
'Minggu depan papaku ada perjalanan bisnis ke Paris, dan sepertinya aku juga ikut.'
Thalia, nama pemilik nomor yang mengirim pesan pada Sander. Satu-satunya wanita yang dalam beberapa waktu terakhir sering bertukar kabar dengannya.
Terkejut dan juga senang, itulah yang dirasakan Sander ketika membaca ulang pesan dari Thalia, memastikan bahwa ia tidak salah lihat.
"Dia mau ke sini," gumam Sander dengan hati yang berdebar dengan sendirinya.
Saking kerasnya debaran itu, ia sampai gugup dan berulang kali salah dalam mengetik pesan balasan. Sekadar untuk bertanya 'akankah ada kesempatan untuk bertemu' saja, Sander sampai tiga kali tulis-hapus tulis-hapus.
'Jadwal Papa tidak terlalu padat. Kemungkinan besar aku bisa meluangkan waktu untuk bertemu kamu, meski tidak lama.'
Sander bersorak girang dalam hatinya. Tanpa dipinta, bayang-bayang paras cantik Thalia berkelebat dalam pikiran, memupuk benih rindu hingga tumbuh dan menjalar memenuhi segenap ruang.
"Thalia, kamu istimewa," ucap Sander seorang diri. Ia mulai memahami perasaan aneh yang kerap muncul ketika berkaitan dengan Thalia.
_____
Setelah dua puluh hari penuh berbulan madu, mengelilingi Kota London dan juga kota lain yang ada di negara Inggris, termasuk Bristol, Liverpool, York, dan juga Oxford.
__ADS_1
Kini, Vale dan Riu sudah kembali menginap di rumah yang dibeli dari Theo. Sebelum esok terbang pulang ke Indonesia.
Perjalanan manis yang penuh cinta, malam itu ditutup dengan sesuatu yang kurang indah. Bukan pertengkaran atau sekadar perselisihan, melainkan kesehatan yang mendadak menganggu Vale. Ia mengeluh pusing dan lemas, padahal sebelumnya tidak apa-apa, bahkan makan pula masih lahap.
"Kita ke rumah sakit saja, ya?" Riu duduk di sebelah Vale yang sedang berbaring. Sembari mengusap kening Vale yang panas, ia juga menatap penuh kekhawatiran.
"Tidak usah. Aku cuma mau istirahat saja," jawab Vale dengan mata yang memejam.
"Kalau begitu kita tunda saja kepulangannya. Tunggu kamu sehat, baru kita berangkat."
"Jangan. Tiketnya sudah dipesan, mana bisa dibatalkan begitu saja," sahut Vale tanpa membuka mata.
"Harga tiket tidak sebanding dengan kesehatanmu. Tolong jangan membantah," jawab Riu, tak mau tahu dengan penolakan Vale. Baginya, memang kesehatan dan keselamatan istrinya itu yang paling utama.
"Sayang, kamu jangan terlalu memaksa. Jangan mengkhawatirkan pekerjaanku di sana, Baron masih bisa diandalkan," ucap Riu lagi.
Kali ini, Vale tak bisa membantah. Dia sendiri sudah resign dari pekerjaan sejak mempublikasikan pernikahannya dengan Riu. Sekarang yang memiliki tanggungan hanya Riu, dan dia sudah berulang kali memastikan bahwa itu semua masih dalam kendali.
Alhasil, kepulangan mereka pun terpaksa ditunda, karena ketika terbangun esok paginya Vale masih merasa lemas. Walaupun pusingnya sudah tidak ada, tetapi Riu tak mau mengambil resiko. Vale adalah prioritas utama, jauh melebihi harga tiket yang hanya puluhan juta.
__ADS_1
Setelah istirahat selama dua hari dan kesehatan Vale pulih total, barulah keduanya terbang kembali ke Indonesia. Sekitar pukul 03.00 sore mereka mendarat di bandara Ibu Kota.
"Perjalanan yang sangat manis. Bukan begitu, Sayang?" ujar Riu ketika sudah turun dari pesawat dan berjalan menuju mobil yang menjemputnya.
"Mmmm." Vale menggumam pelan. Entahlah, ia kembali merasa tidak nyaman. Tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba pusing mendera kepala dan tubuh mendadak hilang tenaga.
"Sayang, kamu kenapa?" Riu menatap Vale dengan jeli, namun tidak mendapati sesuatu yang aneh. Sekadar sikap saja yang tiba-tiba datar, padahal tadi di pesawat masih antusias.
"Aku ... ah." Vale gagal melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba ambruk. Beruntung sejak tadi Riu merangkul lengannya, jadi jatuh pun tetap dalam pelukan suami.
"Sayang! Kamu kenapa, Sayang?" teriak Riu dengan panik.
Tidak ada jawaban dari bibir Vale, malah sepasang mata yang tadi sekadar sayu sekarang memejam rapat. Riu makin kelabakan dibuatnya, kekhawatirannya memuncak saat menyadari bahwa sang istri pingsan.
"Vale, Sayang! Bangun!" Riu terus berteriak, bahkan sampai petugas medis menghampiri dan menolong Vale.
"Vale, sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu?" batin Riu. Ingatannya kembali tertuju pada tempo hari, saat keduanya masih berada di London.
Dalam benak yang paling dalam, Riu takut akan kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa Vale. Mengidap penyakit serius misalnya.
__ADS_1
Bersambung...