
"Bisakah kamu bicara empat mata dengan Kelvin?" Satu pertanyaan yang Annisa loloskan, yang sontak saja membuat Vale mengernyitkan kening.
Embusan napas kasar pun keluar dari bibir Annisa, mengisi kekosongan karena Vale belum jua membuka suara.
"Dulu memang aku yang salah, melarang dia berhubungan dengan kamu. Aku tidak mau mengenal baik kamu, dan menilai dengan cara pandangku sendiri. Sekarang, kamu sudah menjadi istri Riu. Mungkin, ini yang terbaik untuk kamu, tapi ... tidak untuk Kelvin. Dia belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan ini. Aku harap, kamu bisa memberikan penjelasan ke dia agar tidak lagi tenggelam dalam masa lalu. Aku ingin dia bisa melihat ke depan dan mencari kebahagiaan lain, selain kamu," lanjut Annisa. Cukup panjang, tetapi masih sulit dicerna oleh Vale.
Bukan tidak bisa memahami susunan kalimatnya, melainkan tidak paham dengan maksudnya.
Kelvin, lelaki yang dulu mencampakkannya, sekarang masih berharap padanya? Ahh, konyol.
"Kamu mau kan bicara dengan Kelvin?" tanya Annisa, seolah sangat berharap Vale akan mengiakan permintaannya itu.
"Antara kami sudah tidak ada hubungan apa-apa. Semua sudah berakhir, bahkan sebelum aku dan Riu saling mengenal. Jadi, kurasa aku tidak perlu lagi bicara dengan Kelvin. Karena dia pasti bisa mengerti," tolak Vale secara halus.
Embusan napas panjang kembali keluar dari bibir Annisa. Dalam hati ingin membantah karena ditolak oleh Vale, tetapi tak bisa pula karena sekarang keadaan sudah berbeda. Jika dulu, mungkin dia bisa bertindak sesuka hati. Namun kini, Vale sudah menjadi pasangan sah Riu, tak ada hak baginya untuk memaksakan kehendak lagi.
"Apa yang kamu bayangkan berbeda dengan kenyataan. Kelvin masih sangat mencintai dan mengharapkan kamu. Dan aku yakin, hanya kamu yang bisa memberikan pengertian padanya. Jadi, tolong ... pertimbangkan permintaanku tadi." Kali ini, Annisa tak membutuhkan jawaban, karena tak mau ditolak kedua kali oleh Vale.
Selagi adik iparnya itu masih berpikir, Annisa bergegas bangkit dan melangkah keluar, sembari berharap dalam hati semoga Vale mau bicara empat mata dengan Kelvin. Dia juga ingin anaknya bahagia dan lepas dari masa lalu. Siapa pun wanita yang dipilih oleh Kelvin nanti, dia akan setuju. Janji tidak akan ikut campur lagi seperti dulu.
_____
Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, Vale sudah pulih dan diizinkan pulang. Sekitar pukul 11.00 siang ia tiba di rumah. Marisa dan Sandi ikut menemaninya ke sana, bahkan sampai sore. Barulah ketika senja sudah padam, keduanya pamit pulang dan kembali menitipkan Vale kepada Riu.
"Sebenarnya aku tidak mau bicara dengan dia. Antara kami sudah tidak ada hal penting yang perlu dibahas lagi," ujar Vale ketika Riu membahas permintaan Annisa, yang sejak tempo hari memang sudah diberitahukan oleh Vale.
"Tidak apa-apa, bicara saja. Mungkin dia merasa ada yang mengganjal dengan masa lalu. Dari pada sampai nanti dia terus memendam harapan, memang lebih baik pupuskan saja dari sekarang. Aku juga tidak mau ada lelaki lain yang masih memimpikan kamu, sekalipun itu keluargaku sendiri," jawab Riu. Pikirnya, mungkin lebih baik membiarkan Kelvin bicara empat mata dengan Vale. Mungkin dengan begitu, Kelvin bisa lebih cepat menyelesaikan perasaan yang harusnya sudah usai sejak lama.
"Tapi___"
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku nanti juga tak akan ke mana-mana. Jadi, tidak perlu khawatir. Dia tak akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman," potong Riu.
Akhirnya, Vale mengangguk. Sudah mendapat izin dari Riu, dan bicaranya juga di rumah itu, Vale turut yakin Kelvin tidak akan melakukan yang macam-macam. Mungkin ... memang benar, mantannya itu hanya butuh bicara.
Obrolan antara Vale dengan Riu pun berakhir. Meski tidak menjauh dari sang istri, tetapi Riu sedikit fokus dengan laptop, guna mengintip pekerjaan yang sudah pasti menumpuk. Sementara Vale, sekadar bersandar di bahu Riu, sembari membayangkan rupa bayi mungil yang mulai tumbuh fi rahimnya.
Sekitar satu jam berlalu, pelayan mengetuk pintu kamar dan memberitahukan bahwa Kelvin sudah datang. Riu bergegas menutup laptopnya dan mengembalikan ke tempat semula. Lantas, pamit keluar guna menyambut Kelvin.
"Paman, maaf, aku baru bisa sekarang menjenguk Bibi. Kemarin-kemarin masih ... sibuk," ucap Kelvin ketika berhadapan dengan Riu.
Sebenarnya, memang bukan Kelvin sendiri yang meminta waktu untuk bicara dengan Vale, melainkan Annisa. Kelvin mana berani meminta itu.
Tadi, Annisa hanya menyuruh Kelvin untuk menjenguk Vale. Tanpa sepengetahuan Kelvin, Annisa meminta Riu untuk memberi waktu pada mereka.
Annisa ingin menciptakan kondisi yang alami agar anaknya tidak canggung, lantas bisa mengerti dan keluar dari zona masa lalu.
"Tida apa-apa. Bibimu juga tidak separah itu," jawab Riu seraya mengulas senyum simpul.
Hening. Dalam beberapa saat tidak ada perbincangan, bahkan sampai pelayan menghidangkan minuman, Kelvin belum bicara apa pun.
"Kamu ingin melihat istriku?" tanya Riu setelah cukup lama diam.
Kelvin mengangguk.
"Dia sedang rebahan di kamar. Kuantar ke sana jika kamu ingin melihat keadaannya," ujar Riu, yang kemudian diiakan oleh Kelvin.
Akhirnya, dua lelaki itu berjalan menuju kamar tempat Vale beristirahat. Kelvin menyunggingkan senyum masam ketika beradu padang dengan Vale. Sesak, perih, dan entah perasaan apa lagi namanya. Yang jelas sangat mengacaukan hati.
"Sayang, Kelvin ingin melihat keadaanmu." Riu berkata sembari membenarkan selimut yang menutupi tubuh Vale.
__ADS_1
Vale mengangguk pelan, sedangkan Kelvin masih menunduk gugup. Lantas dengan perasaan yang agak ragu, dia duduk di kursi, di samping ranjang.
"Kebetulan tadi aku dan Baron masih membahas pekerjaan. Tidak apa-apa kan jika kalian kutinggal sebentar?" kata Riu seraya meraih laptop miliknya.
Vale mengangguk, sementara Kelvin terkejut. Tak menyangka Riu membiarkan dirinya berdua dengan Vale. Biasanya, lelaki itu selalu menunjukkan sikap cemburu yang berlebihan.
"Mungkin ... ini kesempatanku," batin Kelvin. Ia merasa beruntung karena kesempatan datang tanpa dikejar. Dia tidak tahu jika itu semua memang sudah direncana. Dibandingkan dengan Riu, Kelvin memang sebodoh itu.
Sesaat kemudian, Riu benar-benar keluar dari ruangan itu. Namun, tidak jauh. Dia hanya berdiri di sisi pintu bagian luar. Apa yang dibicarakan di dalam sudah pasti terdengar jelas, karena pintu dibuka dengan lebar.
"Bagaimana keadaan kamu?" Satu pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Kelvin.
"Baik."
"Kudengar, kamu hamil. Selamat ya," ucap Kelvin lagi.
"Terima kasih." Jawaban Vale masih datar.
Selanjutnya tak ada ucapan lagi. Kelvin diam dan sekadar menampilkan gurat-gurat sesal. Namun, hati Vale tidak goyah. Kalaupun sekarang Kelvin menyesal dan merasa sakit, itu bukan salahnya, karena lelaki itulah yang membuat hubungan mereka berakhir. Justru itu bisa dianggap adil, karena dulu Vale-lah yang terluka dan kecewa.
"Mmm, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kelvin memecah keheningan.
"Tanya apa?"
"Apa kamu ... benar-benar mencintai Paman?"
Pertanyaan Kelvin tidak langsung dijawab. Vale terlebih dahulu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Kamu menikah dengan dia, tak lama setelah kita pisah. Apakah itu benar karena cinta, Vale? Atau ... hanya pelarianmu saja?" sambung Kelvin.
__ADS_1
Bersambung...