
"Bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah lebih baik?"
Seseorang di seberang kembali membuka suara, namun Kelvin masih setia dalam diamnya. Dia sibuk mengingat-ingat siapa gerangan wanita itu.
"Kelvin, kamu masih di sana?"
"Mmm, iya," sahut Kelvin dengan sedikit gugup.
"Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?"
"Aku ... baik. Mmm kalau boleh tahu, kamu siapa? Nomormu tidak ada dalam daftar kontakku, mungkin terhapus atau___"
"Bukan terhapus. Kamu memang belum pernah menyimpan nomorku."
Kelvin memijit pelipis. Entah mengapa dia langsung teringat dengan mawar merah yang pernah ia dapat sewaktu di rumah sakit. Kemungkinan besar, dia dan si penelepon sekarang adalah orang yang sama.
"Aku tadi hanya ingin tahu keadaanmu, dan syukurlah makin membaik. Terima kasih ya atas waktumu, maaf sudah mengganggu. Selamat malam."
Belum sempat Kelvin bicara apa-apa, seseorang di seberang sudah mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Raut kesal pun tercetak jelas di wajah Kelvin, mengundang tanya bagi Jason dan Annisa.
"Siapa yang menghubungi kamu?" tanya Annisa.
"Teman lama." Kelvin menjawab sambil tersenyum guna meyakinkan ibunya. Dia sengaja tak berterus terang, karena agak rumit jika harus menjelaskan secara rinci.
Akibat terjeda telepon barusan, perbincangan mengenai masa lalunya bersama Vale pun berakhir sudah. Kelvin lantas pamit undur diri terlebih dahulu, dengan alasan lelah dan ingin beristirahat lebih awal.
Namun, sebenarnya bukan itu yang hendak Kelvin lakukan. Setibanya di kamar—yang kini pindah ke lantai bawah, Kelvin bergegas mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk nomor yang meneleponnya tadi.
'Boleh aku tahu siapa namamu? Dan apa sebelumya kita pernah bertemu?'
Bukan tanpa alasan Kelvin sangat penasaran dengan wanita itu, melainkan karena yakin bahwa dia bukan salah satu dari wanita yang pernah ia kencani. Ya, satu-satunya wanita Indonesia yang pernah dekat dengannya hanya Vale seorang.
__ADS_1
'Kita pernah bertemu waktu kamu masih dirawat, makanya aku tahu kalau kamu sakit. Dan kenalkan, namaku Deva.'
Usai membaca pesan dari wanita yang katanya bernama Deva, Kelvin mengernyit. Nama itu sangat asing. Dari mulai dokter sampai perawat yang pernah masuk ke ruangannya, tidak ada yang memiliki nama itu. Apa mungkin ... dia keluarga dari pasien lain? Yang tidak sengaja bertemu sepintas lalu.
'Maaf, aku tidak berhasil mengingat namamu. Bisa jelaskan lebih rinci bagaimana pertemuan kita? Atau ... mungkin kamu ada waktu, nanti kita atur pertemuan lagi?'
'Tunggu keadaanmu lebih membaik, nanti kita agendakan.'
Jawaban sederhana dari orang yang belum ia kenali, namun mampu membuat bibir mengulas senyum lebar. Entah mengapa, membayangkan bertemu dengan wanita itu sudah membuatnya bahagia. Padahal selama ini, dia sangat memprioritaskan kecantikan. Sedangkan Deva, belum jelas cantik tidaknya.
"Mungkin ... karena selama ini tidak ada yang bersikap begini padaku, jadi aku sangat penasaran dengannya," gumam Kelvin setelah menyadari ada yang berbeda dalam hatinya, mengenai kehadiran Deva yang masih abu-abu.
______
Embusan angin yang agak dingin, menyergap dan membelai pelan dua insan yang sedang duduk di balkon kamar.
Riu dan Vale, sepasang suami istri yang selalu merajut cinta dalam setiap detiknya. Kala itu duduk bersama menikmati malam, setelah sebelumya asyik bercanda dengan si kembar, yang kini sudah terbuai dalam lelap.
"Dulu, aku hampir tak berani berharap ada kehangatan di dalam keluarga. Kupikir ... semuanya akan tetap kacau setelah aku mengambil alih apa yang menjadi hakku," ucap Riu sambil mengepulkan asap ke udara.
Vale tersenyum tipis. Dia ikut bahagia atas apa yang terjadi di keluarga Riu saat ini. Tak ada lagi kebencian dan dendam seperti dulu. Meski belum seharmonis keluarga pada umumnya, tetapi itu sudah termasuk bagus. Mengingat dulu, begitu rumit hubungan mereka. Bahkan, Jason yang notabennya ayah pun tak bisa memberikan keadilan.
"Sekilas, kamu memang kejam dan tidak punya rasa iba. Tapi, dalam hati kamu yang paling dalam, rasa peduli itu sangat tinggi. Di balik kebencian yang kamu tunjukkan pada Kak Annisa dan Kak Camelia, ada kasih sayang yang tak terukur besarnya. Aku paham itu, dan aku yakin Papa juga lambat laun memahaminya. Begitu pula dengan kedua kakakmu," sahut Vale seraya melayangkan tatapan lekat.
Belum jua tatapan itu dibalas, kedua pipi Vale sudah bersemu merah. Wajah tampan Riu yang tak pernah memudar meski terkikis waktu, serasa menyentuh hati dan membuatnya berdebar tak karuan.
"Ya, kamu benar." Riu menjawab singkat, seraya menjentikkan abu ke dalam asbak.
Detik berikutnya, ia menunduk. Ingatan tentang hari lalu kembali melintas dalam pikiran, hari di mana dia menunjukkan perasaan hancur di hadapan Vale. Apalagi sebabnya jika bukan Jason.
Kini, masih di hadapan wanita yang sama, Riu kembali menunjukkan perasaan yang tak semua orang bisa melihatnya. Bangga dan bahagia, dua rasa yang yang ia dapat kini, yang tidak luput dari dukungan Vale. Ya ... Vale adalah satu-satunya wanita yang menjadi sumber emosi terbesarnya, baik yang menjurus pada kesedihan maupun kebahagiaan.
__ADS_1
Bahkan jika boleh jujur, saat ini pun Riu sedang terbelenggu sebuah rasa yang lagi-lagi bertumpu pada wanita itu—rindu yang menggebu. Empat puluh hari tak mereguk 'manis cinta', rasanya bagai puluhan tahun. Rasa itu terkadang menyiksa pada malam-malam tertentu, yang akhirnya cukup diredam dengan guyuran air dingin.
"Tak tahu hal baik apa yang kulakukan di masa lalu, hingga akhirnya Tuhan mengirim kamu dalam hidupku. Memilih menikah denganmu adalah keputusan yang tak kupikirkan dengan matang, tapi ... itu adalah pilihan terbaik yang pernah kuputuskan sepanjang waktuku."
Dengan manja, Vale menyandarkan kepalanya di dada Riu, juga menggenggam lengan kekar yang masih setia merengkuh pinggangnya. Lantas, ia mendongak. Menatap wajah Riu yang selalu rupawan dalam berbagai sudut.
"Sebenarnya aku tidak suka bau rokok. Tapi entah kenapa, kalau yang keluar dari bibirmu aromanya lain. Aku selalu suka dan bahkan sering merindukan itu," sambung Vale tanpa mengalihkan tatapan.
Selang satu detik, Riu meletakkan rokoknya ke dalam asbak. Lalu menunduk dan menangkup pipi Vale, yang berada tepat di bawah wajahnya.
"Kamu sedang menggodaku, hmm?"
"Aku hanya bicara apa adanya," jawab Vale dengan lirih, nyaris seperti berbisik. Tanpa dia tahu jika hal itu membangkitkan sesuatu yang lain dalam diri Riu.
"Sayang, kamu tahu kan sudah berapa lama kita 'istirahat'? Kamu pasti juga paham kalau begini aku menjadi lebih sensitif."
"Ishh, aku hanya mau bermanja-manja. Kamu jangan mikir ke mana-mana."
Vale menunduk dan menghindari tatapan Riu. Namun, ia juga tersipu malu karena melihat raut muka Riu menjurus ke arah lain. Kendati begitu, ia tak punya niat untuk menjauh dari Riu. Hangat dekapannya masih diinginkan Vale, entah sampai berapa lama lagi.
"Sayang, kondisikan tanganmu!" kata Riu. Dia menatap gemas pada tangan Vale yang begitu santai memainkan kancing kemeja yang ia kenakan. Seolah memang sengaja memancingnya.
"Kamu dari tadi memelukku. Kalau aku begini saja kamu sudah protes, bukankah itu tidak adil?"
"Oh, kamu ingin keadilan?"
"Mmm."
Tanpa bicara lagi, Riu kembali menangkup pipi Vale. Membuatnya mendongak dan beradu pandang dengan dirinya. Sampai kemudian, tatapan Riu terpaku pada bibir merah yang mengulas senyum candu.
Bersambung...
__ADS_1