
Rumah megah khas Eropa dengan warna clay. Berikut dengan halaman yang tidak terlalu luas, tetapi ditata dengan apik. Itulah tempat yang Riu dan Vale pijak saat ini. Usai memasuki pintu gerbang yang mewah jua, keduanya disambut oleh gemerisik angin yang menerpa bunga-bunga di halaman tersebut. Warna-warninya yang memesona, lagi-lagi mengingatkan Vale pada sesuatu yang berhubungan dengan masa silam.
"Kamu kenapa mengajakku ke sini? Dan ... siapa pelayan tadi? Kenapa begitu hormat padamu?" Vale memberondong banyak pertanyaan, sembari matanya melirik pelayan wanita yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah—karena Riu memerintahnya untuk segera masuk dan menyiapkan minuman.
"Dia pelayanku, Sayang, tentu saja hormat padaku." Riu tersenyum manis, seolah perkataannya itu bukanlah sesuatu yang membingungkan.
Namun, di sisi lain, Vale makin tak mengerti dibuatnya. Butuh waktu beberapa saat baginya untuk mencerna semua ucapan Riu. Sampai kemudian, ia menemukan sedikit titik terang dari apa yang terjadi sekarang.
"Jika dia pelayanmu, berarti rumah ini milikmu?" tebak Vale.
Riu mengangguk.
Vale mulai mengerti sekarang. Rumah yang tak lain adalah milik Kelvin, yang kemudian direbut Theo dan dijual untuk menutupi kekurangan di perusahaan Juliet, ternyata ... pembelinya tak lain dan tak bukan adalah Riu sendiri. Namun, Vale yakin, Riu tidak terang-terangan dalam melakukannya. Pasti ada seseorang yang menjadi perantara dalam transaksi tersebut.
"Apa tujuanmu melakukan ini? Maksudku ... kenapa malah mengatakan bahwa ini adalah kejutan untukku?" Vale menatap lekat tepat ke mata Riu. "Aku sudah melupakan semua masa lalu, baik itu kebencian, kekecewaan, ataupun dendam. Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama kamu, Sayang," sambungnya.
"Aku punya penjelasan panjang. Kita masuk dan minum dulu, sekalian beristirahat karena kamu juga pasti lelah. Setelah itu ... aku akan menjawab semua pertanyaan kamu barusan. Ya?" Riu bicara seraya mengusap mesra kepala Vale. Lantas, merangkul tubuhnya dan mengajaknya memasuki rumah tersebut.
Meski belum terjawab semua rasa penasarannya, tetapi Vale menurut. Dia mau bersabar sebentar, karena sesungguhnya ... ia pun memang lelah karena perjalanan yang cukup panjang.
__ADS_1
Bahkan, Vale tetap diam tanpa protes ketika Riu mengajaknya ke lantai dua. Tepatnya ke dalam kamar yang paling luas di antara kamar yang lain. Entah benar atau salah, Vale merasa itu adalah kamar Kelvin dulu. Karena penataannya sama persis dengan ruangan yang dulu sering ia lihat sewaktu video call dengan Kelvin.
"Duduklah!" Riu membimbing Vale untuk duduk di kursi yang ada di dekat jendela. Selain meletakkan minuman ke atas meja kaca di hadapan Vale, Riu juga menyingkap gorden yang menjuntai sampai ke lantai. Lantas, pemandangan luar pun tampak jelas dari tempat mereka duduk saat ini.
"Kamu boleh menganggapku kekanak-kanakan, boleh menganggapku egois, berlebihan atau apalah itu. Tapi yang jelas, aku melakukan ini karena sangat mencintai kamu." Riu membuka pembicaraan. Masih abu-abu, namun Vale bisa menerka bahwa apa yang akan dibahas pasti berhubungan dengan masa lalunya—Kelvin.
Sebelum Vale mengucap satu kata pun, Riu bangkit dari duduknya. Lalu melangkah ke belakang Vale dan merengkuh pinggangnya dengan erat.
"Terus terang ... aku cemburu. Aku sering terbayang kisah cintamu dengan keponakanku sendiri. Mungkin ... ada banyak kenangan di rumah ini, juga di kota ini. Aku tidak menyalahkan kamu, dia hadir sebelum ada aku dalam hidupku. Aku juga tak bisa memutar waktu dan menemuimu lebih awal. Jadi, yang bisa kulakukan hanya satu, mengganti kenangan itu dengan kenangan kita. Aku ingin menjadi tokoh utama dalam ingatanmu yang berkaitan dengan kota ini," ujar Riu dengan panjang lebar.
Vale mendongak sambil mengulas senyum tipis. Tak menyangka jika lelaki yang terkesan dingin, kejam, dan selalu berhati-hati itu nyatanya bisa menjadi budak cinta. Terlebih pada dirinya—wanita yang sebenarnya tidak memiliki kelebihan yang terlalu menonjol.
Senyuman Vale makin lebar, pun dengan genggaman di tangan Riu, kian mengerat.
"Sebenarnya kamu tidak perlu melakukan itu. Meski cukup lama menjalin hubungan dengannya, tapi aku tidak pernah memasuki rumah ini. Jadi, tidak ada kenangan apa pun di sini. Dan untuk kenangan di kota ini, aku sudah melupakannya. Menikah dengan kamu, aku tak pernah peduli lagi dengan apa pun yang berkaitan dengannya. Termasuk kenangan lalu."
Mendengar penuturan Vale, Riu bersorak dalam hatinya. Andai tidak malu, mungkin dia sudah jingkrak-jingkrak detik itu juga. Beruntungnya, refleks tubuh masih bisa dikendalikan.
"Itu bagus. Tapi, lebih bagus lagi jika kita juga mengukir kenangan di sini. Jadi, saat kamu mengingat kuliahmu, kamu juga mengingat manisnya kebersamaan kita," ujar Riu dengan sedikit gugup. Tak mudah baginya menutupi kegirangan yang begitu besar.
__ADS_1
Vale mengangguk-angguk, "Ya, kamu benar. Mmm ... tapi sepertinya, ada satu hal yang harus kubeberkan dengan gamblang."
"Apa?"
"Meski empat tahun aku bersama dia, tapi tidak ada sesuatu yang terjadi. Kami hanya pernah bergandengan tangan dan berpelukan biasa. Selebihnya ... kamulah yang pertama mendapatkan itu dariku."
Riu tak berkata-kata lagi, sekadar menghujani kening Vale dengan ciuman. Sebagai bentuk kebahagiaan yang tak bisa digambarkan dengan ucapan.
"Sayang, kalau begitu kamu juga harus tahu tentang alasanku yang lain," kata Riu.
"Masih ada lagi?"
"Hmm." Riu mengangguk. "Aku membeli ini sebagai bukti bahwa aku bukan lelaki lemah. Aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku ini cukup hebat, sehingga kamu yakin berdiri di sampingku. Kamu bisa merasa aman dan nyaman," sambungnya.
"Aku selalu yakin dengan kamu. Sedikit pun tidak pernah ragu. Dalam hidupku, memilih menikah denganmu adalah keputusan terbaik. Meski itu kulakukan dengan cara dadakan. Kamu jangan khawatir, aku tidak bimbang menghabiskan sisa usiaku bersama kamu," sahut Vale dengan sungguh-sungguh.
"Dan aku janji, tidak akan membuat kamu menyesali keputusan ini." Satu kecupan mesra kembali mendarat di kening Vale. Membuat sang empunya mengukir senyuman paling tulus di bibir ranumnya.
Bersambung...
__ADS_1