Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Fakta Lain


__ADS_3

Riu tersenyum. Seperti tidak ada beban baginya meski menatap foto yang tidak terlalu lazim sebetulnya. Dalam ponsel Camelia, tampak gambar Vir sedang berada di rumah sakit jiwa. Bukan sebagai pengunjung, melainkan sebagai pasien karena terlihat dari pakaiannya.


"Kenapa dengan suamimu, Kak?" tanya Riu berlagak polos.


"Kamu tidak mungkin tidak tahu, Riu. Yang mengirim foto ini adalah Victor. Dia orangmu, kan?" sahut Camelia dengan cepat.


Lagi-lagi Riu tersenyum. Meski sedikit terkejut karena ternyata Camelia tahu bahwa Victor adalah orangnya, tetapi Riu sangat pandai menyembunyikan semua itu.


"Apa yang kamu lakukan pada Vir? Jangan-jangan ... kamu juga tahu kenapa dia hilang kabar," tuding Camelia karena Riu tak jua memberikan jawaban.


Sebelum Riu mengucap sepatah kata, Vale yang terlebih dahulu menatap lekat suaminya. Hanya dengan tatapan itu saja, dia langsung tahu bahwa Riu memang melakukan sesuatu.


"Kamu jangan asal menuduh, Kak. Aku saja tidak tahu apa yang terjadi dengan suamimu." Riu menjawab santai.


Camelia sekadar mendengkus kasar. Di satu sisi yakin bahwa semua itu ulah Riu. Namun, sisi lainnya mengatakan bahwa untuk apa Riu melakukan itu, toh selama ini tidak pernah peduli. Bahkan, kepada Annisa yang nyata-nyata hancur saja Riu juga tidak peduli.


"Memangnya ada apa? Kenapa sampai Kak Vir hilang kabar? Kalian bertengkar?" lanjut Riu.


Namun, belum sempat mendapat jawaban dari Camelia, Riu malah melihat Sander sedang melangkah ke arahnya. Tak ingin berada di situasi yang tersudut, Riu bergegas menggandeng tangan Vale dan mengajaknya pergi dari sana.


"Maaf, Kak, kurasa ini sudah malam. Aku dan Vale akan istirahat dulu," ujar Riu, yang kemudian langsung pergi tanpa menghiraukan panggilan Camelia, pun dengan tatapan Sander. Seperti tak terjadi apa-apa, Riu berlalu begitu saja dari hadapan mereka.


Sikap itu pun memancing kecurigaan Camelia. Ditatapnya sang putra yang kini berdiri tepat di sampingnya.

__ADS_1


"Apa yang sudah dilakukan pamanmu?"


"Aku juga belum tahu pasti, Ma. Tapi ... sepertinya memang ada sesuatu dengan Paman, yang berkaitan dengan hilangnya Papa," jawab Sander.


"Kamu sudah tahu ini?" Camelia menunjukkan layar ponselnya kepada Sander, memperlihatkan gambar Vir yang sedang menjadi pasien rumah sakit jiwa.


Sontak, Vir membelalak lebar. Meski sewaktu kepergiannya, Sander sangat kecewa dengan ayahnya, tetapi tak ingin pula melihat ayahnya dalam keadaan demikian.


Gila! Itulah satu kata yang paling dominan jika bersangkutan dengan rumah sakit jiwa. Sander yakin ayahnya tidak mengalami itu. Selain mengingat masa lalu yang bebas dari riwayat gangguan jiwa, Sander juga bisa melihat dari raut muka yang ditampilkan ayahnya. Tersirat jelas di sana bahwa tatapan sang ayah penuh amarah dan kebencian, dan itu adalah ekspresi yang nyata. Bukan sekadar ketidakstabilan pada penderita gangguan jiwa pada umumnya.


"Ini pasti jebakan, tidak mungkin Papa mendadak gila. Paman ... kamu selalu mengejutkan. Dua puluh tahun lebih aku mengagumimu, nyatanya ... masih belum bisa mengerti kamu dengan sepenuhnya," batin Sander.


"Sander___"


"Ma, sudah, jangan terlalu dipikirkan! Nanti biar aku yang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Paman. Mama tidak perlu sedih apalagi kalut. Toh kapan hari Papa juga kan yang memilih pergi dari kita," pungkas Sander, menenangkan ibunya.


________


Sehari setelah pesta pernikahan Riu dan Vale digelar, Sander menyempatkan diri untuk bertandang ke rumah Riu, sebelum nanti malam terbang kembali ke Prancis.


"Tuan Riu menyuruh Anda datang ke ruang kerjanya," ucap kepala pelayan setelah menyampaikan kabar kedatangan Sander kepada tuannya.


"Baik."

__ADS_1


Tanpa banyak kata lagi, Sander bergegas mengikuti langkah pelayan menuju ruang kerja Riu. Untuk kali ini, dia sama sekali tidak membayangkan atau mengharapkan pertemuan dengan Vale. Kunjungannya murni untuk bicara dengan pamannya. Soal apa lagi kalau bukan foto Vir kemarin malam.


"Kamu ingin protes?"


Begitu masuk ke ruangan, Riu langsung menyambutnya dengan pertanyaan sarkas.


"Kenapa, Paman?" tanya Sander. Tak perlu menjelaskan panjang lebar, toh Riu sudah mengerti dengan maksudnya.


"Bukannya dia sudah mengecewakan kamu dan Kakak? Apa menurutmu ini tidak setimpal?"


"Ini keterlaluan, Paman. Ini___"


"Tidak akan ada kata keterlaluan kalau kamu tahu semuanya." Riu memotong ucapan Sander sambil bangkit dari duduknya.


"Apa maksud Paman?"


"Theo dan Vir menikahi kedua kakakku bukan hanya karena harta atau fisik mereka, tapi ... karena ada dendam lain. Dan kamu tahu ... semua itu berkaitan dengan kakekmu!" jawab Riu dengan intonasi yang sedikit tinggi.


"Aku masih tidak mengerti."


Riu tersenyum miring. Lantas, mengeluarkan sebuah map dari laci mejanya, dan menaruhnya dengan kasar ke hadapan Sander.


"Lihat sendiri!"

__ADS_1


Karena penasaran, Sander langsung membuka map tersebut. Membaca baris demi baris tulisan yang ada di sana, yang berkaitan dengan masa lalu Jason. Sampai akhirnya, ada satu fakta yang membuat Sander kesulitan menelan ludah.


Bersambung...


__ADS_2