Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Jika Kamu Ragu, Lebih Baik Tidak Usah Tahu


__ADS_3

Dalam map tersebut tersimpan semua informasi detail tentang masa lalu Jason, berikut dengan orang-orang yang berhubungan dengannya. Bisa dikata, semua yang tertera di sana adalah rahasia paling rumit dalam lingkup keluarga Brox.


Di lembaran awal, terdapat bukti akurat tentang hubungan Jason dengan seorang wanita dewasa yang cukup cantik. Itu terjadi sebelum ada Riu. Kala itu, Jason dan Miranda sedang ada dalam impitan ekonomi yang cukup serius, sehingga Jason nekat menyeleweng dengan wanita lain demi harta.


Namun, hubungan itu tidak berlangsung lama. Semua karena hadirnya Dilara dalam kehidupan Jason. Dilara Beatrisa, dia lebih cantik dan lebih kaya dibanding wanita sebelumnya. Jadi tanpa segan, Jason mencampakkan wanita itu dan menikahi Dilara. Itu pun tanpa cinta, karena sejatinya semua hati hanya untuk Miranda.


Akan tetapi, hal yang sama tidak terjadi pada wanita itu. Kendati tahu bahwa Jason sudah beristri, tetapi cinta terpatri jelas untuknya. Perpisahan itu pun menjadi luka terdalam baginya. Sebuah luka yang tidak sekadar membuat dia menangis atau bersedih beberapa hari, melainkan membuatnya putus asa hingga jatuh sakit, sampai akhirnya ... nekat mengakhiri hidup.


Entah pesona apa yang dimiliki Jason semasa mudanya, hingga banyak wanita yang tergila-gila sampai mengesampingkan logika.


"Paman ... apa ini serius?" Sander bertanya sambil menatap lembaran kedua. Di mana di sana tertera informasi rinci mengenai hubungan wanita masa lalu Jason dengan Theo dan Vir.


"Apa bukti-bukti itu masih belum cukup untuk membuatmu percaya?" Riu balik bertanya, seraya duduk kembali di atas kursi.


Sander tak bicara lagi, sekadar menatap nanar pada sebuah tulisan yang mengatakan bahwa Theo dan Vir adalah adik angkat dari wanita yang bernama Airin. Mereka sebelumnya tinggal di panti asuhan. Ayah Airin-lah yang mengadopsi mereka dan memberikan kehidupan yang lebih layak. Maka tak heran, dendam langsung membara ketika melihat kakak angkatnya mengakhiri hidup dengan tragis, juga melihat sang ayah angkat kian kalut dalam kesedihan.


Demi menuntaskan dendam, mereka sampai rela melakukan banyak hal. Termasuk menutupi semua hubungan dengan Airin agar bisa mendekati Annisa dan Camelia, bahkan keduanya pun berlagak seperti orang asing yang belum pernah kenal.


Beruntungnya, ketampanan cukup untuk menjerat anak-anak Jason. Sampai Jason sendiri saja tidak curiga dengan Theo dan Vir. Ia pikir, mereka adalah menantu yang menyayangi kedua putrinya. Jason tak tahu jika tujuan utama mereka adalah menghancurkan keluarganya. Mereka akan menguasai semua harta yang ada, lantas mencampakkan Jason dan membuatnya hancur seperti Airin dulu. Kalau perlu membuatnya hidup segan mati tak mau.


Itu sebabnya, dulu Theo sangat bersikeras menghabisi Riu. Karena baginya, Riu-lah satu-satunya keluarga Brox yang paling berbahaya.


Kini terbukti, dia memang berbahaya. Bahkan dengan mudah mematahkan rencana yang sudah disusun sejak lama. Sebuah kegagalan yang akhirnya juga merenggangkan hubungan Theo dengan Vir. Sampai kemudian, mereka mengandalkan rencana pribadi yang lambat laun digagalkan jua oleh Riu.


Kini malah keduanya yang berakhir mengenaskan. Theo dipenjara, sedangkan Vir di rumah sakit jiwa.


"Apa Mama tahu semua ini? Atau ... Tante Annisa? Kakek?" tanya Sander lagi.


Riu menggeleng, "Kamu satu-satunya."


Sander mendongak dan menatapnya pamannya dengan lekat, bermaksud meminta penjelasan karena tidak mungkin dia menjadi satu-satunya tanpa alasan.

__ADS_1


"Di antara ayah, kakak, dan keponakan, menurutku kamu yang paling bisa berpikir jernih. Tahu bagaimana cara menempatkan logika dan tidak terburu-buru. Jadi, kamu pantas mengetahui ini," ujar Riu.


Sander mengangguk pelan. Pikiran dan perasaan masih kacau tak karuan. Bagaimana tidak, ternyata dia hanyalah anak dari lelaki brengsek. Laki-laki yang berniat menghancurkan istri dan mertuanya sendiri.


Kendati begitu, tak bisa dipungkiri, di ruang hati yang paling dalam masih ada rasa sayang yang begitu tulus untuk sang ayah.


"Kamu laki-laki, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Tidak ada gunanya merutuki keadaan atau menyesali takdir Tuhan. Lebih baik ... bergeraklah dan perbaiki apa yang menurutmu belum baik. Lakukan sesuatu yang berguna untuk masa depanmu juga masa depan orang-orang yang kamu sayangi." Riu memberi sedikit wejangan yang cukup menggerakkan hati Sander.


"Paman!"


"Hmmm."


"Sejak kapan kamu tahu ini? Dan ... bagaimana caranya?" tanya Sander. Jujur, ia penasaran dengan semua kemampuan yang dimiliki Riu.


"Belum lama. Aku tidak ini, sesaat setelah menyelidiki kecelakaan yang menimpaku beberapa tahun lalu." Riu menjawab dengan pandangan datar. Ingatannya kembali pada masa itu, ketika dia mulai mengetahui satu per satu sisi kelam di balik keluarga Brox.


"Siapa yang membantumu, Paman? Tidak mungkin kan kamu melakukan semua ini sendiri?"


Sander diam seketika. Jika sudah begini, artinya Riu tidak akan membagi informasi. Didesak pun tidak akan bocor rahasia itu. Dia tahu, Riu tidak akan mengatakan apa yang tidak ingin ia katakan.


"Kalau begitu, aku pamit pulang, Paman. Terima kasih untuk jawabannya," pamit Sander setelah beberapa menit terdiam.


Riu mengangguk dan mengantar Sander hingga ambang pintu, tanpa mengucap apa pun lagi.


________


Semilir angin malam yang sedikit dingin, berulang kali menerpa dan membelai mesra. Sedangkan lampu-lampu kota, seperti kegirangan menerangi malam. Sebagian sorotnya memberi warna pada asap rokok yang terus mengepul dari bibir tipis milik lelaki bermata hazel. Siapa lagi kalau bukan Riu.


Di atas kursi, di balkon kamar, ia duduk berdua dengan Vale. Saling merapat dan menggenggam satu sama lain. Vale setia dalam diamnya. Dia tahu suaminya akan bercerita sesuatu, dan mungkin menunggu detik yang tepat untuk memulainya.


Benar saja, sekitar tiga menit kemudian Riu mulai membuka suara, seraya membuang puntung rokok ke dalam asbak.

__ADS_1


Butuh waktu yang sedikit lama bagi Riu untuk bicara dan bercerita, tentang rahasia yang melingkupi keluarga Brox, yang tadi sudah dia katakan kepada Sander.


"Sayang, kamu tahu fakta sebanyak ini ... kenapa tidak bilang apa-apa pada Papa?" Tanggapan Vale setelah Riu selesai bercerita.


Riu tertawa sumbang, "Aku egois. Aku sengaja diam karena takut Papa kepikiran, yang nanti bisa berpengaruh pada kesehatannya. Jika Papa tahu Airin sudah meninggal karena bunuh diri, mungkin sedikit banyak dia akan merasa bersalah. Terkadang aku memang membencinya, tapi ... bagaimanapun juga dia adalah ayahku."


"Tapi ... menurutku kesalahan juga tidak hanya bertumpu kepada Papa, tapi pada Airin juga. Sebagai wanita, seharusnya dia tidak menjalin hubungan dengan lelaki beristri. Dia___"


"Sama seperti mama kandungku. Dia juga menjadi orang ketiga. Seringkali ... aku juga menyayangkan sikapnya itu."


Vale tersentak. Dia baru sadar jika ibu Riu juga pernah menjadi selingkuhan mertuanya, bahkan sampai menikah dan punya anak.


"Aku ... aku___"


"Tenang saja, aku tidak apa-apa. Aku sangat sadar seperti apa orang tuaku, sama-sama memiliki catatan hitam yang tidak pantas didengar anak cucu."


"Jangan berkata begitu, semua orang punya kekurangan. Tapi, di balik itu pasti ada kelebihan yang tidak dimiliki orang lain," jawab Vale.


Riu tersenyum, lalu menatap Vale dengan lekat.


"Tapi, terkadang aku penasaran. Bagaimana bisa kamu melakukan itu semua. Jujur ... kamu terlalu hebat dari apa yang ada dalam bayangan aku," ucap Vale.


"Kamu yakin ingin tahu?"


Vale mengangguk.


Riu menarik napas panjang, "Aku akan menjawab, tapi sebelumnya kamu harus berjanji. Apa pun jawabanku nanti, jangan pernah berpikir untuk pergi. Jika kamu ragu, lebih baik tidak usah tahu."


Vale kesulitan menelan ludah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2