
Bising langkah dari orang-orang yang berlalu lalang menjadi suara setia yang menemani Vale pagi itu. Bersama Annisa, ia duduk di ruang tunggu, di depan ICU.
Wajah Annisa tampak kusut karena sejak kemarin ia tak pulang. Sementara Vale, raut mukanya masih normal karena semalam beristirahat dengan cukup.
"Camelia dan Sander akan terbang hari ini," ujar Annisa. Suaranya lirih dan hampir tertimbun derap langkah di sekitar. Beruntung pendengaran Vale cukup baik, jadi setiap ucapannya bisa dicerna dengan jelas.
"Semoga mereka lekas sampai. Mungkin saja, kondisi Papa cepat membaik jika bertemu dengan mereka," jawab Vale. Entah terdengar masuk akal atau tidak, tetapi Vale memang tak punya jawaban lain.
"Iya." Annisa menjawab singkat, seraya menunduk dan menarik napas panjang.
Ia sangat terpukul dengan keadaan Jason saat ini. Pria itu sekadar membuka mata dan bernapas, belum bisa merespon ucapan apalagi menggerakkan kaki dan tangan.
Annisa takut jika nanti ayahnya akan mengalami stroke dan lumpuh total.
Tak lama setelah Annisa dan Vale saling bicara, Kelvin datang sambil membawa dua gelas teh hangat. Satu untuk Annisa, sedangkan yang satu lagi untuk Vale.
"Minumlah, tidak apa-apa!" kata Kelvin ketika melihat keraguan di wajah Vale. Bahkan, dalam sepersekian detik wanita itu tak jua mengambil minuman yang ia sodorkan.
"Mmm, terima kasih," jawab Vale sembari mengulas senyum yang tampak terpaksa. Pun dengan gerakan tangannya ketika meraih gelas teh dari tangan Kelvin.
Tak lama setelah gelas teh berpindah tangan, bahkan sebelum Vale menyesapnya, ia sudah dikejutkan dengan dering ponsel dari dalam tas selempang miliknya. Ternyata, ada telepon dari Erwin—resepsionis di kantor Riu.
"Nyonya, bisakah Anda ke kantor sekarang? Ada masalah dan kekacauan di sini."
Vale mengernyitkan kening, terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. "Masalah apa?"
"Ada klien yang mengamuk dan mengancam akan menuntut perusahaan. Katanya, kita melanggar poin kontrak yang telah disepakati. Nyonya, dia ngotot ingin bertemu dengan Tuan Riu. Tapi, kan beliau sedang ke luar negri. Nyonya, hanya Anda harapan kami."
Vale menarik napas panjang sembari memijit pelipis. Masalah Jason saja belum kelar, kini sudah ada masalah lain di kantor, dan sialnya ketika Riu sedang tidak ada di tempat.
"Baik, aku akan ke sana sekarang." Setelah berpikir sesaat, Vale menyanggupi permintaan Erwin. Ia akan datang ke kantor dan mencoba bicara dengan klien yang katanya membuat kekacauan itu.
__ADS_1
Akan tetapi, sebelum memutuskan untuk pergi ke sana, Vale terlebih dahulu menghubungi Riu. Namun sayang, nomor sang suami masih di luar jangkauan. Mungkin, dia belum keluar dari bandara dan belum sempat menghidupkan ponselnya.
"Ada apa, Vale?" tanya Kelvin. Dia menangkap gestur tak senang di wajah Vale.
"Aku akan ke kantor, ada masalah di sana."
"Masalah apa?" Kelvin turut terkejut.
Vale menggeleng. "Belum jelas."
"Biar kutemani. Kamu sedang hamil, tidak baik menangani masalah sendirian," ujar Kelvin. Sejenak ia melupakan peringatan dari Riu yang menyuruhnya menjaga jarak dengan Vale. Dalam keadaan genting begini, yang paling ia utamakan adalah keselamatan wanita tersebut. Lagi pula, niatnya hanya untuk melindungi, bukan yang lain.
"Tidak perlu. Aku sudah diantar sopir," tolak Vale diiringi senyum tipis.
"Sopir hanya mengantarmu. Dia tidak bisa menjamin keselamatanmu di dalam kantor. Vale, aku hanya tidak ingin kamu kenapa-napa. Paman juga pasti mengerti."
"Aku bisa sendiri. Kamu lebih baik di sini temani Kak Annisa. Kondisi Papa yang lebih baik kamu khawatirkan, bukan aku." Vale tetap menolak.
"Tapi, Vale___"
Karena tak ada pilihan lain, dengan terpaksa Kelvin mengalah. Ia tak lagi bersikeras mengantar Vale. Walau berat hati, ia lepaskan wanita itu pergi hanya dengan sopir.
"Kamu jangan mencari gara-gara lagi dengan pamanmu. Lupakan Vale! Dia sudah menjadi bibimu sekarang," kata Annisa ketika Vale sudah hilang dari pandangan. Untuk kesekian kalinya, dia melontarkan nasihat yang sama. Itu pun belum cukup untuk membuat Kelvin melupakan Vale.
Ahh, cinta. Terkadang memang tidak tahu aturan, datang sesuka hati, bahkan kepada orang yang seharusnya tak dicintai.
_______
Lalu lalang kendaraan yang saling berpacu, berlomba di tengah polusi yang diciptakan sendiri, menjadi pemandangan utama yang menemani perjalanan Vale pagi itu.
Dingin AC di dalam mobil, rasanya tak bisa mengurangi pengap dan panas. Tak mampu menutupi kenyataan bahwa di luar sana debu membubung tinggi di bawah terik matahari. Padahal, kala itu baru jam sembilan. Namun, sang surya seakan ikut mengobarkan semangat, mengimbangi penduduk bumi yang seolah tak kenal waktu dalam melakukan aktivitas.
__ADS_1
"Nyonya!"
Vale mengalihkan tatapannya ke arah sopir.
"Coba Anda lihat truk di belakang itu, Nyonya!" ujar sopir seraya melirik sekilas ke arah spion.
Vale menuruti instruksi sopir, menatap spion dan melihat truk hitam yang berada tepat di belakang mereka. Sekilas tidak ada yang aneh, tetapi jika diperhatikan ... itu terlihat familier. Ya, Vale sempat melihatnya tadi, ketika mereka baru keluar dari area rumah sakit. Ternyata sampai sekarang masih ada di belakangnya, atau ... memang sengaja membuntuti?
"Apa dia sengaja mengikuti kita?" tanya Vale.
"Saya juga curiga begitu, Nyonya. Soalnya sejak di rumah sakit tadi, dia selalu ada di belakang kita. Meski seandainya tujuan kita searah, tapi kalau tidak sengaja membuntuti, pasti ada kalanya mendahului atau tertinggal di belakang, bukan seperti ini."
Mendengar jawaban sopir, hati Vale mendadak cemas. Terlebih setelah gagal lagi menghubungi Riu. Sedikit demi sedikit, pikirannya dipenuhi prasangka buruk.
"Nyonya, saya akan mencari titik aman. Anda berhati-hati, ya," ujar sopir lagi, yang kemudian ditanggapi dengan anggukan.
Sedetik setelah mendapat respon dari Vale, sopir langsung menambah laju. Tangannya begitu kuat mencengkeram kemudi agar tak melakukan kesalahan sedikit pun. Ada tanggung jawab besar yang ia bawa kala itu—sang majikan.
Dengan lincah, sopir melajukan mobilnya di antara kendaraan-kendaraan lain. Entah sudah berapa banyak mobil ia dahului, namun ... truk di belakang juga melakukan hal yang sama. Pengemudi di sana tak kalah lincah membawa kendaraannya, turut melaju dan menjaga jarak dengan mobil Vale.
"Memang ada yang tidak beres, Nyonya."
Vale tak menyahut, karena dia juga tahu bahwa truk di belakang sana memang sengaja mengikuti. Bahkan, ketika sopir melaju lebih cepat lagi, truk tersebut lagi-lagi melakukan hal yang sama, sehingga terasa sia-sia sopir melajukan kecepatan karena truk tetap berada tepat di belakangnya.
"Siapa sebenarnya dia, dan apa maunya?" batin Vale dengan cemas. Jarak kantor masih cukup jauh, dan dia mengalami masalah yang serius.
Tak lama kemudian, mereka tiba di jalanan yang menurun. Sopir pun sedikit mengurangi laju karena ada truk tronton di depan mereka, sedangkan tak ada ruang untuk mendahului.
Tepat pada saat itu, sopir truk di belakang menambah laju dan menabrak bagian belakang mobil Vale, hingga terdorong ke depan dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Sopir Vale berusaha mengerem, namun gagal. Dorongan dari truk terlalu kuat, ditambah lagi dengan jalanan yang menurun.
__ADS_1
Vale dan sopirnya sudah pucat pasi. Sedikit lagi mobil mereka akan masuk ke bagian belakang tronton, sedangkan untuk banting setir juga nyaris tak ada ruang. Di sisi kanan ada mobil lain, sementara di sisi kiri ada pembatas jalan.
Bersambung...