Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Keberuntungan dari Zack


__ADS_3

Sesuai waktu yang telah dijanjikan, Riu terbang ke Spanyol satu minggu setelah Zack mempertanyakan hal itu. Beruntungnya, kondisi Jason dan Kelvin sudah membaik, pun dengan Vale dan si kembar. Jason sudah diizinkan pulang meski masih butuh kursi roda untuk berjalan, sedangkan Kelvin sudah keluar dari ICU dan menjalani perawatan normal. Di sisi lain, Vale juga sudah pulih. Jadi, Riu sedikit tenang ketika meninggalkan mereka dalam beberapa waktu.


Setelah mendarat di Madrid, Riu tak membuang waktu. Dia langsung menemui sang paman yang kala itu sudah menunggu di kediaman. Dengan dijemput sopir pribadi pamannya, tak sulit bagi Riu untuk segera tiba di sana.


Tepat pukul 19.30 waktu setempat, Riu tiba di kediaman Zack. Namun kala itu, suasana masih seperti senja di Indonesia.


"Akhirnya kau tiba juga, Nak. Bagaimana kabarmu?" sambut Zack. Selain senyum ramah, ia juga memeluk Riu serta memberikan tepukan di punggung.


Riu membalas pelukan Zack sambil berkata, "Aku baik, Paman. Istri dan anak-anakku juga baik."


Zack mengangguk-angguk usai mengurai pelukan. Lantas kembali tersenyum lebar, mencetak kerutan lebih banyak di wajah tuanya.


"Ayo duduk. Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu."


Riu menurut, mengikuti langkah sang paman menuju ruang tamu. Kemudian duduk di sofa dan menyuruh pelayan membawa barang bawaannya, menuju kamar di lantai dua.


"Siapkan minum untuk kami, dan ... beri tahu Martina untuk membawa Lucia kemari!"


Mendengar ucapan Zack, Riu mengernyitkan kening. Lucia? Siapa gerangan? Namanya masih sangat asing. Apa mungkin itu sesuatu yang disebut pamannya tadi? Lantas ... apa maksudnya?


"Siapa Lucia?" tanya Riu.


Zack tersenyum. "Dia gadis cantik. Kau pasti akan menyukainya."


Riu menggeleng-geleng, seraya memasang tampang kesal. Kalaupun itu sebuah candaan, menurutnya sangat tidak lucu. Karena secantik apa pun wanita lain, tidak akan bisa menggantikan posisi Vale.


"Kau jelek jika seperti itu!" Zack terkekeh-kekeh. Seolah tak peduli dengan kedongkolan Riu, dia malah menyulut sebatang rokok dan mengisapnya kuat-kuat.


Selagi Riu belum sempat melayangkan protes, pelayan datang dan menyuguhkan dua gelas sangria. Namun, Riu tak langsung menyentuhnya. Dia masih tak tenang dengan ucapan Zack barusan.


Sampai kemudian, kegelisahan itu berakhir ketika ada seorang pengasuh datang sambil menggendong gadis kecil, sekitar lima tahunan, dan Zack memanggilnya 'Lucia.'


"Kau tidak membayangkan dia wanita dewasa sebaya istrimu, kan?" goda Zack masih dengan tawanya.


Riu sedikit tertawa. Barusan sempat berburuk sangka pada pamannya, tetapi ternyata tidak seperti yang ia bayangkan.


"Dia siapa, Paman?" Riu bertanya sambil menatap bocah kecil yang kini ada di pangkuan Zack.

__ADS_1


"Sekarang menjadi anakku," jawab Zack, lantas melanjutkan dengan setengah berbisik, "Orang tuanya meninggal karena kecelakaan."


Riu mengangguk paham. Pamannya memang kurang beruntung. Dia mandul dan tidak bisa punya anak. Tak heran jika sekarang mengadopsi anak lain, setelah dikecewakan Marc tempo hari.


"Aku dan bibimu sudah cerai. Aku tak suka dia malah mendukung Marc. Ke depannya, Lucia inilah anakku. Jika nanti aku tiada sebelum dia dewasa, kau bantu aku menjaganya," ujar Zack.


Riu menyanggupi pesan tersebut. Sejauh ini, keluarga dari ibu yang mau menganggapnya hanyalah Zack. Konon katanya, Zack memang sangat menyayangi Dilara. Wajar jika sekarang kasih sayang itu menurun untuk Riu.


Keadaan yang mandul membuat Zack menerima dengan tulus sang istri yang kala itu sedang hamil. Hingga akhirnya Marc lahir, Zack menganggapnya seperti anak kandung. Memberikan kasih sayang serta materi yang tak terkira. Sayangnya, iri hati membuat Marc berbuat gila, sampai kini mengantarnya ke balik jeruji.


Marc hanya bisa meratapi keputusasaan di tempat barunya. Sejak kecil tak pernah menyangka jika dirinya sekadar anak hasil dari hubungan bebas, yang kemudian diakui dan diangkat derajatnya oleh Zack. Lantas sekarang, dia sendiri yang menjatuhkan derajat itu, termasuk derajat ibunya.


Namun, apa lagi yang mau ia tuntut? Zack saja ternyata tidak ada hubungan darah dengannya.


"Kau istirahatlah dulu malam ini. Besok baru kita selesaikan urusannya!" kata Zack setelah cukup lama berbincang.


"Baik, Paman."


_____


Seperti yang dibahas semalam, keesokan harinya Zack dan Riu mulai mengurus perpindahan kepemilikan aset.


Selain itu, ada juga lima persen saham dari perusahaan industri fashion miliknya. Ke depannya, Zack ingin Riu juga ikut terlibat dalam pengembangan perusahaan tersebut. Zack sudah cukup tua saat ini, sudah waktunya mengurangi pekerjaan dan menikmati hidup yang lebih santai. Berhubung Marc tidak bisa diharapkan, maka Riu-lah satu-satunya orang yang ia percaya.


"Aku bisa tenang jika aset-aset ini benar-benar ada dalam kendalimu, Riu. Aku semakin menua, tidak bisa lagi menghabiskan waktu hanya untuk pekerjaan," ujar Zack usai mengajak Riu ke kantornya.


"Tabungan dan investasiku sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup bersama Lucia. Kelak, kau bantulah aku untuk mengarahkan masa depan dia." Satu pesan lagi yang harus diemban dengan baik oleh Riu.


"Terima kasih banyak untuk semuanya, Paman."


"Iya, Nak. Paman percaya kamu berbeda dengan ayahmu."


Setelah satu minggu penuh berada di Madrid, Riu kembali ke Indonesia. Pada saat yang sama, kabar tentang dirinya mulai beredar luas.


Zack memang bukan orang sembarangan, tak heran jika segala sesuatu tentangnya menjadi perbincangan hangat, termasuk keputusannya dalam membagi aset kepada Riu.


Bukan sekadar rekan atau orang yang mengikutinya yang mengetahui hal itu, melainkan juga orang luar.

__ADS_1


Istri yang sedang dalam proses perceraian juga ikut tahu, dan dia hanya bisa merutuki dari belakang, tanpa bisa berbuat apa-apa. Kesalahan ada pada dia dan anaknya.


Selain mereka, Andreas juga mengetahuinya. Sama seperti istri Zack, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Walau Marc adalah atasan sekaligus teman dekatnya, tetapi dia tak cukup bekal untuk melawan Zack dan Riu.


"Dari awal aku sudah mengingatkan, tapi kamu tetap pada niat gilamu. Sekarang ... realita jauh berbeda dengan ekspetasi. Kamu tidak hanya dipenjara, tapi posisimu juga digantikan oleh Riu. Aset yang seharusnya menjadi milikmu, sekarang berada di tangan Riu. Kamu salah memprediksi lawan, Marc!" ujar Andreas seorang diri.


_______


Lewat tengah hari, Riu tiba di Jakarta. Itu pun tak langsung pulang ke rumah, melainkan ke kantor sejenak untuk memantau kondisi di sana. Selama ia tinggal ke Spanyol kemarin, Baron selalu lembur sampai larut malam. Ya ... dia harus menyiapkan banyak uang untuk bonus akhir bulan nanti.


"Besok Stivo meminta waktu Anda, Tuan. Atas nama Jester Corporation, dia ingin membahas kontrak. Ada poin-poin lain yang ingin mereka diskusikan dengan Anda."


Baru datang dan langsung disuguhi dengan jadwal. Kehidupan orang kaya memang tidak semudah kelihatannya.


"Ada lagi?" tanya Riu sambil memijit pelipis.


"Sebenarnya kita sudah waktunya kunjungan ke Astoria dan Jaya Sakti."


Riu menarik napas panjang. "Jadwalkan secepatnya!"


"Baik, Tuan." Baron mengangguk patuh. "Dan ... ini, Tuan. Ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Anda."


Riu kembali mengembuskan napas panjang, sembari menggulung asal kemeja panjangnya. Melihat saja sudah lelah, yang dikatakan 'beberapa', ternyata cukup menumpuk di atas meja. Dan sebelum membubuhkan tanda tangan sudah pasti diperiksa dulu. Ahh, huruf-huruf itu, rasanya otak Riu geser dari tempatnya.


Namun, yang namanya kewajiban, lelah letihnya harus diterima. Bahkan, hari itu dia sampai rela pulang malam—hampir jam sembilan. Usai perjalanan jauh, tidak ada kata istirahat barang sejenak. Untuk meluruskan punggung saja, ia belum sempat.


'Kamu sudah di mana, Sayang? Bibi sudah selesai menyiapkan makan malam.'


Satu pesan masuk dari Vale ketika Riu masih dalam perjalanan pulang. Seulas senyum terbesit di bibirnya, bersamaan dengan rasa lelah yang serasa menguar dari pundaknya. Sebentar lagi, dia akan kembali melihat wajah cantik wanitanya secara nyata. Ahh! Dia sudah merindukan saat-saat itu.


Sekitar setengah jam kemudian, Riu tiba juga di kediaman. Keningnya pun langsung mengernyit karena mendapati mobil yang tampak familier.


"Mobil ini, seperti pernah melihatnya," batin Riu.


Namun, ia tak banyak bertanya pada pelayan. Dia lebih memilih melangkahkan kakinya dan bergegas masuk ke rumah.


Sampai di ruang tamu, langkah Riu melambat. Ada suara yang sangat dia kenal, sedang berbincang di ruang keluarga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2