Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Kejutan


__ADS_3

"Kamu ... bukan mafia, kan? Tidak terlibat dengan dunia yang semacam itu, kan?"


Vale bertanya cepat. Tatap matanya menyiratkan kekhawatiran yang tinggi. Bagaimana tidak, karena jika benar Riu ikut bergabung dengan dunia semacam itu, sampai kapanpun akan sulit mundur. Selain itu, pasti sering ada posisi di mana dia harus menghabisi sebuah nyawa demi lancarnya rencana dan tujuan.


Beruntungnya, Riu menggeleng. Meski bibir mengukir senyum masam, tetapi Vale merasa lega karena suaminya bukan seorang mafia.


"Lantas, apa?" tanya Vale. Tak sabar ingin mendengar pengakuan Riu.


Sebelum menjawab, Riu terlebih dahulu mengambil sebatang rokok. Menyulutnya lagi dan menghisap kuat-kuat, seakan-akan ingin menumpukan segala beban pada bungkusan nikotin itu.


"Setelah tahu bahwa aku bukan anak kandung Mama Miranda, aku mencari tahu tentang semua yang berhubungan dengan Mama Dilara. Dalam hal ini, Baron yang membantuku." Riu menjeda kalimatnya sesaat, dan Vale masih setia menunggu.


"Setelah mengantongi beberapa nama dan nomor kontak mereka, aku menghubungi satu per satu. Meski keluarga dekat, tapi tidak semua menerima baik diriku karena dulu hampir tidak ada yang merestui hubungan Mama dengan Papa. Namun, ada satu orang yang sangat baik dan selama ini terus membantuku. Dia kakaknya Mama. Walau istri dan anaknya tidak suka denganku, tapi dia tetap membantu, bahkan dia juga yang mengenalkanku dengan Kairi."


"Lalu ... di mana masalahnya? Kenapa sampai takut aku pergi?"


Riu menarik napas panjang, "Sayang, apa kamu masih tidak sadar jika keluargaku terlalu banyak masalah? Baik dari Papa, maupun dari Mama. Sekarang memang baik-baik saja, bahkan aku bisa meredam segala sesuatu yang kiranya berbahaya. Tapi, entah untuk nanti. Bisa saja masalah yang sudah redup itu kembali muncul dan mendominasi," terang Riu.


Vale mengangguk pelan. Sedikit banyak ia mulai paham dengan kekhawatiran Riu. Keluarga yang rumit dan penuh konflik, tidak menutup kemungkinan suatu saat masalah akan pecah dan menimbulkan kekacauan dari masing-masing pihak. Jika benar begitu, maka posisinya pun akan terseret juga dalam bahaya.


"Terkadang kebencian membuat orang bertindak nekat. Posisi kamu sebagai istriku, dalam sisi-sisi tertentu sangat berbahaya. Aku hanya tidak mau kamu merasa takut dan berniat pergi. Aku tidak mau kamu menganggap hidup denganku adalah sebuah kesialan. Sebut saja aku egois, tapi aku memang tidak mau kehilangan kamu." Riu kembali bicara, dan kalimat terakhirnya membuat Vale tersipu.


Entah karena cinta yang sudah membara dalam jiwa atau mungkin sebuah keyakinan pada kemampuan, yang jelas saat ini Vale tidak merasa takut. Meski posisinya terbilang berbahaya, namun Vale yakin semua akan baik-baik saja.


"Aku tidak akan pergi. Aku percaya kamu mencintaiku, dan aku percaya kamu tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti wanita yang kamu cintai ini," ucap Vale begitu lembut. Bukan sekadar merayu atau menggoda, melainkan mengatakan kenyataan.


Dalam hatinya memang seperti itu, sangat yakin pada kemampuan Riu. Menurutnya, semua akan baik-baik saja selagi ada Riu di sampingnya.


Tak lama kemudian, Vale merasakan sebuah dekapan hangat, juga kecupan mesra dengan sedikit aroma nikotin.


"Terima kasih sudah percaya padaku, Sayang. Kamu benar ... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang yang kucintai. Baik itu kamu, ataupun buah hati yang ada padamu nanti," bisik Riu.

__ADS_1


Vale hanya menyuguhkan anggukan dan senyuman, yang diiringi dengan tatapan lekat. Itu sudah mewakili apa yang ada dalam hatinya, bahkan lebih baik dibanding kalimat-kalimat panjang.


'Tidak salah aku menganggap dia segalanya bagiku.'


Sebuah ungkapan yang muncul dalam benak Riu.


Kehadiran Vale memang seperti cahaya dalam hidupnya, senantiasa menerangi setiap sekat dalam hati yang selama ini pengap dan gelap. Menyalanya cinta untuk Vale perlahan mengikis dendam dan benci yang sebelumnya merajai.


Bersama Vale, Riu seolah mendapatkan kembali dunianya.


"Ternyata ada kelegaan setelah menceritakan ini padanya," batin Riu sambil menatap jeli wajah cantik Vale yang berada tepat di depannya.


Sebentuk wajah yang kian memamerkan senyum manisnya, yang begitu memikat hingga Riu tak bisa berpaling sedetik pun. Bahkan, ia sampai membuang sisa rokok yang masih separuh.


Bermula dari tatapan dan senyuman, lama-lama bibir saling bertautan. Diikuti dengan gerakan tangan yang kian lama kian menjelajah ke mana-mana. Sampai akhirnya ... malam menjadi saksi bisu atas melodi cinta yang mengalun di antara peluh.


_______


"Besok aku pergi dengan istriku. Ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi, jadi waktunya agak lama. Sekitar ... dua atau tiga minggu. Kamu baik-baik menjaga perusahaan, jangan sampai melakukan kesalahan yang serius. Jika ada apa-apa telepon saja, aku akan selalu aktif."


"Baik, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda." Baron mengangguk patuh.


"Bagus. Kamu memang orang yang bisa kuandalkan." Setelah itu, Riu kembali menjabarkan apa saja yang harus dilakukan Baron selama tidak ada dirinya.


Usai berbincang serius dengan Baron, Riu kembali ke kamar dan mengajak sang istri makan pagi bersama. Setelah itu, keduanya mengemas pakaian dan barang lain yang akan dibawa besok.


Tempat yang mereka pilih adalah Inggris. Riu akan mengajak Vale berkeliling di kota-kota wisata yang ada di sana, termasuk London. Meski dulu Vale sudah menghabiskan banyak waktu di sana, tetapi kali ini Riu akan memberikan kejutan yang berkaitan dengan kota itu.


Selain untuk memberikan rasa aman terhadap Vale, Riu juga punya rencana baru yang berkaitan dengan London. Apalagi jika bukan tentang bisnis. Dulu Brox sudah mengembangkan sayap di sana. Kalaupun sekarang masih redup, tetapi suatu saat harus ada waktunya lagi. Dan Riu yakin, dia bisa melakukannya.


Setelah seharian melakukan persiapan, akhirnya tiba juga keesokan paginya.

__ADS_1


Riu dan Vale bersama-sama berangkat menuju bandara, hendak melakukan penerbangan panjang—sekitar 16 jam.


_______


Usai melakukan perjalanan yang melelahkan, Riu dan Vale tiba juga di bandara internasional London. Kala itu waktu masih siang, dan terangnya di sekitar mengingatkan Vale pada masa-masa dulu, ketika pertama kali dia menginjakkan kaki di sana. Begitu girang dia, tanpa tahu jika tempat itu akan melukiskan bermacam kenangan dalam sejarah cintanya.


Luka, kecewa, sedih, benci, semua ada di sana. Walaupun sekarang luka dan segala sakitnya sudah terkikis habis, tetapi tidak menutup kenyataan bahwa masa-masa itu pernah ada.


"Kita akan ke mana dulu?" tanya Vale begitu keluar dari area bandara.


"Ke suatu tempat yang menjadi kejutan untukmu," jawab Riu.


Vale mengangguk singkat. Dari awal Riu sudah mengatakan bahwa ada kejutan untuknya. Namun, sampai sekarang Vale belum tahu kira-kira apa itu.


"Ini sudah sampai di London loh, kamu masih tidak mau memberitahuku? Ya ... kalaupun tidak to the poin, tapi kasih clue lah."


"Kalau aku beri tahu sekarang, tidak lagi menjadi kejutan. Benar, kan?" jawab Riu, masih bersikeras menyembunyikannya dari Vale.


Wanita cantik itu pun hanya bisa mengalah, karena Riu memang berpendirian teguh. Hingga tak ada pilihan lain selain melupakan sejenak kejutan dan mengisi perjalanan dengan obrolan ringan.


Sampai akhirnya, Vale merasa familier dengan jalan yang mereka lewati kini. Meski sudah beberapa waktu tidak ke sana dan sudah ada perubahan terkait bangunan di kanan kirinya, tetapi Vale yakin itu adalah jalan yang pernah ia lewati.


Kendati begitu, Vale tidak bertanya apa pun. Dia memilih menunggu sampai Riu menunjukkan sendiri kejutan yang akan diberikan.


"Sebenarnya dia akan mengajakku ke mana?" batin Vale.


Sekitar setengah jam kemudian, sopir menghentikan laju mobil. Sembari menoleh ke belakang, dia mengatakan bahwa mereka sudah tiba di tempat tujuan.


Riu mengangguk, artinya memang itu tempat tujuannya. Sementara Vale, dia masih tak bisa berkata apa-apa. Berulang kali dia menatap ke depan dan juga menatap suaminya secara bergantian.


"Apa maksudnya ini?" tanya Vale dengan suara lirih.

__ADS_1


Dia benar-benar terkejut. Tempat yang ada di hadapannya adalah tempat yang amat sangat familier. Meski ia belum pernah memasukinya, tetapi dia paham benar dengan itu.


Bersambung...


__ADS_2