Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Bertemu Wanita Familier


__ADS_3

Malam hari di Kota London.


Usai berbincang panjang dan kemudian beristirahat, kini Riu dan Vale sudah siap menjelajah keindahan malam di kota tersebut.


Keduanya akan jalan-jalan, sekaligus mencicip kuliner yang ada di sekitar sana. Wajah keduanya tampak sumringah, seperti tanpa beban. Sekadar pancaran kebahagiaan yang ada. Ya ... memang seindah itulah cinta yang tulus.


"Bagus, tidak?" tanya Vale sambil memamerkan rambutnya yang digulung ke atas, membuat leher jenjangnya terpampang jelas.


Riu tak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu mengambil sesuatu dari dalam lemari yang digunakan untuk menyimpan barang-barang Vale.


"Begini lebih baik. Kamu terlihat cantik dan pastinya tidak kedinginan," ucap Riu sambil memakaikan scarf ke leher Vale. Warnanya maroon, senada dengan blazer yang dikenakan Vale kala itu.


Vale menatap pantulan dirinya di dalam cermin, lantas tersenyum karena merasa itu sangat cocok. Ternyata ... Riu cukup paham soal fashion, ya meskipun ada alasan lain di balik sikapnya barusan. Apalagi kalau bukan cemburu. Tak rela bila mata lelaki lain menatap keindahan dalam tubuh Vale.


"Yuk! Kita berangkat!" ajak Vale sembari menggamit lengan Riu.


"Ayo." Riu turut tersenyum. Lantas, keduanya bersama-sama keluar kamar dan meninggalkan kawasan rumah.


Dengan berjalan kaki, Riu dan Vale menyusuri jalanan yang tak pernah reda dari lalu lalang kendaraan. Lampu-lampu kota yang putih benderang, bak cerminan langit yang menampilkan ribuan bintang. Sedangkan gedung-gedung yang menjulang, ibarat bukti akan canggihnya teknologi saat ini.

__ADS_1


Di salah satu bangunan yang terhitung megah dan mewah, mereka berbelok dan singgah. Steakhouse And Bar, tulisan yang terpampang di depan bangunan tersebut. Sebuah restoran steak yang lumayan populer di kota itu.


Riu dan Vale memilih meja yang paling ujung. Lalu, keduanya memesan steak dan minuman yang sama.


"Aku pernah dua kali ke sini, bersama Thalia. Dulu, tidak ada hari yang kulalui tanpa dia." Vale membuka obrolan dengan menceritakan kesehariannya di kota itu, yang tentunya tidak berhubungan dengan Kelvin.


"Sekarang kenapa jarang keluar bersama dia? Bahkan, mendengar kalian teleponan saja hanya sekali dua kali."


"Sejak balik ke Indo dia super sibuk. Aku sudah sering mengajaknya jalan, tapi selalu saja tidak ada waktu." Vale mengembuskan napas panjang. "Tapi ... kemarin sempat-sempatnya dia bilang sesuatu padaku," lanjutnya.


"Apa?"


"Memangnya dia belum punya pacar?" tanya Riu.


Vale menggeleng, "Belum. Dari dulu dia hanya fokus dengan kuliah, dan sekarang fokus dengan karier. Tapi, mudah-mudahan saja dia bisa berjodoh dengan lelaki itu."


"Kamu berharap seperti itu, padahal belum tahu dia laki-laki baik atau bukan."


"Aku juga berharap dia laki-laki baik, agar Thalia tidak sakit hati atau kecewa."

__ADS_1


Obrolan mereka terhenti sesaat karena pesanan sudah di antar ke meja. Aroma daging panggang yang wangi menguar dan menggugah selera makan mereka, hingga tak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk menyantap hidangan tersebut.


Di tengah suapan, Vale dan Riu saling memuji cita rasa yang mereka kecap saat ini. Tak jarang keduanya saling menyuapi, juga mengusap sisa makanan yang kadang menempel di ujung bibir. Kemesraan mereka membuat pengunjung lain senyum-senyum sendiri, membayangkan melakukan hal yang sama dengan pasangan masing-masing.


Namun, ada jua di antara mereka yang melayangkan tatapan aneh. Dia adalah wanita muda dengan tampilan make up yang menonjol. Sejak beberapa saat yang lalu, dia terus memperhatikan Vale. Bukan kagum, melainkan lebih pada benci dan iri.


Seperti tak ingin kehilangan jejak, wanita itu terus saja menatap jeli gerak-gerik Vale. Bahkan, sampai bermenit-menit pun ia rela melakukannya.


Lantas ketika Vale beranjak dari tempat duduknya, wanita itu juga ikut bangkit. Ia meninggalkan hidangan yang masih disentuh sedikit demi mengikuti Vale yang berjalan menuju toilet. Keberuntungan baginya karena Vale pergi seorang diri, sedangkan Riu tetap di tempat semula, dan tampaknya tidak curiga sedikit pun.


"Vale!" panggil wanita itu selagi Vale masih berada di depan toilet.


Vale bergegas menoleh. Matanya memicing ketika mendapati sosok yang berdiri di hadapannya kini. Seorang wanita yang tidak ia kenal, tetapi cukup familier. Bahkan, punya peran penting dalam sejarah cintanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya wanita itu dalam bahasa Inggris.


"Kenapa ingin tahu? Apa itu penting bagimu?" jawab Vale juga dengan bahasa Inggris. Ia pernah tinggal lama di London, jadi tak kesulitan lagi.


Namun, tak disangka jawaban itu cukup menyinggung lawan bicaranya. Hingga dia mengepalkan tangan dan melangkah lebih dekat lagi ke arah Vale.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2