
Aroma nikotin menguar tajam di dalam ruang kerja yang tidak terlalu luas. Kepulan asap berulang kali menghiasi bibir sensual yang sedari tadi tak menggumamkan sepatah kata pun.
Kelvin Harrison, pemuda tampan yang cukup sial dalam kisah percintaan. Wanita yang siang malam didamba, tak lama lagi akan melahirkan sepupu untuknya. Kabarnya, dua sekaligus.
Sungguh kenyataan yang miris. Setelah dulu dia sendiri yang bodoh dan membuat wanita itu pergi, kini dari waktu ke waktu dia dihantui penyesalan dan rasa bersalah yang cukup besar. Banyak andai-andai yang kerap memenuhi pikiran, seakan kompak menyudutkan dirinya atas keadaan sekarang yang sama sekali tak bersahabat.
"Heh!" Desa-han kasar dan tawa sumbang mengiringi gerakan tangan Kelvin yang membuat puntung rokok ke dalam asbak.
Meski kini tatapan matanya tertuju pada jendela ruangan, tetapi yang tampak dalam penglihatan adalah bayangan Vale yang pernah tersenyum manja untuknya.
"Kita berada di kota yang sama, tapi jarak kita melebihi benua yang berbeda," gumam Kelvin dengan perasaan getir.
Masih sulit dipercaya olehnya bahwa putus dengan Vale akan sesakit ini. Tak dipercaya pula jika selepas pergi darinya, justru berakhir menjadi bibinya.
Mungkin, memang tak etis baginya jika menyebut Vale kejam. Namun, sakit yang dia rasakan kini benar-benar serius. Bahkan, Kelvin sampai yakin bahwa lukanya saat ini melebihi lukanya Vale ketika dirinya berselingkuh dulu.
"Aku tak tahu, setelah ini bisa jatuh cinta lagi atau tidak. Ahh, jangankan jatuh cinta, dekat dengan wanita lain saja sekarang aku merasa enggan," ujar Kelvin lagi, sembari mengambil sebatang rokok yang masih tersisa di bungkusnya.
Namun, sebesar apa pun kekesalan serta kekecewaan Kelvin saat ini, tak ada nyali baginya untuk melawan Riu. Pamannya itu terlalu tangguh untuk ia tentang. Lagi pula, Riu juga cukup baik padanya.
Pamannya itu memberikan beberapa persen saham untuk Annisa, juga memberi kesempatan padanya untuk bekerja di kantor keluarga Brox, yang notabennya sudah menjadi milik Riu.
Sementara Kelvin sendiri, memang tidak diizinkan bekerja di sana. Apalagi alasannya kalau bukan Vale. Wanita itu terkadang datang ke kantor, Riu tak mau Kelvin memanfaatkan kesempatan itu untuk melihat Vale.
Alhasil, Kelvin kini bekerja di perusahaan milik temannya. Dia lebih memilih itu, dibanding kesempatan kerja dengan Riu, tetapi ditempatkan di luar kota. Tidak! Satu kota saja rasanya jarak dengan Vale teramat jauh, apalagi jika di kota yang berbeda, mungkin rasanya seperti beda dunia.
"Sudahlah, asal kamu bahagia, Vale. Aku ... cukup menyimpan sendiri perasaan ini. Melihat dan mendengar kabarmu dari jauh, seharusnya sudah cukup untuk mengobati rinduku." Kelvin membatin sembari membuang napas kasar, berharap bebannya juga ikut menguar. Namun sayang, justru makin mengimpit dan menyesakkan dada.
Sementara di tempat yang berbeda, Riu tampak sibuk dengan beberapa data yang tersimpan dalam map di hadapannya.
Dalam beberapa hari terakhir, dia merencanakan kerja sama dengan pihak asing. Sebagai upaya untuk mengembangkan bisnis ke negara yang berbeda, dalam kendalinya.
__ADS_1
Data yang ia teliti saat ini adalah profil-profil dari mereka yang kemungkinan besar akan menjadi targetnya.
"Dalam waktu dekat, aku harus berhasil menghubungi mereka," gumam Riu dengan sungguh-sungguh.
Usai melihat data-data tersebut, Riu menyempatkan diri untuk melihat kembali ponselnya. Lantas, senyum terkulum ketika melihat pesan Vale menjadi notifikasi teratas. Tanpa berpikir lama, ia pun langsung membalas pesan tersebut.
Namun, belum sempat ia menerima balasan dari Vale, tiba-tiba pintu ruangan dibuka kasar dari luar. Riu sampai terkejut dibuatnya.
"Di mana sopan santunmu!" bentak Riu. Namun begitu menoleh dan menatap siapa yang datang, kening Riu mengernyit. Ternyata kakaknya sendiri yang tidak tahu aturan itu.
"Riu, gawat!" ujar Annisa sebelum Riu bertanya apa maksud kedatangannya. "Barusan kepala pelayan di rumah menelfonku. Katanya, Papa tiba-tiba pingsan. Kondisinya kurang baik, sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," sambungnya.
Riu tersentak. Tanpa sadar ia langsung bangkit dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Kita ke sana sekarang!" kata Riu sembari melangkah keluar dari ruangannya.
Annisa tak banyak kata. Ia pun bergegas mengikuti langkah Riu, dan kemudian ikut masuk di mobil adiknya itu. Pikirannya panik, tak berani jika mengemudi seorang diri.
"Aku juga belum tahu pasti. Tapi, kata pelayan tadi, Papa sempat menerima telepon dari seseorang."
Jawaban Annisa membuat Riu terdiam. Dia berpikir, mungkinkah dua hal itu saling berkaitan?
Selanjutnya, tak ada perbincangan lagi di antara keduanya. Masing-masing fokus dengan urusannya sendiri-sendiri—Annisa sibuk menghubungi Kelvin, sedangkan Riu sibuk menambah kecepatan.
Beberapa menit kemudian, Riu dan Annisa tiba di rumah sakit. Orang rumah yang membawa Jason sudah tiba lebih dulu. Sang majikan itu telah mendapat penanganan di IGD. Namun, kondisinya masih dalam keadaan pingsan.
"Kau tahu siapa yang menelepon Papa?"
Pria dewasa yang sudah cukup lama mengabdi pada keluarga Jason, menunduk sembari menggeleng. Dari sekian anggota keluarga, Riu-lah yang paling ia takuti, apalagi jika dalam mode tegas seperti ini, sekali ditatap saja bagaikan ditampar puluhan kali.
"Di mana ponsel Papa?" Riu kembali bertanya.
__ADS_1
Ya, dia memilih sibuk dengan hal itu karena administrasi sudah ditangani oleh Annisa. Sedangkan melihat ayahnya juga belum diperbolehkan, karena Jason masih dalam penanganan yang serius.
"Ada di rumah, Tuan. Tadi, kami letakkan di atas ranjang," jawab pria yang berdiri patuh di hadapan Riu.
"Telfon salah seorang dan suruh mengantarnya kemari! Aku ingin melihatnya," perintah Riu.
"Baik, Tuan."
Selagi menunggu orang suruhan yang akan datang mengantarkan ponsel, Riu kembali menghubungi nomor Vale. Dia mengabarkan kondisi Jason yang mendadak pingsan.
"Jika kamu ingin ke sini, suruh sopir mengantarmu. Jangan pergi sendiri!" ujar Riu ketika sang istri berniat datang ke sana.
"Iya."
Tak lama setelah Riu menghubungi Vale, Kelvin datang dengan langkah yang tergopoh-gopoh. Pun dengan pertanyaan yang ia lontarkan, begitu banyak dan cepat. Tampak jelas jika ia sangat panik.
"Kita doakan semoga kakekmu baik-baik saja, Vin," jawab Annisa yang saat itu sudah berada di dekat Riu.
Sementara Riu sendiri tak banyak bicara, hanya sesekali bergumam pelan dan pendek.
Beberapa saat kemudian, orang yang ditunggu-tunggu Riu akhirnya tiba juga. Seseorang yang ikut bekerja di rumah utama keluarga Brox, dengan hormat memberikan ponsel Jason kepada Riu.
"Ada apa, Paman?" tanya Kelvin yang belum mengerti kenapa pamannya justru mempermasalahkan sebuah ponsel.
"Hanya ingin tahu," jawab Riu, singkat dan datar.
Satu detik, dua detik, Riu membuka-buka ponsel Jason. Pertama kali yang ia lihat adalah riwayat panggilan. Ada satu panggilan masuk dari nomor yang tidak ada dalam daftar kontak. Tidak lama, hanya empat menit saja. Lanjut ke bawah, tidak ada riwayat yang mencurigakan.
Lantas, Riu beralih pada riwayat pesan. Ada satu pesan teratas dari nomor yang sama dengan yang ada di riwayat panggilan. Pikiran Riu mulai tidak nyaman, feeling-nya sudah mengatakan ada sesuatu dengan nomor itu.
Benar saja. Baru sekejap membuka pesan tersebut, Riu sudah tercengang. Hingga tanpa sadar tangannya mengepal, seolah siap melayangkan pukulan.
__ADS_1
Bersambung...