Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Air Mata Untuk Kelvin


__ADS_3

Atas bantuan dokter, Vale kini diberikan izin untuk menjenguk Kelvin, yang masih berada di ruang ICU.


Di atas kursi roda yang sejak tadi ia duduki, Vale menitikkan air mata. Sebesar apa pun rasa kecewanya untuk Kelvin, detik itu seakan sirna. Melihat Kelvin terbaring dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, Vale tak kuasa menahan kesedihan. Walau cinta sudah tak ada, tetapi bagaimanapun juga ... Kelvin adalah seseorang yang pernah menempati hatinya. Kalaupun dulu pernah marah dan benci, namun bukan akhir seperti ini yang ia inginkan. Vale masih ingin melihat Kelvin menjalani keseharian seperti sedia kala, bahkan kalau perlu bahagia dengan cinta yang baru.


"Tidak seharusnya kamu bertindak bodoh, Vin! Aku bukan siapa-siapamu lagi, bisa-bisanya kamu menyelamatkan aku sampai kayak gini," ucap Vale di sela tangis yang tak bisa ditahan.


"Kamu harus sadar dan sembuh seperti sedia kala. Kalau tidak ... aku akan marah dan tidak akan pernah memaafkan kebodohanmu kali ini," sambung Vale masih dengan tangis yang tak kunjung reda.


Kendati begitu, Kelvin masih diam. Mata menutup rapat dan tubuh tak bergerak, tidak ada sedikit pun tanda-tanda dia akan sadar dalam waktu dekat.


Detik berikutnya, Vale kembali menatap Kelvin. Selain pucat, wajahnya juga bengkak. Banyak lebam dan luka yang sebagian ditutup perban. Bahkan, rambut Kelvin kini sudah dicukur habis, semua karena luka yang begitu banyak di kepalanya.


Bukan itu saja. Tangan dan kaki Kelvin juga ikut cedera, dada pula banyak terdapat memar. Hanya menunggu keajaiban Tuhan untuk menyelamatkannya dari masa kritis.


"Aku berharap dia selamat. Wajahnya bisa kembali normal dan tidak ada cacat permanen di bagian tubuhnya. Aku tidak ingin melihat masa depannya kacau," batin Vale sambil menggigit bibir.


Meski kala itu sudah memejam dan berusaha keras menahan tangis, namun nyatanya ... air mata tetap merembes keluar. Ia tak tega melihat kondisi Kelvin sekarang. Terlebih lagi bunyi detak monitor yang sejak tadi menyela di tengah keheningan, perasaan kian takut dibuatnya.


"Kamu harus selamat, Vin! Janji padaku, kamu harus selamat!" kata Vale sebelum dokter membimbingnya keluar.


Sampai hampir tiba di ambang pintu, kepala Vale masih menoleh. Rasanya belum rela ia meninggalkan Kelvin sendirian di ruangan itu.


Sesampainya di luar ruangan, Riu langsung memeluknya. Saat itu pula, tangis Vale kembali pecah. Riu pun tidak marah, apalagi cemburu, dia paham apa yang dirasakan Vale. Dengan lembut, Riu mengusap punggung Vale, memberikan ketenangan untuk hati sang istri yang sedang terguncang.


"Kamu juga kenal betul bagaimana Kelvin. Dia tidak mudah menyerah, kan? Yakinlah, Sayang, saat ini pun dia tidak akan menyerah. Dia pasti selamat. Dia akan berjuang untuk itu. Percayalah!" bisik Riu dengan sungguh-sungguh, meski sebenarnya dia sendiri ragu dengan ucapan itu.


Mengingat kondisi Kelvin, ya ... hanya bisa menggantungkan harapan pada keajaiban Tuhan.


Setelah agak reda tangisnya, Vale diajak kembali ke ruangannya sendiri. Sementara Annisa, tetap menunggu putra tunggalnya di depan ICU.

__ADS_1


Saat ini, bisa dikatakan masa-masa tersulitnya keluarga Brox, bahkan jauh lebih sulit dibandingkan dulu selagi Jason masih miskin dan belum mengenal Dilara.


Sekarang Jason masih belum bisa merespon sempurna ucapan orang lain. Bibirnya masih sulit untuk bicara, pun tangan dan kaki, masih sulit digerakkan bebas. Selain Jason, Kelvin pula dalam keadaan kritis, dan Vale juga masih belum pulih. Saking banyaknya ujian yang datang, urusan bisnis sampai sedikit terbengkalai. Hanya Baron yang paling Riu andalkan. Lelaki itu sampai kurus karena dikejar tugas. Dalam sehari semalam, waktu istirahatnya sekitar 6 jam saja.


"Tadi Thalia kirim pesan, katanya mau ke sini menjenguk kamu," ujar Riu sembari membantu Vale berbaring kembali di tempatnya. Selama Vale sakit ini, memang Riu yang membawa ponselnya.


"Iya." Vale masih menjawab datar, pikirannya belum terlalu tenang saat ini.


Riu pun tak banyak bicara lagi. Dia tahu Vale pasti butuh waktu untuk mengurangi kegelisahannya. Alhasil, pasangan suami istri itu saling diam sampai Thalia datang.


"Val, bagaimana keadaan kamu sekarang?"


Thalia menatap sedih pada sahabatnya. Vale yang sebelumnya gemar bercanda, kini hanya terbaring lemah. Sungguh, Thalia sangat cemas dengan keadaan itu.


"Aku sudah baikan. Kamu tidak perlu khawatir." Jawaban Vale sedikit bertolak belakang dengan kondisinya.


Namun, ya, setidaknya itu lebih baik, dibanding kemarin. Waktu pertama kali Thalia menjenguk, Vale masih dalam keadaan koma.


Benar saja. Bibir Vale langsung mengulas senyum. Seraya mengangguk, dia menjawab, "sudah, bahkan aku sudah memberi nama untuk mereka. Olliver Brox dan Orion Brox."


"Nama yang keren. Pasti kelak dia juga tumbuh menjadi orang yang hebat. Kalau perlu melebihi kehebatan ayahnya."


Vale tertawa kecil. Lantas, obrolan benar-benar menghangat karena yang dibahas seputar si kembar.


Namun, itu tak berlangsung lama. Ketika pembahasan berujung pada tragedi kecelakaan tempo hari, Vale teringat kembali dengan keadaan Kelvin, dan itu menghadirkan lagi raut sendu di wajahnya.


Thalia yang sebelumnya sudah mendengar kabar itu, hanya bisa menghibur dan membujuk Vale agar tidak membebani pikirannya sendiri, karena kondisi dia saat ini juga belum memungkinkan untuk berpikir keras.


"Positive thinking, Val. Kelvin bukan laki-laki lemah. Dia pasti bisa melewati ini semua," ucap Thalia sembari menggenggam lengan Vale.

__ADS_1


Dalam kesedihannya, Vale tersenyum masam. Kemudian, membalas genggaman tangan Thalia.


Pada detik itu, Vale merasakan sesuatu yang berbeda di jemari Thalia. Ada sebuah benda kecil yang melingkar di sana. Sebuah benda yang sejenak mencuri perhatian Vale.


"Kamu tahu kalau ini baru ya?" Thalia menunjuk cincin yang tersemat indah di jari manisnya. Pikir Thalia, mungkin lebih baik dibahas saja. Mana tahu dengan begitu, Vale sedikit terhibur dan tak melulu mengkhawatirkan sekaligus merasa bersalah kepada Kelvin.


"Kamu beli sendiri atau___"


"Kalau beli sendiri, mana mungkin kupakai di sini, Val. Paling ya di jari tengah, atau kalau tidak ya telunjuk."


"Jadi?"


Thalia tersenyum. "Dia sudah melamarku."


"Kamu serius? Secepat itu?" Vale memastikan lagi.


Thalia berdecak dan kemudian berkata, "cepat apanya? Masih kalah jauh dengan kamu. Dari kenalan sampai nikahan hanya hitungan hari."


Vale tersenyum meski sedikit terpaksa.


"Nanti aku ajak dia ke sini," ujar Thalia lagi, dan itu membuat Vale mengernyitkan kening.


"Bukannya dia tinggal di luar negeri?"


Senyuman Thalia makin lebar. "Sekarang sedang balik ke sini, dan ... ada di rumah sakit ini juga."


"Hah?" Vale kebingungan, masih belum bisa menebak siapa gerangan kekasih Thalia.


"Dia lagi jagain mertua kamu," ucap Thalia malu-malu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2