
Setelah pingsan selama kurang lebih tiga jam, Vale perlahan mulai membuka matanya. Satu hal yang pertama masuk dalam pandangan adalah slang infus yang menancap di lengan, lantas ruangan serba putih dengan aroma yang khas.
"Kenapa aku ada di rumah sakit?" batin Vale. Kemudian mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
Setelah tersadar dengan apa yang membuatnya terbaring di sana, Vale pelan-pelan mengusap perutnya yang rata. Sudah satu bulan lebih dia tidak kedatangan tamu. Sempat terselip pertanyaan dalam hati, mungkinkah buah hati sudah tumbuh di sana?
Namun, Vale kembali menepis dugaan itu. Dia tak mau kecewa nantinya karena sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehamilan. Tak ada mual di pagi hari, mual dengan makanan tertentu, juga tidak keinginan yang berlebihan untuk mengonsumsi sesuatu. Padahal, setahu dia itu adalah ciri utama wanita hamil.
"Tapi, kenapa akhir-akhir ini sering pusing dan lemas ya?" Vale kembali membatin, sembari memejam guna menghalau prasangka buruk terkait kesehatannya.
Saking larutnya dalam pikiran pribadi, Vale sampai tak sadar jika dokter dan Riu sudah memasuki ruangan.
"Nyonya Vale!" panggil dokter. Dia tahu bahwa Vale sudah siuman.
Vale sedikit terkejut. Lalu, menoleh dan mendapati sang suami sudah berdiri di sampingnya sambil menatap cemas.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Riu sebelum Vale membuka suara.
"Hanya lemas," jawab Vale.
Setelah itu, tak ada perbincangan lagi di antara keduanya, karena dokter akan memeriksa kondisi Vale.
Kabar baik, ternyata keadaan Vale sudah banyak kemajuan. Meski masih lemah, tetapi detak jantungnya sudah normal. Tinggal pemulihannya saja.
"Setelah ini makan yang teratur dan obatnya diminum rutin, ya. Selain itu, jangan sampai kelelahan dan usahakan tidak ada beban pikiran. Anda sedang hamil enam minggu, ini masih rentan. Jadi tolong, dijaga dengan baik ya."
__ADS_1
Penjelasan dokter membuat Vale membelalak. Ternyata benar dia hamil. Sesaat, tak ada sepatah kata pun yang bisa ia ucap. Hati terlampau bahagia, sampai sulit digambarkan dengan lisan. Sekadar binar mata yang tampak jelas di wajahnya.
"Kamu kenap tidak bilang kalau sudah telat? Tahu begitu kehamilan kamu bisa diketahui lebih awal, dan hal kayak gini tidak mungkin terjadi." Riu berkata sambil menggenggam tangan Vale.
"Kupikir hanya telat biasa karena aku tidak merasakan perubahan apa pun. Baru dua kali ini aku merasa pusing dan lemas, sebelumnya aman-aman saja."
"Tidak semua perempuan mengalami mual atau keluhan yang lain. Ada juga yang tetap sehat dan tidak ada keluhan apa pun. Tapi, sebaiknya Anda ingat-ingat, sebelum pusing ini apakah Anda ada makan atau mencium aroma yang membuat tidak nyaman? Ini untuk antisipasi agar Anda tidak mengalami hal yang sama di lain hari," timpal dokter.
Vale diam sejenak, dan mengingat-ingat apa yang ia konsumsi sebelum pusing hari ini dan tempo hari.
"Keju," celetuk Vale sesaat kemudian.
Riu mengangguk-angguk. Sekarang dia pun ingat jika tempo hari dan hari ini Vale mengonsumsi makanan yang mengandung keju, sebelum mengeluh pusing dan lemas.
Selanjutnya, dokter kembali memberikan penjelasan seputar kehamilan. Mulai dari saran, anjuran, sampai resiko.
"Mama Papa sudah di sini. Mereka bahagia sekaligus cemas dengan keadaanmu. Tunggulah sebentar, aku akan keluar dan memberi tahu Mama kalau kamu sudah siuman," kata Riu setelah dokter memberikan penjelasan.
Usai melihat Vale mengangguk, Riu keluar dari ruangan. Di sana sudah ada Sandi, Marisa, Jason, dan juga Annisa. Selain Annisa, semua memasang tampang sendu, terutama Marisa.
"Bagaimana keadaan Vale?" tanya Marisa dengan cepat.
"Sudah siuman, Ma. Kata dokter detak jantungnya pun sudah normal, tinggal pemulihannya saja."
"Syukurlah, aku sangat khawatir dengan Vale." Marisa menghela napas lega. "Mmm, Riu, Mama boleh kan masuk ke sana?" lanjutnya.
__ADS_1
"Boleh, Ma. Kita sudah diizinkan menjenguk sama dokter, tapi harus bergantian."
Sesaat setelah mendapat jawaban dari menantunya, Marisa langsung masuk ke ruangan. Menghampiri Vale dan menanyakan segala macam kondisi yang dialami anaknya itu.
Setelah Marisa, berganti Sandi dan Jason yang menjenguk. Lantas terakhir ... Annisa. Wanita itu tidak sekadar hadir di sana, melainkan juga ingin masuk dan menemui Vale.
Riu tidak melarang. Pikirnya, di dalam ada dokter yang menjaga, jadi tidak mungkin Annisa berbuat macam-macam. Sekalipun hanya kata-kata, tetapi jika mengganggu ketenangan pasien, pastilah dilarang oleh dokter.
"Vale!" panggil Annisa ketika sudah tiba di samping Vale. Nada bicaranya tidak ketus, tetapi juga tidak ramah. Datar-datar saja.
Vale menatap lekat ke arah Annisa, menilik ekspresi yang seolah memendam sesuatu. Entah apa itu.
"Terima kasih sudah menjenguk," ucap Vale tanpa menyematkan panggilan apa pun. Masih canggung baginya untuk memanggil Annisa dengan sebutan 'kak', mengingat dulu Annisa pernah menjadi calon mertuanya.
Namun, Annisa juga tidak mempermasalahkan itu. Dia tetap menanyakan keadaan Vale dan berbasa-basi sejenak. Sampai kemudian, dia mengutarakan niat utamanya.
"Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu," kata Annisa.
Meski sekarang bukan saat yang tepat, tetapi ia tidak tahu kapan lagi bisa berdua saja dengan Vale.
"Katakan saja!"
Annisa menarik napas panjang, lalu membalas tatapan Vale dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Bersambung...
__ADS_1