi dari rumah, lelaki itu hilang kabar. Bahkan, sampai satu bulan ini belum ada kejelasan perceraian darinya. Entahlah sedang apa dan di mana sekarang.


"Kita terlalu meremehkan dia," ucap Camelia saat Riu memberikan sambutan di depan sana.

__ADS_1


Semua mata tertuju dengan tatapan kagum, menggambarkan bahwa kedudukan Riu saat ini tidaklah sederhana.


"Kamu benar. Seharusnya dari awal kita tidak mencari gara-gara dengannya," jawab Annisa, menyiratkan penyesalan yang cukup besar.


Semua tak lepas dari ingatannya terhadap rumah yang kini entah siapa pemiliknya.


Kala itu, Theo menjualnya untuk menutupi kerugian di perusahaan Juliet—meski akhirnya sia-sia. Dan sampai kini Annisa tidak tahu siapa yang membeli rumah itu.


"Andai hubungan kami baik, aku pasti bisa meminta bantuannya untuk mencari tahu di mana Vir sekarang." Camelia menghela napas panjang, menyesali sesuatu yang entah bisa atau tidak diperbaiki.


Lantas, sesal itu kian menjadi ketika menyaksikan betapa antusiasnya para tamu dalam mengucapkan selamat untuk Riu dan Vale. Makin jelas saja bahwa kini Riu berada jauh di atas mereka.


Setelah cukup lama menyambut ucapan dari para tamu, Riu menghampiri Sander. Untuk pertama kalinya dia bertemu keponakannya itu, setelah kembali ke Perancis waktu itu.


"Terima kasih." Riu menjawab singkat.


Setelah itu, tak ada lagi perbincangan di antara mereka. Hingga akhirnya, Sander pamit mengambil minuman. Namun, baru dua langkah ia berjalan, Riu membuka suara yang sontak membuat Sander menghentikan langkahnya.


"Tidak usah mencari tahu tentangnya lagi. Dia tidak akan kembali, apalagi mengusik kehidupanmu dengan ibumu."


Sander menoleh cepat, "Kamu tahu sesuatu, Paman?"


"Menurutmu?"


Sander terkejut. Masalah antara ayah dengan ibunya hanya Annisa yang tahu, bahkan Jason pun belum diberi tahu. Annisa pula diwanti-wanti agar tidak memberi tahu siapa pun. Lantas sekarang ... mengapa Riu malah sudah tahu? Apakah hilangnya Vir ada hubungannya dengan dia?

__ADS_1


"Paman!"


"Hmmm."


"Kamu tahu dari mana soal Mama dan Papa?" tanya Sander.


"Tidak penting."


"Paman ... apa kamu tahu sekarang Papa ada di mana?" Sander bertanya lagi dan ditanggapi dengan anggukan.


"Apa kamu terlibat dalam masalah ini?"


Kali ini bukan anggukan yang Riu berikan, melainkan senyum tipis yang sulit diartikan.


Belum sempat Sander bertanya lebih rinci, Riu sudah berbalik dan meninggalkan Sander dalam kebingungannya.


Sampai kemudian, pikiran Sander terpaksa buyar karena ada seseorang yang menabrak. Tidak hanya membuat tubuhnya terhuyung, tetapi juga membuat basah kemejanya, karena setengah gelas minuman tumpah tepat di dadanya.


"Maaf, aku tidak sengaja."


Sander menoleh dan menatap wanita di hadapannya. Alih-alih marah, Sander malah terkunci oleh sepasang mata yang teramat memikat.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2