Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Makin Membaik


__ADS_3

Setelah beberapa menit berlalu, dan menyaksikan dokter memeriksa kondisinya, perlahan memori Kelvin mulai bekerja dengan normal.


Meski belum bisa bicara banyak, tetapi hatinya sudah cukup mampu untuk bercakap dengan diri sendiri.


Wanita yang ia lihat tadi ... tak lain dan tak bukan adalah Vale. Kejadian itu adalah sepenggal kenangan ketika keduanya masih berada di London, ketika cinta masih bermekaran seperti bunga-bunga yang menjadi saksi kebersamaan mereka.


Dalam keheningan ruangan itu, Kelvin mengulas senyum tipis, sampai nyaris tak terlihat. Wajah cantik serta sikap manis Vale kala dulu masih begitu nyata dalam ingatannya. Meski dia juga ingat bahwa Vale sudah menjadi bibinya, namun masa lalu tetap tak berubah. Dirinya adalah cinta sekaligus pacar pertama Vale. Dan fakta itu tidak akan pernah terhapus oleh apa pun.


"Semoga kamu baik-baik saja, Vale," batin Kelvin dalam diamnya.


Sekilas terlintas dalam ingatannya, detik-detik kecelakaan yang ia yakini disengaja oleh pihak tertentu. Kelvin mengambil resiko tinggi demi menyelamatkan Vale. Tak mengapa meski dirinya yang hampir kehilangan nyawa, asalkan Vale baik-baik saja. Mungkin ... dari pikiran itulah, Vale sampai hadir dalam mimpi di tengah masa kritisnya.


"Aku tidak meninggal, Vale. Kamu lihat, aku masih hidup dan anggota tubuhku juga masih lengkap." Kelvin kembali membatin seraya mengulas senyum yang lebih lebar.


"Tuan Kelvin, mohon ditunggu ya, saya akan memberi tahu keluarga Anda mengenai kondisi Anda saat ini."


Kelvin mengangguk samar, lantas menatap punggung dokter yang kian menjauh darinya.


Tak lama setelah dokter itu pergi, Annisa yang datang menghampiri. Sedetik saja, ia langsung disuguhi tangisan haru. Bahkan, wajah Annisa sampai basah karenanya.


Kelvin pula tak bisa menenangkan. Dia sekadar membalas genggaman Annisa di jemarinya, juga menggumamkan kalimat 'aku tidak apa-apa' dengan pelan dan sedikit terbata.


______


Kabar tentang Kelvin yang sudah siuman, dengan cepat menyebar di keluarga Brox. Jason yang masih terbaring di rumah sakit, langsung merasa lega dan bergegas melihat Kelvin dengan kursi rodanya. Camelia pun turut serta. Masing-masing melihat Kelvin dan kemudian bernapas lega.


Walau keadaan Kelvin masih parah, tetapi setidaknya sudah siuman. Selain itu, dokter memprediksi tidak ada cacat permanen dalam tubuh Kelvin. Kalaupun ada akibat yang ditimbulkan, kemungkinan besar bisa disembuhkan meski membutuhkan waktu yang agak lama.

__ADS_1


Selain Camelia dan Jason, Riu juga ikut senang mendengar kabar baik tersebut. Namun, dia menjadi orang paling terakhir yang datang ke rumah sakit. Hampir malam ia baru tiba di sana, ketika jarum jam sudah menunjuk enam. Mau bagaimana lagi, ada pekerjaan yang telanjur menumpuk dan tak bisa ditunda.


Atas izin dari dokter, Riu masuk ke ruangan tempat Kelvin dirawat. Hatinya kembali iba ketika melihat kondisi Kelvin, yang masih dipasangi bermacam alat kesehatan.


"Paman!" Kelvin yang lebih dulu menyapa. Meski suaranya pelan, namun syarat akan senyuman. "Bibi baik-baik saja, kan?" sambungnya.


Agak lancang, tetapi biarlah. Sejak siang tadi dia sudah mengkhawatirkan kondisi Vale, takut jika wanita itu masih terluka dan merasa sakit sepertinya. Mau tanya ke orang lain, siapa? Ibu dan kakeknya lebih sering di rumah sakit, jadi tak mungkin paham dengan keadaan Vale. Riu-lah satu-satunya orang yang paling tepat untuk ia tanyai.


"Dia baik-baik saja, pun dengan dua sepupumu."


Ada binar kebahagiaan di mata Kelvin ketika mendengar jawaban Riu. Bukan hanya Vale yang baik kondisinya, melainkan juga anaknya. Dan ... dua kata Riu? Artinya, anak Vale kembar?


Tak ingin sekadar menebak-nebak, Kelvin menanyakan hal itu langsung kepada Riu. Lantas mendapat jawaban pasti—perihal Oliver dan Orion.


"Aku berterima kasih, karena kamu sudah menyelamatkan Vale. Tapi ... aku juga tidak suka dengan caramu. Kamu terlalu mengambil resiko. Tidak sadarkah jika itu bisa memperpendek umurmu?" kata Riu sesaat kemudian.


Riu mendengkus kasar. Dari hasil laporan kejadian tempo hari, memang tidak ada cara lain untuk menolong Vale, selain menghentikan truk itu. Namun tak dipungkiri, dia juga kesal dengan keberanian Kelvin. Karena itu berakibat fatal, bahkan hampir membuat dia kehilangan nyawa.


"Lain kali aku akan memahami keadaan dengan baik. Kejadian seperti ini, kupastikan tidak akan terulang lagi," kata Riu.


"Aku percaya dengan kemampuanmu, Paman. Tapi ngomong-ngomong ... bagaimana dengan orang di kantormu? Aku yakin dia ikut terlibat."


Kelvin mengungkit kembali peran Erwin—seseorang yang membuat Vale pergi pagi itu.


Sampai detik ini pun Kelvin masih merasa bahwa laporan tersebut janggal, makanya waktu itu dia nekat membuntuti Vale, walaupun sudah dilarang oleh Annisa.


"Dia sudah mendekam di penjara, berikut dengan orang lainnya yang ikut terlibat. Aku tidak akan memberi ampun. Mereka akan menghabiskan waktunya di dalam jeruji, sampai mati juga akan tetap di sana," jawab Riu.

__ADS_1


Selanjutnya, hening. Baik Kelvin maupun Riu, tak ada yang membuka suara.


Baru setelah lima menit berlalu, Kelvin kembali mengucap kata.


"Kamu adalah pria terhebat yang pernah kukenal. Bahkan, melebihi Kakek dan juga papaku sendiri. Paman, dari sini aku paham bahwa tidak salah Vale memilihmu. Menikah dan hidup bersmamu adalah keputusan yang paling tepat. Karena kamu ... adalah lelaki yang pasti bisa memberikan dunia untuknya."


Riu tak langsung menyahut, hanya melayangkan tatapan penuh selidik ke arah Kelvin.


"Kamu masih mencintainya?"


Kelvin sekadar tersenyum.


"Kamu___"


"Tapi, akan kusimpan untuk diriku sendiri. Aku paham, kamu yang lebih pantas bersamanya," pungkas Kelvin sebelum Riu melanjutkan kalimatnya.


"Aku pernah ada kenangan dengannya, tak mudah menghapus itu semua, Paman. Tolong mengertilah!" sambung Kelvin.


Riu berpaling dengan cepat, bahkan disertai embusan napas kasar.


"Wanita buka hanya Vale saja. Jika kamu mau membuka hati untuk wanita lain, tidak akan sulit melupakan dia, sekalipun pernah ada kenangan."


"Iya, Paman. Nanti aku akan mencobanya."


"Dan satu lagi, simpan pengakuanmu tadi untuk dirimu sendiri. Jangan sampai aku mendengar untuk kedua kali. Karena jika tidak, aku akan menghajarmu. Persetan meski kamu akan kritis lagi!" ujar Riu sambil menatap tajam, namun Kelvin yakin itu tak seserius kelihatannya. Hanya sebuah penegasan bahwa Riu cemburu dan tak suka dengan cinta yang masih ia pendam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2