Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Pria Misterius


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu. Dari waktu ke waktu, cinta dalam pernikahan Riu dan Vale makin besar hingga tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Kasih sayang Riu tak hanya di mulut saja, melainkan juga dibuktikan dengan sikap manis dalam setiap harinya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Vale. Kendati kini ia diam di rumah dan harus mengorbankan karier, tetapi ia tak keberatan, karena menjadi istri Riu sangat membahagiakan baginya. Lelaki itu tak hanya tampan dan mapan, namun juga idaman dalam kepribadian dan sikap.


Saat ini, usia kandungan Vale sudah tujuh bulan. Perutnya sudah membuncit dan menurut dokter bayinya kembar. Namun, Vale dan Riu tidak menanyakan perihal jenis kelaminnya. Keduanya lebih suka kejutan di hari persalinan nanti.


Meski terhitung masih kurang dua bulan lagi, namun sejak saat ini Vale dan Riu sudah sering membeli kebutuhan untuk calon buah hatinya kelak. Mulai dari pakaian, sampai perlengkapan mandi.


"Sepertinya persiapan kita sudah banyak. Tinggal menyiapkan namanya saja nanti," ujar Vale saat melihat barang belanjaan yang cukup banyak. Lebih dari separuh untuk anaknya nanti, sedangkan kebutuhan Riu dan Vale sendiri hanya sedikit.


"Untuk nama, aku percaya padamu, Sayang. Aku cukup menyelipkan nama Brox saja di belakang nama anak kita," jawab Riu lengkap dengan senyum manisnya.


Usai menyuruh sopir membawakan belanjaan ke mobil, Riu mengajak Vale untuk singgah di food court. Riu tahu naf-su makan sang istri saat ini lebih besar dari sebelumnya. Meski sudah makan malam, terkadang masih ingin menyantap ini itu.


"Coba icip punyaku!" Riu menyodorkan sesuap makanan miliknya kepada Vale.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum lebar. Sejak beberapa detik yang lalu, ia memang tertarik dengan makanan milik Riu, dan ternyata suaminya itu cukup peka.


Tanpa ragu lagi, Vale menerima suapan tersebut. Bahkan, tak segan ia memintanya lagi. Sangat manis dan mesra. Sungguh sedang dipandang mata. Tak jarang, pengunjung lain mencuri perhatian ke arah mereka, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam hati masing-masing saling berharap, semoga mendapatkan pasangan yang tulus, sehingga bisa seperti Riu dan Vale.


Namun, tak semua hal indah ditanggapi dengan baik oleh seluruh pihak. Di balik pujian dan sanjungan dari mereka yang melihat manisnya hubungan Riu dan Vale, ada pula yang menatap dengan benci. Bahkan, alisnya sampai bertautan saking kesalnya dengan pandangan yang ada di hadapan.


"Dulu dia sangat sulit disentuh, tapi tidak untuk sekarang, karena ... aku sudah memegang kelemahannya," ucap salah seorang pria kepada kawannya.


"Kau benar. Dia terlihat sangat mencintai wanitanya."


"Heh, biarkan sekarang dia puas-puas tertawa. Sampai tiba saatnya nanti, Riu akan menangis darah. Aku sudah tak sabar melihat wajah angkuhnya berputus asa," geram pria dengan tubuh tegap itu. Entah apa yang terjadi antara dirinya dengan Riu, kenapa sampai menyimpan dendam yang membara.


Senyum licik terukir jelas di bibir pria itu, sembari matanya melirik tajam ke arah Riu, "Tentu saja. Tapi, aku tidak gegabah, karena kali ini aku tidak menginginkan kata gagal."


Obrolan keduanya terus berlanjut, sampai beberapa saat berlalu dan minuman di meja tandas tak tersisa. Setelah itu, mereka bangkit dan meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Pada saat yang sama, Riu mendongak cepat. Matanya memicing jeli, mencari sekelebat orang yang tampaknya ia kenal. Namun, nihil. Tak ada siapa pun yang ia kenal di sana. Semua hanya orang asing yang terlihat fokus dengan urusan masing-masing.


"Sayang, ada apa?" tanya Vale menyadari perubahan ekspresi Riu.


Riu menggeleng pelan, "Tadi seperti ada seseorang yang kukenal, tapi ternyata tidak. Yah, mungkin aku salah lihat."


"Orang yang benar-benar kamu kenal atau ... orang yang mungkin berbahaya? Wajahmu sedikit tegang," ujar Vale.


Riu tersenyum sembari meraih tangan Vale, lantas mengusapnya dengan lembut.


"Tidak ada bahaya. Kamu jangan mengkhawatirkan apa pun."


Vale mangut-mangut, tak membantah lagi meski dalam hati percaya bahwa ada sesuatu yang sedang menganggu Riu. Orang yang dimaksud barusan, Vale yakin bukan sekadar orang yang Riu kenal, pastilah dia membawa sinyal bahaya, entah pada bisnis atau malah kehidupan pribadi.


Sementara itu, di tempat yang tak jauh dari keduanya, pria tadi masih berdiri dengan tatapan yang arogan.

__ADS_1


"Kamu membuatku tersisih dan tidak mendapat keadilan. Sekarang, aku akan membuatmu mengerti pahitnya ketidakadilan itu!" batinnya dengan penuh kebencian.


Bersambung...


__ADS_2