Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Tawaran Kerja Sama


__ADS_3

Hari masih cukup pagi, jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00. Namun, Riu sudah berada di kantornya. Dia sengaja datang lebih awal karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, juga ada janji jam sepuluh nanti dengan orang yang semalam menghubungi Baron. Seseorang yang ternyata perwakilan dari perusahaan luar negri—Singapura, yang sebelumnya masuk dalam daftar perusahaan incaran Riu.


Demi urusan pekerjaan tersebut, tadi Riu hanya sebentar ke rumah sakit. Ada sedikit kelegaan karena kondisi sang ayah mulai ada kemajuan. Pria paruh baya itu sudah membuka mata, namun masih belum bisa merespon ketika diajak bicara, akibat dari tekanan darah yang masih tinggi.


"Ahh!" Riu membuang napas kasar.


Lelah perlahan menyerang ketika menatap pekerjaan yang menumpuk. Ada begitu banyak berkas yang harus ia periksa, yang pastinya akan memakan banyak waktu. Tidak menutup kemungkinan, dia harus lembur malam nanti.


Guna mengusir penat yang sudah mendominasi, Riu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Ia juga minta dibuatkan kopi dengan ukuran cangkir yang lebih besar dari biasanya.


Entah karena pekerjaan saja atau juga karena beban pikiran, pagi itu semangatnya seakan menguar bersama angin lalu.


Setelah menghabiskan sebatang rokok dan setengah gelas kopi, Riu memaksakan diri untuk duduk di kursi kerja dan fokus dengan tumpukan berkas di meja.


Cukup lama Riu menyibukkan diri di sana. Sampai kemudian, Baron mengabarkan bahwa seseorang yang hendak menemuinya sudah berada di lobi.


"Baron, kamu ikut denganku!" ujar Riu sembari bangkit dari duduknya.


"Baik, Tuan."


Dengan ditemani Baron, Riu keluar dari ruangan dan menemui seseorang yang semalam sudah membuat janji.


Jika menurut pengakuannya, dia datang untuk menawarkan kerja sama. Namun, Riu masih belum yakin, karena sepanjang perjalanan kariernya, belum pernah ia menemui jalan semulus ini.


Perusahaan incaran tiba-tiba datang lebih dulu dan menawarkan kerja sama? Andai benar itu terjadi, sungguh keberuntungan terbesar bagi Riu. Ibaratnya, imbalan atas musibah yang menimpa sang ayah.


Beberapa saat kemudian, Riu dan Baron tiba juga di hadapan tamu tersebut. Dia adalah seorang lelaki dengan penampilan yang sangat elegan. Tingkah laku pun sopan, terlihat jelas bahwa dia bukanlah orang sembarangan. Memang, nama perusahaan yang ia bawa bukanlah perusahaan biasa. Sudah pasti menjaga sikap agar tak meninggalkan kesan buruk.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan Riu, perkenalkan saya Stivo, wakil dari Jester Corporation. Sesuai dengan yang saya katakan semalam, saya ke sini atas nama perusahaan, datang untuk menawarkan kerja sama. Profil perusahaan kami cukup bagus. Selain menjadi salah satu perusahaan terkemuka di Singapura, perusahaan kami juga sudah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan di negara yang berbeda." Orang yang bernama Stivo menyerahkan berkas yang berisi informasi terkait perusahaan tempat ia bernaung.


Riu mengambilnya. Lantas, memeriksanya dengan jeli. Dan datanya sama persis dengan yang ia peroleh kemarin.


Tak berselang lama, Riu beralih pada berkas yang berisi pengajuan kerja sama. Ia pahami setiap poin yang ada di dalamnya. Cukup menguntungkan.


Sebelum Riu bertanya lebih lanjut, Stivo kembali menjelaskan siapa dirinya. Dia adalah orang asli Indonesia yang bekerja lama di Singapura, karena istrinya memang orang sana. Kendati begitu, Stivo masih aktif mengikuti perkembangan bisnis di negaranya sendiri. Oleh sebab itu, ketika dia mendapat perintah untuk mencari mitra di negaranya, Stivo sudah tahu ke mana harus menjatuhkan pilihan.


"Saya sudah lama mengikuti berita tentang Anda, baik sepak terjang Anda maupun perusahaan yang Anda kelola saat ini. Dan itu luar biasa. Saya sudah lama punya angan-angan untuk bisa bekerja sama dengan Anda, dan sekarang atasan memberikan kesempatan itu. Jadi, bagaimana menurut Anda, Tuan Riu?" ujar Stivo setelah cukup lama diam dan sekadar menatap gerak-gerik Riu.


Riu menarik napas panjang, lantas berkata, "tawaran ini sangat menarik. Tapi, biar saya diskusikan dulu dengan yang lain. Saya tidak bisa mengambil keputusan tanpa berpikir matang."


"Anda memang luar biasa, Tuan. Sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan. Tapi ... saya mohon, Anda pahami juga posisi saya. Atasan tidak memberi waktu yang sangat lama untuk mencari mitra. Jadi, saya juga menunggu kabar dari Anda secepatnya. Karena jika nanti Anda menolak, setidaknya saya masih ada waktu untuk mencari mitra yang lain."


Riu mengangguk paham. Dalam dunia bisnis waktu memang sangat berharga. Jangankan sehari dua hari, satu atau dua jam saja sudah berarti.


Stivo tersenyum. "Baik, Tuan Riu. Saya akan menunggu jawaban Anda."


"Iya, terima kasih."


"Sama-sama, Tuan Riu, saya juga berterima kasih banyak atas waktu yang Anda luangkan."


Setelah menyudahi obrolan yang serius itu, Stivo pamit pergi dan meninggalkan ruangan tempat Riu dan Baron berada. Dua lelaki itu masih diam dengan pikirannya sendiri-sendiri, bahkan sampai beberapa menit berlalu belum ada perbincangan di antara mereka.


"Tuan, apakah Anda merasa janggal?" tanya Baron dengan hati-hati.


"Apa kamu curiga ini berhubungan dengan seseorang yang menelepon Papa kemarin?" Riu balik bertanya.

__ADS_1


"Saya juga tidak yakin. Tapi, tiba-tiba pihak Jester Corporation datang ke sini dan menawarkan kerja sama, bukankah ini aneh? Perusahaan itu sangat besar, bahkan masuk dalam daftar incaran kita. Kalaupun mencari mitra, seharusnya pada mereka yang jauh lebih besar dari perusahaannya sendiri. Bukankah begitu, Tuan?"


Riu mengangguk-angguk. "Kamu benar. Tapi ... Singapura dengan Eropa cukup jauh. Seharusnya mereka tidak saling berhubungan."


"Jujur ... saya takut ini hanya jebakan."


"Kamu tidak perlu khawatir, Baron. Aku tidak akan tanda tangan sebelum memastikan ini aman."


Baron sedikit lega karena ternyata tuannya tetap berhati-hati. Dia tak rela jika sampai tawaran kerja sama barusan hanyalah jebakan yang akan menghancurkan perusahaan.


"Siapkan penerbangan kita ke Singapura. Aku akan menemui pemilik Jester Corporation secara langsung. Baru aku bisa mempertimbangkan tawaran itu," ucap Riu.


"Baik, Tuan."


"Oh ya, sekalian beritahu semuanya untuk rapat siang ini. Aku juga ingin tahu bagaimana pendapat mereka tentang kerja sama tadi," lanjut Riu.


"Baik, Tuan." Baron mengangguk patuh.


Lantas, ia bergegas pergi meninggalkan ruangan, guna mempersiapkan rapat yang akan dilangsungkan siang itu juga.


Kini, tinggal Riu seorang di dalam ruangan. Hening, tak ada suara apa pun, sekadar embusan napasnya sendiri yang samar-samar masuk pendengaran.


Dalam kesunyian itu, Riu kembali berpikir, apa gerangan yang sebenarnya terjadi? Benarkah musibah yang menimpa Jason berhubungan dengan kabar baik yang dibawa Stivo?


Sempat terniat dalam hatinya untuk menolak tegas tawaran Stivo tadi. Namun, Riu juga berpikir, jika dua hal itu tidak berhubungan dan hanya kebetulan datang bersamaan, bukankah dia sendiri yang akan rugi? Bekerja sama dengan Jester Corporation merupakan peluang emas untuk mengepakkan sayap di luar negeri. Jarang-jarang ada awal bagus seperti yang ia dapati hari ini.


"Aku akan menemukan jawabannya setelah tiba di Singapura nanti. Masih ada cukup waktu untuk memahami ini, sambil menunggu kabar terbaru dari Rocky," batin Riu dalam kesendiriannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2