
Dalam riwayat pesan yang ada di ponsel Jason, Riu mendapati tulisan dan foto yang yang tak seharusnya Jason lihat. Itu merupakan pernyataan sekaligus bukti bahwa Vir dan Theo adalah orang yang berhubungan dengan masa lalu Jason. Di sana juga dijelaskan bahwa niat kedua lelaki itu adalah menghancurkan keluarga Brox serta menguasai semua asetnya, demi membalas perbuatan Jason di masa silam.
'VIR DAN THEO TIDAK PERNAH MENCINTAI ANAK-ANAKMU!'
Kalimat terakhir yang ada dalam pesan tersebut.
"Brengsek! Siapa yang berani melakukan ini!" geram Riu dalam hatinya.
Rahasia besar tersebut, yang samai kapanpun tidak ingin ia beritahukan kepada Jason, justru diungkap dengan rinci oleh orang lain. Masih tidak jelas apa motifnya dan siapa pelakunya. Mungkinkah ada orang yang bersekongkol dengan Vir atau Theo?
"Tapi, mereka sudah tidak bisa ke mana-mana sekarang. Kecil kemungkinan bisa menyuruh orang lain melakukan hal ini. Atau ... sebenarnya ada sesuatu yang kulewatkan? Ah, aku harus mengusut masalah ini sampai tuntas," sambung Riu masih dalam hatinya.
Lantas, ia simpan ponsel tersebut ke dalam saku ******. ***** benak dia sudah berjanji akan membuat perhitungan dengan orang yang sengaja mengusiknya. Namun, untuk saat, yang pertama ia upayakan adalah kesembuhan sang ayah.
"Apa yang kamu dapat dari ponsel Papa?" tanya Annisa ketika Riu sudah bersamanya lagi.
Riu menarik napas panjang, sebelum akhirnya menjelaskan apa yang ia temukan barusan. Setelah hubungan mereka membaik, Riu memang mengungkap rahasia itu kepada Annisa, sama seperti ia mengungkap kepada Sander.
"Apa mungkin ... ini ulah Mas Theo? Atau ... malah Vir?"
Riu menggeleng pelan. "Seharusnya bukan, tapi ... entahlah."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Riu?"
"Fokus dulu dengan kesembuhan Papa. Kita pikirkan ini setelah kondisi Papa membaik," jawab Riu.
Namun, kenyataan tidak begitu sejalan dengan apa yang ia ucapkan. Selagi masih berada di rumah sakit, Riu sudah menghubungi Baron dan meminta tangan kanannya itu untuk melacak nomor barusan.
"Aku tunggu kabar darimu, secepatnya!" ujar Riu, di akhir perintahnya.
"Baik, Tuan."
Tak lama berselang, Vale datang dan langsung menghampiri Riu. Namun, lelaki itu tak lantas tenang. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Di satu sisi mengkhawatirkan kondisi sang ayah, yang mungkin saja terkena serangan jantung. Di sisi lain berusaha menerka pihak mana yang patut dicurigai.
__ADS_1
"Keluarga Tuan Jason!"
Suara dokter yang baru saja keluar dari ruangan mengagetkan mereka. Annisa dan Riu yang lebih dulu mendekat, seraya menanyakan kondisi Jason saat ini.
Sesuai dengan dugaan Riu, Jason memang terkena serangan jantung, dan saat ini kondisinya cukup kritis. Dia harus ditangani secara intensif sampai beberapa waktu ke depan.
"Berikan penanganan yang terbaik untuk ayah saya, Dokter. Saya ingin beliau kembali sehat seperti semula," kata Riu usai mendengar penjelasan dokter.
"Pasti, Tuan. Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk Tuan Jason." Jawaban dokter sedikit membuat tenang. Kendati begitu, rasa khawatir juga masih menyeruak dalam benak.
_________
Hari sudah hampir senja, Riu dan Vale baru pulang dari rumah sakit. Itu pun Jason belum siuman. Rencananya, nanti malam Riu akan kembali ke sana. Sekarang pulang dulu sembari mengantar Vale, sekaligus mendiskusikan masalah tadi dengan Baron.
'Tidak ada informasi yang bisa dilacak dari nomor tadi, Tuan. Kata Rocky semua jejaknya buntu.'
Ucapan Baron masih terngiang-ngiang dalam ingatan Riu. Biasanya, Rocky sangat bisa diandalkan dalam bidang itu. Namun sekarang, gagal. Artinya, lawan yang mengusiknya sekarang bukan orang sembarangan. Pastilah punya kemampuan yang mumpuni, yang mungkin seimbang dengannya, atau malah lebih tinggi darinya. Ahh!
Setelah menunggu sampai lepas senja, Baron tiba juga di rumahnya. Riu langsung mengajaknya ke ruang kerja. Lantas, menyuruh lelaki itu menunjukkan hasil dari penyelidikan tadi siang.
"Cara kerjanya sangat rapi. Aku juga belum bisa menebak siapa dia," gumam Riu.
"Apakah ada pihak yang Anda curigai, Tuan?"
Riu menarik napas panjang. "Sejauh ini tidak oda orang luar yang tahu masalah ini, kecuali mereka yang memang terlibat. Tapi, sekarang Theo dan Vir tidak bisa berkeliaran bebas. Seharusnya mereka tidak bisa melakukan apa pun, kan?"
"Anda benar, Tuan." Baron menatap Riu sekilas. Ada sedikit hal yang ingin ia sampaikan, namun masih tertahan oleh perasaan ragu.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Riu. Ia menangkap mimik yang berbeda dalam wajah Baron.
Baron menunduk sambil berkata, "sebelumnya maaf, Tuan. Tapi ... saya takut ada pengkhianatan lagi dalam masalah ini."
Riu menoleh dan menatap Baron cukup lama. Seakan meminta penjelasan atas ucapannya barusan.
__ADS_1
"Hubungan Anda dengan Nyonya Annisa dan Nyonya Camelia memang membaik. Tapi, kita tidak tahu isi hati seseorang. Terlebih ada Tuan Kelvin dan Tuan Sander yang notabennya anak dari Tuan Theo dan Tuan Vir," lanjut Baron.
Riu tak langsung menyahut. Untuk dugaan ini, jujur Riu kurang yakin. Selain hubungan mereka yang memang membaik dan tak terlihat kepalsuan lagi, mengatakan hal itu kepada Jason juga tidak untungnya bagi mereka. Justru merugi.
"Papa sangat menyayangi mereka. Bukankah mereka malah rugi jika mencelakai Papa? Tidak ada motif yang masuk akal jika mereka yang melakukan itu. Aset yang atas nama Papa sekarang hanyalah rumah itu, dan sekarang mereka juga sudah tinggal di sana. Lantas, apa lagi yang akan dikejar?" ujar Riu.
Berganti Baron yang diam, karena ucapan tuannya sangat masuk akal.
"Atau mungkin ... ada rival Tuan Jason yang sekarang kembali?"
"Itu masuk akal. Tapi, pasti ada sesuatu di luar pengetahuan kita, sehingga dia bisa menggunakan rahasia ini untuk mencelakai Papa."
Sesaat kemudian, keduanya saling dia. Baron dan Riu masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Tuan!" panggil Baron dengan cepat. Ia tiba-tiba teringat sesuatu yang harus dipikirkan dengan serius.
Riu kembali menoleh hingga mata keduanya saling bertumpu.
"Bukankah paman Anda sangat rapi dalam melakukan apa pun? Bahkan, dulu beliau bisa membantu Anda tanpa diketahui oleh Tuan Besar dan Nyonya."
Perkataan Baron membuat kening Riu mengerut. Paman dari ibunya memang sangat hebat. Sejauh ini tidak ada yang bisa mengacaukan bisnisnya. Semua tertata rapi dan sulit dibaca oleh pihak lain.
"Anak-anak beliau tidak suka dengan keberadaan Anda," sambung Baron, mengingatkan Riu dengan statusnya di sana.
Riu masih diam, hanya otaknya yang berpikir keras. Di keluarga ibunya, nyaris semua benci dengannya. Jika dilogika, besar kemungkinan merekalah pelaku dari kejadian tadi. Terlebih lagi, dari dulu mereka juga tidak suka dengan Jason.
Namun, satu hal yang masih membuat Riu ragu, dari mana mereka tahu rahasia besar Jason?
Makin dipikirkan, rasanya makin membingungkan. Kejadian demi kejadian hanya serupa puzzle yang kehilangan bagian-bagian tertentu, hingga tak berbentuk dan tak bisa dibaca dengan jelas.
Pada saat Riu dan Baron masih serius membahas masalah itu, tiba-tiba ponsel Baron berdering nyaring. Ada telepon dari nomor tak dikenal.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Muda Brox. Apakah besok beliau ada waktu?" Satu pertanyaan yang dilontarkan orang di seberang usai berbasa-basi sejenak.
__ADS_1
Bersambung...