
"Tuan Riu, sebelumnya maaf, tapi saya harus menyalahkan Anda dalam hal ini. Nyonya Vale sedang hamil dan kondisi janinnya sedikit lemah, tetapi Anda mengajaknya bepergian jauh. Apa tidak bisa ditunda dulu? Setidaknya sampai keadaan Nyonya dan bayinya cukup kuat."
Penjelasan dokter yang menangani Vale membuat Riu membelalak. Bukan main kagetnya. Sejauh ini dia belum menduga bahwa Vale hamil, karena wanita itu tidak menunjukkan perubahan apa pun, juga tidak mengatakan bahwa dirinya telat.
"Anda serius, Dok? Istri saya hamil?" Riu kembali memastikan, kalau saja pendengarannya tadi salah.
"Apa Anda belum tahu? Usia kandungan Nyonya sudah enam minggu loh."
Riu makin terkejut. Enam minggu, satu bulan setengah. Itu artinya Vale hamil sebelum mereka bulan madu, ahh ... malah sebelum pesta pernikahan digelar.
"Tidak ada perubahan dalam istri saya, jadi ... saya tidak menyadari itu, Dokter," ujar Riu sesaat kemudian.
Dokter menarik napas panjang, "Ya sudah, tidak apa-apa. Ke depannya saja tolong jaga Nyonya Vale dengan baik. Kehamilan dalam trimester pertama itu masih rentan, jadi harus benar-benar diperhatikan."
Riu mengangguk-angguk. Setengah hati merasa bahagia karena benihnya sudah tumbuh, tetapi setengahnya lagi merasa menyesal. Andai dari tempo hari dia bisa membujuk Vale untuk pergi ke rumah sakit, pastilah kehamilan itu bisa diketahui lebih awal, sehingga dia bisa mencari jalan aman untuk pulang.
"Sekarang bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Riu, masih mengkhawatirkan sang istri yang belum juga siuman.
__ADS_1
"Kondisinya sudah lebih baik, kemungkinan besar akan sadar dalam waktu dekat. Selain faktor kelelahan, saya juga memprediksi ada makanan atau aroma tertentu yang tidak cocok dengan kondisi Nyonya Vale, sehingga menyebabkan pusing."
"Terima kasih untuk penjelasannya, Dokter. Nanti, saya akan menjaganya dengan lebih baik lagi," jawab Riu.
Tak lama setelah itu, perbincangan keduanya berakhir. Dokter memberinya resep obat yang harus ditebus.
Usai melakukannya, Riu kembali ke IGD dan melihat Vale yang masih terbaring lemah. Senyum haru dan juga tatapan cemas menghiasi wajah Riu pada detik yang bersamaan. Dalam hati ia tak henti memanjatkan doa untuk kesembuhan wanitanya.
"Maafkan aku yang gagal menjagamu, Sayang. Ke depannya aku janji, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," gumam Riu.
Lantas, ia kembali duduk di kursi tunggu, di depan IGD. Ia keluarkan ponsel guna menghubungi mertuanya, yang terakhir kali ditelepon selagi masih di bandara London.
"Pingsan? Hamil?" Suara di seberang sana terdengar kaget. "Riu, beri tahu Papa di rumah sakit mana kalian," sambungnya.
Riu pun memberi tahu mertuanya terkait rumah sakit yang menangani Vale saat ini. Setelah itu telepon diakhiri karena Riu juga akan menghubungi ayahnya. Meski kecewa masih ada, tetapi Riu tak ingin terlalu mengabaikan. Terlepas nanti anaknya akan disayang atau tidak, yang penting Riu mengabarkan tentang kehadirannya.
"Riu, kamu sudah sampai rumah kah?" tanya Jason ketika telepon sudah terhubung.
__ADS_1
"Sudah tiba di Jakarta, tapi belum sampai rumah. Vale tadi pingsan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Dia hamil," jawab Riu.
"Apa! Baik, Papa akan segera ke sana."
"Terima kasih, Pa." Riu menarik napas panjang dan menyimpan kembali ponselnya.
Sementara di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah utama keluarga Brox, Kelvin dan Annisa menatap Jason dengan penuh tanya. Mereka tahu si penelepon barusan adalah Riu, tetapi keduanya tidak tahu apa gerangan yang disampaikan hingga Jason tersentak seketika.
"Ada apa, Pa?" tanya Annisa.
"Adikmu sudah tiba, tapi masih di rumah sakit. Vale mendadak pingsan, dia ... hamil."
Annisa hampir tak berekspresi. Kehamilan Vale bukanlah sesuatu yang mengejutkan baginya, juga bukan sesuatu yang patut ditanggapi secara berlebihan. Saat ini, kebencian untuk Riu sudah tidak ada. Namun, rasa sayang pula belum ada. Jadi, biasa saja.
Akan tetapi, lain cerita dengan Kelvin. Lelaki yang masih gagal move on itu menggertakkan giginya kuat-kuat, menahan agar tidak mencaci dan mengumpat.
Kesal dan kecewa, itulah yang dia rasakan saat ini. Pernikahan mereka saja sudah membuatnya tidak karuan, apalagi kehamilan.
__ADS_1
"Yang kuharapkan adalah cintamu yang dulu, tapi kamu malah memberiku sepupu. Vale ... tidak tahukah kamu jika ini sangat menyakitkan bagiku?" batin Kelvin.
Bersambung...