Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Olliver dan Orion


__ADS_3

"Anak kita selamat, dokter melakukan operasi saat kamu pendarahan kemarin, sekarang masih dalam perawatan. Tapi kamu tenang saja, kondisinya cukup baik."


Jawaban Riu membuat Vale terharu. Anak yang beberapa saat lalu dikira pergi, ternyata sudah lahir dengan selamat.


"Ini benar, kan? Kamu tidak membohongiku, kan?" tanya Vale. Ia butuh jawaban lagi atas kabar itu, mungkin saja tadi pendengarannya yang salah tangkap.


"Benar, sayang. Anak kita kembar, tampan semua. Aku masih menunggu kamu untuk menyematkan nama pada mereka."


Air mata Vale jatuh tanpa dipinta. Saking bahagianya. Kehadiran buah hati yang sekian lama dinanti, seakan menghapus segala rasa sakit yang ia rasakan kini.


"Aku ingin bertemu mereka," pinta Vale.


Riu menggenggam tangan Vale dengan erat, juga mengusap lembut kening wanita itu.


"Tunggu kondisimu sedikit membaik ya, aku akan mengajakmu bertemu mereka."


Vale menurut. Mau bagaimana lagi, kondisinya memang belum memungkinkan untuk beranjak dari ranjang meskipun menggunakan kursi roda. Tubuhnya masih terlalu lemah.


"Sekarang ... kamu sudah siap mengetahui kondisi Kelvin?" tanya Riu setelah Vale tenang.


Sontak, wanita itu menoleh dengan tatapan yang lekat. Setelah tadi sempat lupa, kini ia teringat kembali dengan keadaan Kelvin, yang diyakini tak mungkin baik-baik saja.


"Dia selamat, kan?"


Entah sebesar apa rasa bersalahnya, andai saat ini Kelvin sudah tiada. Jelas-jelas lelaki itu menyelamatkannya, sampai mengabaikan keselamatan sendiri. Jika Kelvin kehilangan nyawanya karena itu, Vale tidak akan bisa lupa, bahkan seumur hidup sekalipun.


"Dia kritis. Detak jantungnya terus melemah." Riu menjawab sambil menunduk.

__ADS_1


Dia pula turut menyesali keadaan Kelvin. Banyak andai-andai dalam pikirannya kini, yang semua bertumpu pada kecelakaan mengerikan tempo hari.


Sementara Vale, tubuhnya sampai gemetaran mendengar jawaban barusan. Meski ada setitik rasa lega karena Kelvin selamat, tetapi kondisinya membuat resah dan gelisah. Kritis dan detak jantung makin melemah, ahh, entah akan bagaimana nanti.


"Dia mengalami cedera yang sangat parah di kepalanya," sambung Riu.


Vale mengerjap cepat, lantas memejam sesaat dan memanjatkan doa untuk kesembuhan Kelvin.


"Ada orang yang berusaha mencelakaiku, dan Kelvin yang mencoba menyelamatkan aku," ujar Vale setelah cukup lama tak memberikan tanggapan.


"Aku tahu. Dan aku sudah membuat perhitungan untuk mereka. Ternyata, orangnya sama dengan yang berusaha mencelakai Papa."


"Kamu sudah menemukan dalangnya?"


Riu mengangguk. "Dia adalah Marc, sepupuku dari Mama Dilara. Dia adalah anak dari paman yang selama ini sering membantuku. Iri dan cemburu yang membuat dia berubah gila."


Vale terdiam. Apa yang pernah dikhawatirkan Riu dulu, kini menjadi kenyataan. Yakni, bahaya yang ditimbulkan dari pihak Dilara.


"Ngomong-ngomong Mama dan Papa Sandi juga ada di sini, Sayang. Mereka di depan NICU, menunggui anak-anak. Mau aku panggilkan mereka sekarang?" tanya Riu, sengaja mengalihkan topik agar sang istri sedikit lebih tenang.


"Boleh."


Usai mendengar jawaban Vale, Riu beranjak dan keluar dari ruangan, guna memanggil mertuanya dan memberi tahu mereka bahwa Vale sudah sadar.


______


Olliver Brox dan Orion Brox, dua nama yang disematkan Vale untuk buah hatinya. Selarik nama yang membawa nama Brox, yang kelak akan menjadi penerus dari kegigihan sang ayah—Sirius Brox.

__ADS_1


"Matanya hazel, persis seperti kamu," ujar Vale ketika mengunjungi anaknya. Kebetulan dua bayi mungil itu sedang membuka mata dan asyik menggeliat di dalam inkubator.


"Tapi di dalam wajahnya, ada mirip dengan kamu," sahut Riu yang saat itu berdiri di samping kursi roda Vale.


"Kapan mereka boleh dibawa pulang?"


"Tunggu sehat dulu, termasuk kamu juga."


Mata Vale kembali basah. Rasa haru tak bisa dibendung lagi. Menatap buah hati yang sehat meski mungil karena prematur, bagi Vale serasa menggenggam dunia. Bahagianya tak terkira. Terlebih ada sang suami yang selalu setia menemaninya, lengkap dengan kasih sayang dan segala perhatian yang ia curahkan.


Setelah cukup lama melihat Olliver dan Orion, Riu mengajak Vale keluar dari ruangan. Saat ini, dua bayi itu masih bergantung pada su-su formula. Kondisi Vale belum memungkinkan untuk memberinya asi.


"Kembali ke kamar atau menjenguk Kelvin?" tanya Riu ketika keduanya sudah berada di koridor.


"Tidak apa-apa kan kalau aku menjenguk dia?" Vale balik bertanya.


"Tentu tidak, Sayang. Tapi ... persiapkan hati kamu."


Jawaban Riu membuat perasaan Vale tidak tenang. Persiapkan hati? Memang seperti apa keadaan Kelvin?


Seiring gerakan Riu yang terus mendorong kursi roda, detak jantung Vale kian cepat. Makin dekat ia dengan tempat Kelvin, makin kacau pula pikiran dan perasaan.


Tak lama berselang, Riu dan Vale tiba juga di depan ruangan tempat Kelvin dirawat. Ada Annisa yang menunggui di sana. Wajah wanita itu jauh dari kata baik. Selain mata yang bengkak dan merah, pipi juga tampak basah oleh air mata. Apalagi setelah melihat kedatangan Riu dan Vale, makin pecah saja tangisnya.


"Kak!" panggil Vale.


"Kelvin ... dia ... dia, ahh, aku tidak tega melihatnya," ujar Annisa di sela tangis yang memilukan.

__ADS_1


Vale makin tak karuan dibuatnya.


Bersambung...


__ADS_2