
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku ... aku bisa mengganti kemejamu kalau memang perlu," ucap wanita yang kini masih berdiri di hadapan Sander.
Wanita yang tak lain adalah Thalia, sedikit waswas karena Sander terus diam. Pikirnya, mungkin lelaki itu marah karena kemeja putihnya malah kotor dan basah, akibat ulahnya. Padahal, acara baru baru setengah jalan.
"Mmm tidak usah. Ini ... tidak apa-apa," jawab Sander dengan sedikit gugup. Semua karena ada getaran dalam hati yang entah dari mana datangnya.
"Kalau begitu sebentar, aku ambilkan tisu."
Sander hanya mengangguk, seolah terhipnotis oleh sepasang mata milik Thalia. Setiap tatapannya mengunci gerakan Sander agar tak jauh-jauh darinya. Padahal, itu sekadar tatapan sekilas. Entahlah jika ditatap lama, mungkin Sander akan luluh dan tak berdaya di hadapan Thalia.
Sampai beberapa detik berlalu, Sander tetap terpaku. Tidak bicara, juga tidak melakukan apa pun. Kesadarannya baru kembali ketika merasakan hangat tangan Thalia menyentuh dadanya—menembus kemeja yang basah. Ternyata, wanita itu sedang mengusapnya dengan tisu.
"Tidak usah. Begini saja tidak apa-apa." Refleks, Sander menggenggam tangan Thalia. Maksud hati ingin menghentikan usapan wanita itu karena jantungnya berdetak cepat. Akan tetapi, justru genggaman itu membuat debar-debar aneh kian terasa jelas dalam benaknya.
Hal yang sama dirasakan pula oleh Thalia. Wanita cantik yang selama ini belum pernah memiliki kekasih resmi, saat itu merasakan debar jua. Genggaman Sander yang hangat, ibarat sengatan listrik yang menghadirkan perasaan menjalar ke seluruh tubuh.
"Ada apa denganku?" batin Thalia.
"Mmm, maaf, aku ... tidak bermaksud begitu," ucap Sander sesaat kemudian. Ia bergegas melepas tangan Thalia ketika kesadarannya sudah kembali normal.
Thalia mengangguk pelan, juga tersenyum gugup.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa," ujarnya sembari menggenggam tangannya sendiri. Sontak debaran aneh kembali terasa, kala mengingat tangan Sander yang belum lama menyentuh kulitnya.
"Boleh tahu namamu?" Sander memberanikan diri untuk mengajak berkenalan. Kendati pesimis, tetapi keinginan dalam hati terlalu kuat mendorongnya.
"Thalia."
"Nama yang cantik," puji Sander. "Aku ... Sander."
Thalia tertegun sejenak. Bukan karena pujian Sander, melainkan karena nama yang terdengar familier. Namun, Thalia tak ingat benar di mana ia pernah mendengar nama itu.
"Kamu temannya pengantin pria kah?" tanya Thalia.
Sander tersenyum tipis, "Aku keponakannya Paman Riu."
"Lucu tidak sih kalau aku tertarik sama dia?" batin Thalia.
"Kamu sendiri?" lanjut Sander.
Thalia menggaruk kepalanya, "Aku ... sahabatnya Vale."
"Oh." Sander juga ikut salah tingkah, karena ternyata Thalia masih berhubungan dengan Vale.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu. Sekali lagi maaf ya." Tanpa menunggu jawaban Sander, Thalia langsung balik kanan dan pergi meninggalkan Sander.
______
Sekitar pukul 11.00 malam, pesta pernikahan Riu dan Vale berakhir. Satu per satu tamu undangan pergi meninggalkan lokasi, tak terkecuali Thalia. Sambil senyum-senyum tidak jelas, dia pamit kepada Riu dan Vale, membuat mereka terheran dengan sikap anehnya. Walau begitu, Vale sama sekali tak menduga jika Sander-lah yang menjadi penyebab utama.
"Sekarang semua orang tahu bahwa kamu adalah istriku. Ke depannya, tinggal merencanakan satu hal lagi," ujar Riu sambil merangkul Vale.
"Apa?"
"Riu junior."
Vale menunduk, menghindari tatapan Riu yang bisa saja menangkap semu merah di pipinya.
"Kemarin aku sudah bekerja keras menyetabilkan perusahaan. Jadi, dalam waktu dekat kita sudah bisa bulan madu. Saat itu juga ... Riu junior harus diadon dengan baik," sambung Riu, membuat Vale makin tersipu.
Pada saat sepasang suami istri itu masih berbincang perihal cinta, Camelia datang menghampiri dengan setengah berlari.
"Riu!" panggil Camelia cukup keras.
"Ada apa, Kak?" Riu menjawab santai.
__ADS_1
"Apa ini ulahmu?" Camelia menunjukkan layar ponselnya, dengan ekspresi yang tegang.
Bersambung...