
Pada saat Kelvin masih terpaku dengan segala rasa yang berkemelut dalam hatinya, Vale dan Riu menyudahi permainan. Riu membuka mata dan tak berpaling dari wajah sang istri, sedangkan Vale berpaling demi menyembunyikan pipi yang bersemu merah.
Saat itu pula, Vale mendapati sosok Kelvin berdiri tak jauh darinya. Sontak, mata Vale memicing, beriringan dengan tangan yang perlahan melepaskan pinggang Riu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vale tanpa basa-basi.
Sebelum Kelvin menjawab, Riu terlebih dahulu menoleh dan keningnya mengernyit. Dia pun tak tahu apa maksud kedatangan Kelvin, sehingga menanyakan hal yang sama seperti Vale.
"Aku ingin bicara dengan Paman," ujar Kelvin sambil membuang muka ke samping. Masih kesal dia atas apa yang dilihatnya beberapa saat lalu.
"Bicara apa? Katakan saja! Aku tidak punya banyak waktu," jawab Riu sambil melihat gelang jam yang melingkar di tangan kirinya.
Kelvin tidak menjawab, malah menatap Vale sekilas dan kemudian beralih menatap Riu, juga sekilas. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya keberatan dengan keberadaan Vale di sana. Dia tak mau lagi dan lagi menunjukkan kelemahannya pada wanita itu.
"Kenapa?" tanya Riu.
"Bisa kita bicara empat mata saja, Paman?" Kelvin balik bertanya.
"Kalau kamu keberatan karena ada bibimu, ya sudah, lupakan saja."
"Tapi, Paman___"
"Dia adalah istriku. Apa pun yang berkaitan denganku, berkaitan dengan dia juga. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi di antara kami. Paham?" pungkas Riu.
Kelvin mende-sah kasar. Dia tak punya pilihan lagi, selain duduk di kursi dan membiarkan Vale mendengar apa yang akan ia tanyakan. Sedikit memalukan, tetapi mau bagaimana, Riu benar-benar keras kepala.
"Perusahaan Juliet kacau, dan dia sekarang juga ditangkap polisi. Apa itu ulah Paman?" tanya Kelvin, sengaja tidak menyinggung nama ayahnya. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah jawaban 'iya' atau 'tidak'.
"Aku tidak melakukan apa pun." Riu yang kala itu sudah duduk bersebelahan dengan Vale, hanya menjawab datar.
__ADS_1
Sebuah jawaban yang sama sekali tidak meyakinkan di mata Kelvin.
"Tapi, tidak mungkin hanya kebetulan. Pasti Paman melakukan sesuatu. Iya, kan?"
Riu tertawa, "Memangnya kamu dan Kak Annisa sepenting itu? Sampai aku harus turun tangan dan ikut campur masalah kalian?"
Kelvin terdiam. Hatinya terjebak bimbang. Di satu sisi yakin bahwa semua itu adalah ulah Riu, tetapi di sisi lain menyangkal karena Riu begitu angkuh. Rasanya memang tidak mungkin dia melakukan sesuatu.
"Masih ada lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanya Riu setelah Kelvin terdiam cukup lama.
"Aku ingin Paman jujur." Jawaban Kelvin sangat pelan, seakan sangat memohon kejujuran dari bibir Riu.
Sayangnya, hati lelaki itu tidak luluh. Sembari tersenyum miring, Riu terus saja menyangkal bahwa bukan dirinya yang melakukan sesuatu.
"Aku tidak punya waktu lagi, terlebih untuk membahas hal yang tidak penting ini," ucap Riu setelah berulang kali Kelvin memaksanya berkata jujur.
"Paman___"
Kelvin pun tak bisa menahan. Dia hanya mematung saat melihat punggung Riu dan Vale kian menjauh.
Sementara itu, Vale menatap suaminya dengan lekat ketika keduanya sudah duduk di dalam mobil.
"Kenapa kamu tidak jujur saja? Mungkin dengan begitu, mereka tidak berani lagi mengangkat kepala di depanmu," ujarnya.
"Aku tidak mau mereka menganggapku masih peduli. Terlihat abai dan benci seperti ini, itu malah lebih bagus."
Vale mangut-mangut. Lalu, sesaat kemudian kembali membuka suara.
"Tapi ... aku masih penasaran. Yang kudengar Juliet bukan orang sembarangan. Tapi kamu, bisa menjatuhkan dia hanya dalam hitungan hari. Bagaimana caranya?"
__ADS_1
Riu tersenyum lebar, "Suamimu memang sehebat itu, Sayang."
Vale tidak menjawab, sekadar mencubit gemas pinggang Riu.
"Kairi yang membantuku. Dari lama aku sudah tahu kalau Juliet terlibat perdagangan obat-obatan terlarang. Makanya, dari lama juga aku mendekati Kairi. Dia adalah orang yang paling bisa diandalkan, karena sedikit sulit jika aku melakukannya sendiri di sana. Bodohnya, Theo malah memusuhi Kairi. Secara tidak langsung, dia telah memuluskan rencanaku," terang Riu.
Vale menatap suaminya lebih lekat lagi, "Aku ingin tanya satu hal lagi. Bagaimana bisa mendekati Kairi? Kamu dan dia tinggal di negara yang berbeda, dan dia juga bukan orang biasa. Bukankah itu sulit?"
"Dengan sedikit trik, tidak ada hal sulit, Sayang." Riu menjawab santai, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dipahami.
_________
Kabar tentang kehancuran Juliet dan Theo tidak hanya sampai ke Indonesia, melainkan juga Perancis. Vir dan Camelia sangat kaget begitu mengetahui berita itu. Pun dengan Sander. Dia yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, rela meluangkan waktu demi merenungkan masalah tersebut. Sebuah renungan yang pada akhirnya bertumpu pada sang paman.
Namun, belum terlalu yakin ia akan pemikirannya, tiba-tiba sudah dikejutkan dengan ketukan pintu yang cukup keras.
"Tuan! Tuan! Buka pintunya, Tuan!"
Sander bergegas bangkit dan membuka pintu kamar. Tampak di sana, pelayan sudah berdiri dengan tampang tegangnya.
"Ada apa?"
"Nyonya, Tuan. Tolong Nyonya."
Sander mengernyit, "Ada apa dengan Mama?"
Tadi sewaktu makan malam, ibunya biasa-biasa saja. Malah dia ikut senang karena Theo mendapat karma atas apa yang telah dilakukan kepada Annisa. Lantas sekarang?
"Nyonya___"
__ADS_1
Bersambung...