Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Marc


__ADS_3

Normalnya, malam adalah waktu untuk beristirahat. Meninggalkan sejenak segala penat yang berhubungan dengan duniawi. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Riu. Ia belum jua merebahkan tubuh dan memejam barang sesaat meski kini malam sudah beranjak hingga hampir dini hari. Padahal, esok pagi dia sudah dituntut bangun awal karena ada penerbangan ke Singapura.


Akhir-akhir ini, ia nyaris tak ada waktu untuk menikmati hidup. Seperti malam ini, ia pulang dari rumah sakit dalam keadaan lelah—lelah fisik dan juga lelah pikiran. Lantas ketika tiba di rumah, sang istri sudah terlelap. Tak ada senyuman atau pelukan yang menyambut, yang bisa mengurangi sedikit rasa lelah. Namun, Riu juga tak bisa menuntut banyak. Vale sedang hamil besar, butuh istirahat yang cukup.


"Semoga urusan ini cepat berlalu, Sayang, agar aku bisa pulang lebih awal dan punya waktu lebih untuk kamu. Maaf ya," ujar Riu sembari mencium mesra kening Vale.


Setelah sesaat berpikir, ia justru merasa bersalah. Masa-masa kehamilan yang harusnya mendapat banyak dukungan, malah ia nomor duakan karena kesibukan lain.


Usai menatap lama wajah sang istri, Riu bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum kemudian bersiap tidur.


Menutup tubuh dengan selimut, sudah. Memeluk Vale dari belakang, sudah. Bahkan, memejam pun sudah. Akan tetapi, pikiran Riu masih saja terjaga. Ia tak bisa membohongi diri sendiri dengan menutup mata. Otak tetap bekerja dan itu membuatnya kesal sendiri.


"Ahh!" Riu mende-sah panjang, seraya beralih telentang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia ingin istirahat agar esok kembali semangat. Namun, begitu sulit. Satu demi satu urusan sudah menjadi beban dan mendorongnya untuk terus berpikir.


Alhasil, sampai setengah jam lebih Riu sekadar diam dan menatap langit-langit kamar. Ia biarkan pikiran berkelana sesuka hati, sampai kemudian lelah sendiri dan menyambut kantuk yang harusnya datang lebih awal.


Itu pun tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, Riu terjaga ketika jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 pagi. Mata sepat dan kepala terasa pusing akibat waktu tidur yang hanya kisaran empat jam.


"Kok sudah bangun?" tanya Vale ketika baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Riu sudah duduk di tepi ranjang.


Riu membuang napas panjang. "Iya, agar nanti tidak telat."


Riu sengaja berbohong. Dia tak mau menunjukkan rasa lelahnya, tak ingin Vale khawatir karenanya.


Namun, tanpa dijelaskan pun nyatanya Vale sudah paham. Dia tahu sang suami sedang tidak baik-baik saja.


"Jika lelah, istirahat saja. Aku tahu kerja sama ini sangat penting, tapi tidak dengan memforsir tenaga juga. Kesehatan itulah yang paling utama, Sayang," ucap Vale sembari duduk di sebelah Riu dan mengusap bahunya dengan lembut.

__ADS_1


Riu diam sejenak, kemudian berkata, "sebenarnya bukan itu saja yang mengganggu pikiranku."


"Papa?"


Riu mengangguk. "Sampai saat ini Rocky belum memberi kabar. Tak biasanya dia lambat, kecuali ... yang ditangani memang bukan orang sembarangan."


Vale tak menyahut, hanya tangannya yang kini memberikan rangkulan hangat. Dalam hati, Vale juga ingin membantu Riu, mencari titik terang permasalahan itu dan turut menyelesaikannya. Namun, itu bukan ahlinya. Dia hanya cerdas dalam bidang pekerjaan, bukan melacak dan mencari identitas seseorang layaknya detektif.


"Tapi, tidak apa-apa. Walaupun lambat, aku pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Sayang, kamu jangan ikut berpikir yang macam-macam ya. Cukup jaga diri dan jaga kesehatan. Apalagi setelah aku pergi nanti, jangan ke mana-mana sendirian, harus dengan sopir," ucap Riu, selagi Vale masih diam.


Vale tersenyum simpul. "Iya."


"Ya sudah, aku mau mandi dulu. Tolong siapkan pakaianku ya, Sayang." Riu mendaratkan kecupan manis di ujung kalimatnya.


Vale pun mengangguk dan menyambut kecupan tersebut dengan ciuman yang tak kalah manis.


Singapura, negara yang tak terlalu jauh dari Indonesia. Bahkan, penerbangan ke sana kurang dari dua jam. Kendati begitu, Riu merasa perjalanannya cukup lama. Malah lebih lama dari perjalanan ke London dulu. Ahh, konyol.


Mungkin, itulah efek lelah dan terlalu banyak beban.


Sebenarnya, Riu tidak sendirian di dalam burung besi itu. Ada Baron dan juga Stivo yang ikut terbang bersamanya. Namun, Riu memilih diam sepanjang waktu. Dia lebih suka keheningan untuk saat ini. Bahkan, sampai mereka mendarat di bandara Singapura pun, Riu hanya bicara yang penting-penting saja.


Sementara di tempat yang berbeda, yakni di negara Indonesia, seorang pria dengan tubuh kekar mengulas senyum smirk. Dia menatap satu pesan dari orang suruhannya, dan itu cukup memuaskan.


'Dia sudah terbang ke Singapura.'


"Riu ... aku ingin tahu seperti apa hidupmu setelah ini," gumam pria yang menyandang nama Marc.

__ADS_1


Satu pria lain yang duduk berhadapan dengannya, membuang puntung rokok dan kemudian menatap Marc—kawan sekaligus atasannya.


"Tapi, kau membuang peluang besar. Bekerja sama dengan Jester Corporation adalah kesempatan emas untuk mengembangkan bisnis. Itu juga bisa kau jadikan senjata untuk membungkam ayahmu. Tapi, kau malah membiarkan Riu yang maju. Kau tidak takut dia akan lebih unggul lagi dan dipuja-puja ayahmu tanpa henti?" ujar pria pemilik nama Andreas.


Marc tertawa. "Unggul seperti apa memangnya? Ketika dia hancur, kerja sama dengan Jester juga tidak akan ada artinya. Bahkan, bisnis yang diwariskan ibunya pun akan ikut tumbang. Dan jika saat itu terjadi ... aku yang akan mengambil peluang. Semua yang pernah menjadi miliknya, akan menjadi milikku. Aku akan merampas apa yang dia punya, seperti dia merampas apa yang menjadi milikku."


Sorot mata Marc memancarkan dendam yang mendalam. Andreas juga tahu itu. Namun, dalam hatinya dia kurang setuju dengan rencana yang disusun Marc. Dia tahu Riu seperti apa. Takutnya nanti bukan Riu yang hancur, melainkan Marc sendiri.


"Tapi, ini terlalu beresiko. Jujur, aku tidak yakin," gumam Andreas dengan hati-hati.


"Tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Tidak ada kesalahan dalam rencana ini. Kau ... tinggal diam saja dan lihat bagaimana hancurnya Riu. Kau tahu, itu akan menjadi pemandangan yang paling indah."


Andreas hanya mengangguk-angguk. Sudah tak ada kalimat lagi untuk membantah Marc karena pria itu terlalu yakin dengan rencananya. Padahal, menurut Andreas masih ada rencana lain yang tidak beresiko. Namun, Marc ngotot memilih cara yang ekstrem.


"Untuk menangkap ikan yang besar, memang dibutuhkan umpan yang besar juga, Ndre." Marc masih meneruskan tawanya, seolah kemenangan sudah ada di genggaman.


Selagi Andreas masih sedikit waswas, Marc mulai fokus kembali dengan ponselnya. Seseorang yang mengirim pesan barusan, bergegas ia hubungi via telepon.


"Halo, Tuan," sapa seseorang yang saat ini berada di kantor Riu.


"Lakukan sekarang!" perintah Marc. Sangat singkat, tetapi langsung dipahami oleh orang di seberang sana.


"Baik, Tuan."


Marc kembali mengukir senyum smirk. Jawaban orang barusan membuatnya membayangkan kehancuran lawan yang tidak main-main.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2