Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Melupakan Kebencian


__ADS_3

Vale tersenyum simpul, "Apa kehamilan ini masih belum cukup untuk menjadi bukti?"


Kelvin mende-sah kasar. Dia benci kalimat itu, karena sejak kemarin-kemarin dia berusaha menyanggah hal tersebut. Kehamilan, sudah semestinya menjadi bukti yang akurat. Namun, Kelvin masih mengharap sebuah keajaiban. Ia bermimpi, Vale hamil karena terpaksa, bukan pasrah sesuai kehendak pribadi.


"Awalnya, aku memang tidak mencintai pamanmu. Aku bersedia menikah dengannya karena pamanmu yang memilihku. Selain itu, ya ... aku memang ingin melampiaskan kekecewaan. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku mengenal baik dirinya. Dan ... aku jatuh cinta dengannya. Ketulusan dan kelembutannya bisa menyembuhkan luka yang sempat menganga."


Jawaban Vale cukup jelas. Ia mengakui cinta yang benar-benar ada untuk Riu. Meski begitu, Vale menutupi tujuan Riu sewaktu menikahinya dulu. Ya ... tak mungkin dia membocorkan rahasia Riu, sementara dulu rahasia itu ada untuk melawan ibunya Kelvin.


"Maaf. Dulu aku yang salah tidak bisa melihatmu dengan baik. Aku juga bodoh karena tidak bisa merasakan cinta yang sebenarnya. Andai dulu aku lebih memahami perasaan, mungkin ... akhir hubungan kita tidak akan seperti ini," ujar Kelvin dengan penuh sesal.


"Tak perlu menyesali apa yang telah lalu. Dunia tidak akan berakhir hanya karena cinta. Masa depanmu masih panjang, Vin, masih ada banyak hal yang bisa kamu lakukan, termasuk ... mencari wanita lain." Secara tidak langsung, Vale memupus harapan Kelvin yang mungkin masih menginginkan dirinya.


"Kamu tidak menyesal, kita pisah begini?"


Pertanyaan konyol. Dalam hatinya, Vale ingin tertawa keras. Namun karena wajah Kelvin menyiratkan kesenduan, Vale sekadar menyimpan tawa itu dalam benaknya sendiri. Sedangkan yang ia sunggingkan, hanyalah senyum sekilas.


"Vin, perlu kamu tahu, cinta dan semua rasa yang pernah kumiliki untuk kamu, hilang tak bersisa saat aku melihatmu di kamar yang sama dengan wanita lain. Sejak saat itu, tidak ada hal lain yang kuinginkan dalam hubungan kita, selain perpisahan," jawab Vale.


Kelvin diam. Sudah jelas sekarang, Vale mencintai Riu dan tak ada lagi rasa untuknya walau hanya sedikit. Kenangan-kenangan yang pernah ada, sekarang tinggal puing-puing yang berserakan, yang mungkin hanya ada dalam ingatannya.

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf, Vale."


"Aku memaafkan kamu. Bahkan, jauh sebelum kamu minta maaf. Tapi, memaafkan bukan berarti mengulang apa yang pernah terjadi, kan?" ucap Vale, sontak membuat Kelvin mendongak dan menatapnya.


"Aku memaafkan kamu karena tak mau lagi menyimpan kebencian dan juga kekecewaan. Aku ingin melupakan semua yang telah lalu, tak membawa apa pun dari masa itu, termasuk kebencian," sambung Vale.


Kelvin tersentak, sampai-sampai tenggorokannya ciut dan kesulitan menelan ludah. Begitu kerasnya Vale ingin melupakan semua kenangan, bahkan kebencian pun dia tak sudi menyimpannya. Sungguh kasihan dirinya, menjadi orang yang terabaikan dan tidak diinginkan. Padahal, hati masih menjerit dan mengharap wanitanya untuk kembali.


"Aku paham," ucap Kelvin dengan nada putus asa. Lantas, ia bangkit dan bersiap pergi meninggalkan Vale.


Namun sebelum melangkah, ia terlebih dahulu menatap Vale dengan pandangan yang menyiratkan cinta. Sebuah pandangan yang sama persis dengan awal-awal keduanya menjalin hubungan, sebelum Kelvin mengenal banyak penghangat ranjang.


Beruntung kala itu Vale menatapnya dan bisa melihat gerakan bibirnya. Jadi, tidak salah menafsirkan apa yang dia ucap.


Setelah itu, Kelvin membalikkan badan dan mulai pergi dari hadapan Vale. Selangkah, dua langkah, sampai akhirnya tiba di dekat pintu. Di sanalah ia berhenti karena tiba-tiba Vale memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Kelvin.


"Kamu tidak pernah kekurangan wanita. Jadi, perpisahan ini harusnya juga tak berarti apa-apa. Carilah wanita sejatimu, Vin!" ujar Vale, yang kemudian ditanggapi dengan anggukan dan senyum masam.

__ADS_1


Sementara itu, di luar kamar, Riu menguping semua pembicaraan istri dan keponakannya. Semua ia dengar tanpa terlewatkan, kecuali ucapan terakhir Kelvin sebelum pergi tadi. Memang sangat pelan, tidak sampai ke telinganya.


"Wanita yang terbaik. Benar-benar tidak salah aku memilihnya," batin Riu dengan puas.


Semua kalimat yang menjadi jawaban Vale dalam perbincangan barusan, sangat sesuai dengan keinginannya. Dari sanalah Riu merasa bangga dan bahagia.


Saking bangganya, Riu sampai refleks menggerakkan kaki dan badan. Berputar-putar layaknya orang yang sedang menari. Bahkan, dalam hitungan detik, tangan yang memegang laptop pun turut serta bergerak, membentuk irama yang senada dengan tangan dan badan.


Karena terlalu asyik dalam kegirangan, Riu sampai tak sadar jika seseorang yang ia curi dengar obrolannya kini sudah melangkah keluar. Kelvin, ia berdiri di ambang pintu dengan kening yang mengernyit. Ia merasa heran dengan tingkah pamannya yang absurd, padahal selama ini terkenal paling cuek dan serius.


"Ternyata ... dia bisa berekspresi seperti ini. Ahh, pasti Vale yang membuatnya begini. Beruntung sekali kamu Paman, bisa memiliki Vale secara utuh. Ya, memang hanya aku yang bodoh. Membuang permata seperti dia demi wanita yang jelas berada jauh di bawahnya," batin Kelvin.


Awalnya, Kelvin enak-enak saja melihat tingkah Riu. Namun, karena sudah cukup lama ia berdiri di sana dan Riu tak jua menyadari, akhirnya Kelvin merasa sedikit kesal, hingga tak segan untuk menegur.


"Apa yang kamu lakukan, Paman?" tanya Kelvin dengan suara yang agak keras.


Tak perlu mengulang, Riu sudah mendengarnya. Terbukti dari gerakannya yang mendadak berhenti meski masih membelakangi Kelvin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2