
Sander, satu-satunya nama yang ada dalam pikiran Vale saat ini. Mau siapa lagi memangnya, yang menjaga Jason saat ini hanya Camelia dan Sander. Jika digabungkan dengan ucapan Thalia dulu juga masuk akal—kekasihnya tinggal di luar negeri. Selama ini kan Sander tinggal di luar negeri, dan ... tunggu, Thalia juga pernah ikut ayahnya ke Perancis. Jika diingat-ingat, dia mengatakan sudah punya kekasih tak lama setelah kepergiannya ke Perancis kala itu.
"Maksudmu Sander?" tanya Vale, hendak mencari kepastian dari sahabatnya.
"Yup. Kamu tidak keberatan kan menjadi bibiku?" Thalia tersenyum lebar dan memamerkan lesung di pipinya.
"Serius?"
Vale sedikit terkejut. Rasanya dunia begitu sempit, Sander yang notabennya keponakan Riu dan pernah tertarik padanya, kini menjadi kekasih Thalia. Bahkan, sudah dilamar. Lumayan konyol jika dipikirkan.
"Dia tampan, baik pula. Dan meski belum semapan suamimu, tapi aku bisa melihat kerja kerasnya. Dia tipe laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak mudah menyerah. Aku yakin masa depanku tak akan buruk jika bersamanya."
Melihat binar bahagia yang terpancar dari tatapan Thalia, Vale ikut senang. Dia pun mendukung pilihan Thalia, tanpa mengungkit bahwa dulu Sander pernah tertarik padanya. Lagi pula, dia sendiri tak menanggapi. Jadi, bukan sesuatu yang penting untuk dibahas.
"Sebenarnya, kami sudah pernah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Tapi, tunggu keadaan membaik dulu," lanjut Thalia.
"Bantu doa agar Papa dan Kelvin cepat sembuh, agar kamu bisa segera menikah dan memberiku keponakan. Ahh ... atau harus kusebut cucu? Kamu nanti akan melahirkan anak dari keponakanku, kan?" ujar Vale.
"Terserah kamu mau menyebut apa. Dan soal doa, tanpa kamu pinta pun aku sudah mendoakan mereka, Val, termasuk mendoakan kamu juga. Alasanku bukan hanya pernikahan, melainkan karena aku merasa kenal dan sayang pada kalian."
Mendengar jawaban Thalia, Vale tersenyum hari. Lantas, keduanya bisa tertawa ketika membahas lagi hubungan mereka kelak. Keponakan dan bibi. Terasa lucu bagi Thalia ketika mencoba memanggil Vale dengan sebutan bibi. Pun sebaliknya. Menganggap Thalia sebagai keponakan, rasanya begitu aneh menurut Vale, bahkan lebih aneh dibandingkan dengan Kelvin dulu.
_______
Setelah satu minggu penuh mendapat perawatan—pasca terbangun dari koma, kini Vale sudah diizinkan pulang, pun dengan Olliver dan Orion. Mereka semua diperbolehkan keluar dari rumah sakit, dengan catatan segera ambil tindakan apabila ada keluhan lagi.
Selain Vale dan kedua anaknya yang sudah membaik, kondisi Jason pula ada banyak kemajuan. Pria paruh baya itu sudah bisa bicara, juga bisa menggerakkan kaki dan tangan. Meski belum leluasa, tetapi setidaknya jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Selain perawat yang disewa khusus untuknya, Camelia juga masih setia menemani sang ayah. Hanya Sander yang kemarin sempat pulang ke Perancis karena urusan pekerjaan. Sedangkan Riu, sesekali juga menemani sang ayah di sana, sekaligus melihat kondisi Kelvin yang sampai saat ini belum sadar.
Sejauh ini Riu belum bisa full time seperti kakaknya. Ada pekerjaan yang kini tak cukup ditangani Baron saja, juga ada Vale dan si kembar yang butuh pula perhatian darinya.
"Kamu akan pulang, Riu?" tanya Jason pada suatu malam, ketika Riu menjenguk dan duduk di sampingnya.
Riu mengangguk. "Aku tidak bisa membiarkan cucu dan menantumu tinggal dengan pelayan saja, Pa. Vale masih belum pulih total, dan anak-anakku juga belum lama lahir."
Jason mengangguk paham.
"Ada Kak Camelia yang menginap di sini," sambung Riu.
Jason kembali mengangguk, lalu membuka suara setelah diam cukup lama.
"Papa yang salah, Riu," ucapnya dengan terbata-bata.
Tak terhitung lagi penyesalan yang kini hinggap dalam hati Jason. Bayangan masa mudanya seakan sengaja abadi di ingatan, menghukumnya dengan rasa bersalah yang menyakitkan.
Namun, Jason tak punya nyali untuk menyalahkan Theo dan Vir, karena apa yang menimpa Airin juga bukan sesuatu yang baik. Ahh, Jason masih tak percaya jika wanita itu sudah meninggal—karena dirinya.
Kini, yang bisa Jason lakukan hanyalah menyalahkan diri sendiri, yang begitu bodohnya mempermainkan wanita. Bahkan, sekarang Kelvin berada di antara hidup dan mati juga karena dia.
Kalau saja dulu dirinya tidak pilih kasih dan bisa memberikan keadilan untuk Riu, tak mungkin anak bungsunya itu menghubungi keluarga Dilara, dan tak mungkin bermasalah dengan Marc.
"Jangan membebani pikiran dengan masa lalu, Pa. Sebesar apa pun penyesalan, tidak akan bisa memutar waktu dan kembali ke masa itu. Lebih baik Papa tenangkan diri agar lekas sembuh," jawab Riu setelah berulang kali menarik dan membuang napas panjang.
"Tapi___"
__ADS_1
"Semua orang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi ada kesempatan memperbaiki masa depan," pungkas Riu.
Jason terdiam.
"Tapi ... memang tidak jarang orang hanya terpaku dengan penyesalan dan masa lalu, sampai lupa dengan waktu yang terbuang sia-sia, hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri," sambung Riu, sangat mengena.
Jason makin diam. Bahkan, sampai Riu beranjak dan pamit pulang. Jason hanya bisa mengiakan dan melepas kepergian Riu dengan perasaan yang campur aduk.
Sebelum tiba di ambang pintu, Riu menghentikan langkahnya. Lantas menoleh dan kembali menatap sang ayah.
"Aku memang pernah kecewa, tapi itu tidak membuatku lupa dengan Papa. Keselamatan dan kesehatan Papa sampai saat ini masih kuprioritaskan," ujar Riu.
Jason tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih dengan pelan.
"Mereka-mereka yang sudah mengusik kita tidak akan pernah kembali," lanjut Riu sebelum melangkahkan kembali kakinya.
Jason kesulitan menelan ludah. Meski tak bisa melihat jelas tatapan Riu, tetapi dari suara sudah bisa ditebak bahwa pembalasan yang Riu lakukan tak mungkin sederhana.
Putranya itu tak pernah main-main dengan ucapan, pun tak menganggap sepele orang-orang yang berani mengganggu hidupnya. Di balik kepribadiannya yang dingin, tersimpan sifat kejam yang bisa muncul sewaktu-waktu. Dan jika ditelaah, mungkin ... ketidakadilannya lah yang membentuk karakter Riu.
"Maafkan aku," gumam Jason sangat pelan, bahkan telinga sendiri hampir tak bisa mendengarnya.
Ucapan maaf yang diri sendiri pun tak tahu harus ditujukan ke mana. Rasanya ... ia punya salah yang besar untuk semua orang di sekitar, termasuk mereka-mereka yang sudah tiada.
Sementara itu, Riu sudah tiba di dalam mobil. Perbincangannya dengan Jason barusan mengingatkan kembali dengan masalah pelik yang terjadi akhir-akhir ini. Demi mengurangi sedikit beban dalam otaknya, Riu menyempatkan diri untuk mengisap rokok. Menikmati sejenak keheningan dengan aroma nikotin yang khas.
Di tengah aktivitasnya itu, Riu dikejutkan dengan getar ponsel di saku celananya. Ada satu pesan masuk dari pamannya—Zack—ayah Marc.
__ADS_1
'Kapan kau akan menemuiku, Riu?'
Bersambung...