
"Ya ... baik. Dibandingkan dulu, masih jauh lebih baik sekarang."
Jawaban Deva sedikit ambigu, dan Kelvin juga sangat menyadari itu. Namun, agak berat baginya untuk bertanya lebih rinci lagi.
Masih ada banyak waktu, jangan terburu-buru, pikir Kelvin kala itu.
"Semoga ke depannya terus membaik dan sesuai dengan yang kamu harapkan," ucap Kelvin.
"Terima kasih." Deva tersenyum manis, dan hal itu menghadirkan debar tersendiri di hati Kelvin.
"Kalau misalkan kamu butuh teman berbagi, aku siap menjadi pendengar, kapanpun itu."
Deva mengangguk. Matanya memancarkan binar bahagia. Meski baru sekejap ia berbincang dengan Kelvin—secara langsung, tetapi kesepian di hati Deva sedikit terisi.
Selama ini, dia bagai hidup dalam kepura-puraan. Senantiasa tersenyum walau ada luka yang menganga, luka yang tetap mengiringinya hingga saat ini.
Bukan tanpa alasan Deva bersikap demikian, melainkan karena memang tak ada tempat untuk berbagi emosi. Dalam keramaian yang mengelilinginya, tak ada satu pun yang bersedia menjadi teman—setelah tahu tentang kehidupannya.
Itulah mengapa, setelah memulai pekerjaan di rumah sakit Deva menjadi pribadi yang tertutup. Berbincang dan bercanda hanya seputar pekerjaan, tak pernah sekali pun mengungkit masalah pribadi.
Kelvin adalah orang pertama yang membuatnya melakukan sesuatu di luar pekerjaan.
'Setelah tahu semua tentangku, apa dia juga akan menjauh?'
Satu kekhawatiran yang perlahan menyergap dalam benak Deva, yang kemudian mengikis senyum tulus yang tadi terukir manis di bibirnya.
"Kamu tidak keberatan kan jika kapan-kapan kita bertemu lagi?"
Deva mendongak dan untuk sesaat beradu pandang dengan Kelvin. Pertanyaan barusan kembali menempa harapan yang beberapa detik lalu sempat ia tepis. Apakah Kelvin berbeda?
"Tentu tidak." Deva tersenyum lebar meski sedikit terpaksa. Gejolak di hatinya tak dapat dipungkiri, bimbang dan keraguan terus menghantui.
Sementara di hadapannya, Kelvin menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan. Ia pun merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.
Deva, gambaran wanita sederhana. Wanita yang jauh berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia kencani. Nyatanya ... justru memberikan arti lain dalam nurani.
_______
Sinar lilin kecil meliuk-liuk diterpa angin malam. Di atas candle holder yang menjadi tempatnya berdiri, ia seolah menari mengiringi suasana romantis di sekeliling.
__ADS_1
Di hadapan kolam renang yang membentang, meja makan bundar diatur sedemikian rupa. Lengkap dua kursi yang ditata berhadapan. Masing-masing berhiaskan kain renda putih, yang sekilas tampak kontras dengan merahnya mawar di atas meja.
Tak jauh dari tempat itu, seorang wanita cantik nan glamour mengulas senyum lebar di bibir merahnya. Dinner romantis sudah dia persiapkan. Bukan hanya tempatnya saja, melainkan juga hidangan yang beraneka jenis. Termasuk tart yang bertuliskan nama Riu.
"Dia pasti suka," batin Vale sambil memainkan ujung rambutnya, yang kala itu di-curly dan digerai begitu saja. Sengaja digunakan untuk menutupi sebagian bahu dan punggung yang terbuka.
Ya, baju yang dikenakan Vale memang cukup sexy malam itu. Selain terbuka di bagian atas, belahan pahanya pun cukup tinggi. Bukan itu saja, Vale pula sengaja mengaplikasikan make up tebal di wajahnya, juga menggunakan parfum dengan aroma sensual. Dia sengaja menyiapkan segalanya untuk menyenangkan Riu, yang malam ini akan pulang. Setelah satu minggu penuh pergi ke London—mengurus pemindahan kepemilikan rumah bersama Annisa.
"Tidak apa telat, yang penting ... malam ini akan terbayar," gumam Vale sambil menatap tart di atas meja. Kemarin lusa adalah ulang tahun Riu yang ke-38, dan malam ini baru ada waktu untuk merayakan.
'Sepuluh menit lagi aku tiba di rumah.'
Vale kembali memandangi pesan yang dikirim Riu, beberapa saat yang lalu. Makin dibayangkan, makin memerah pula pipinya. Entah apa yang akan mereka lakukan nanti, untuk mengobati rindu yang menggebu dalam seminggu terakhir.
"Nyonya ... Tuan sudah tiba!"
Lamunan Vale buyar karena suara pelayan yang melapor di belakangnya. Lantas, Vale menoleh dan menunjukkan sikap elegannya.
"Beri tahu dia jika aku ada di sini," ucap Vale.
"Baik, Nyonya."
Tak berselang lama, pelayan pergi meninggalkan Vale. Membiarkan dia seorang diri dengan jantung yang berdetak cepat. Riu ... ah suaminya itu, selalu sukses memporak-porandakan hati dan perasaannya.
"Sayang, kamu menyiapkan ini semua ... untukku?"
Suara yang Vale rindukan, akhirnya kembali memanjakan telinganya. Pun dengan senyum menawan, kembali menyenangkan mata yang senantiasa menyiratkan rindu.
Dengan setengah tersipu, Vale melangkah mendekati Riu. Membuat ketukan merdu dengan hak tingginya.
Sementara itu, Riu menatap jeli dengan kedua alis yang terangkat. Memandangi sang istri dalam keadaan seperti ini, sampai mati pun tidak akan bosan.
"Apa kamu suka, Sayang?" Vale bertanya, sekaligus menggoda. Terbukti dari jemarinya yang begitu lincah membelai rahang Riu.
"Aku tidak menyangka, kejutan yang kamu bilang kemarin ternyata seistimewa ini," jawab Riu sambil menangkap jemari Vale. Lantas, menciumnya dengan mesra dan cukup lama. Seolah ia tak ada puasnya menghidu aroma wangi yang ada di sana.
"Sudah dua hari terlewat dari hari ulang tahunmu, mana mungkin tidak istimewa. Apalagi ... seminggu ini kita tidak pernah bertemu."
Riu tersenyum sambil merengkuh erat pinggang Vale. Lantas, mendaratkan kecupan di bibir merahnya.
__ADS_1
Niat awal yang hanya singkat, gagal total setelah mengecap rasa manis yang selalu menjadi candu.
Dalam sepersekian detik, angin malam berembus sangat tenang, pun dengan tarian cahaya lilin. Seakan-akan mereka enggan mengusik aktivitas dua insan yang sedang dimabuk rindu.
Nyatanya, hal itu juga tak cukup dalam hitungan detik. Bahkan, dalam mengucapkan selamat ulang tahun pun, mereka selingi dengan 'sesuatu'.
"Terima kasih untuk kejutan ini, aku sangat senang. Ini adalah ulang tahun paling istimewa di sepanjang umurku yang hampir tua," kata Riu setelah cukup lama bertukar 'rasa' dengan Vale. Kendati begitu, ia belum melepaskan pinggang ramping yang begitu pas dalam pelukannya.
"Kejutan istimewa untuk orang yang istimewa," sahut Vale. "Ya sudah, ayo ke sana! Kita nikmati malam ini bersama-sama."
Tanpa membantah, Riu langsung membimbing Vale menuju meja yang penuh dengan nuansa romantis. Langkah keduanya begitu mesra, memamerkan cinta di bawah penerangan yang sengaja dibuat redup.
Sayangnya, pemandangan indah itu sedikit terganggu. Karena belum sempat keduanya mengambil tempat, ponsel Riu berdering. Ada satu panggilan masuk yang entah dari siapa.
Dengan agak kesal, Riu merogohnya, mencari tahu siapa gerangan yang menghubungi. Kelvin, satu nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Biarkan saja. Aku hubungi lagi nanti," kata Riu sambil meletakkan ponselnya ke atas meja, tak lupa juga mengaktifkan mode diam.
Awalnya, Vale tak banyak protes. Namun setelah telepon masuk sampai kelima kalinya, Vale pun angkat bicara.
"Coba terima saja, mungkin ada hal penting," ujar Vale.
"Menganggu saja." Riu mengomel, tetapi juga menuruti kata sang istri. Yakni, menerima panggilan tersebut.
"Paman, ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu!" kata Kelvin dari seberang sana.
Riu memijit pelipisnya sesaat. "Aku baru tiba dari London, bahkan belum sempat mandi. Nanti saja kuhubungi, minimal ... dua jam lagi."
"Tapi, Paman___"
"Aku masih capek. Kamu mau mengerti atau kita tidak usah bicara," pungkas Riu, mulai menunjukkan kekesalannya.
Hening. Tak ada jawaban dari seberang, setidaknya dalam beberapa detik.
"Setengah jam lagi, Paman. Itu sudah cukup untuk membersihkan diri. Ini penting, aku tidak bisa menunggu lama. Tolong ya, Paman!"
Tanpa sempat Riu memberikan jawaban, sambungan telepon sudah diakhiri secara sepihak. Riu hanya bisa mengepal dan menggeram melampiaskan kekesalan.
Bagaimana mungkin ia diberi waktu setengah jam, sedangkan hidangan makan malam saja belum ia sentuh sedikit pun. Belum lagi Vale yang juga harus ia 'lahap'.
__ADS_1
Ahh, Kelvin memang brengsek!
Bersambung...