Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Kelvin Sang Penyelamat


__ADS_3

Decitan rem terdengar nyaring, menyela suara-suara bising di tengah padatnya jalan kala itu. Sopir Vale membanting setir ke arah kiri, seraya menginjak rem dengan kuat agar bisa meminimalisir tabrakan dengan pembatas jalan. Itu adalah pilihan terbaik dari pada masuk ke belakang tronton atau menabrak mobil lain di sisi kanan.


Namun, usaha sopir Vale nyaris sia-sia karena truk di belakang mendorongnya dengan lebih kuat. Sopir pun kesulitan menghindari tronton yang jaraknya makin dekat dengan mobil yang ia bawa.


Ketika sopir Vale mulai kehabisan ruang untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba truk di belakang terdorong ke samping kanan. Rupanya ada mobil yang menabraknya dari sisi kiri.


Akibat insiden barusan, sopir Vale kembali punya ruang untuk menghindar. Dengan gerakan cepat, ia membanting setir dan menabrakkan mobil ke pembatas jalan. Karena ia melakukannya sambil mengerem, jadi tabrakan tidak terlalu keras. Kendati demikian, bagian depan mobil sedikit ringsek, bekas ban pun begitu jelas di atas aspal.


Selagi Vale dan sopirnya masih menarik napas usai mengalami kejadian menegangkan barusan, truk yang sejak tadi berusaha menabraknya, kini melesat ke depan. Hanya dalam sekejap, kendaraan hitam itu menabrak bagian belakang tronton. Tabrakannya cukup keras, sampai menimbulkan suara dentuman yang mengerikan. Di detik yang sama, serpihan kaca tampak berhamburan, disusul dengan cairan merah yang menetes dari arah kemudi. Kemungkinan besar, si pengendara terjepit di antara truk dan tronton.


Hal buruk lain juga terjadi pada pengendara mobil yang tadi menabrak truk, yang bisa dibilang bahwa dialah penyelamat Vale. Karena berkat dia, mobil Vale bisa lepas dari maut.


Keadaan mobil itu ringsek parah, kacanya pecah tak tersisa, dan kini juga sedikit berasap. Mungkin, tadi memang cukup keras ketika menabrak truk. Ah, entah bagaimana pengemudinya, masih bisa diselamatkan atau tidak. Namun ... tunggu, plat nomor itu tidak asing bagi Vale.


"Kelvin," gumam Vale dengan bibir yang gemetaran.


Tak salah lagi. Mobil yang kini ringsek parah itu adalah milik Kelvin, bahkan tadi Vale juga sempat melihatnya di rumah sakit.


"Nyonya, kita keluar dulu, Nyonya!" ujar sopir.


Vale terkesiap. Lantas, tersadar kembali bahwa posisinya saat ini belum aman. Tanpa dia tahu kapan datangnya, polisi sudah banyak berdatangan di tempat kejadian. Bahkan, ada salah seorang yang sudah mendekati mobilnya.


Dengan bantuan sopir dan juga polisi, Vale melangkah keluar dari mobil. Dia sedikit tertatih karena mendadak perutnya sakit. Mungkin, karena kekagetannya barusan.


Namun, Vale tak lantas menurut ketika sopir membimbingnya menuju tempat aman. Ia masih tertegun di tempat, menatap mobilnya yang rusak depan belakang, lalu menatap mobil milik Kelvin yang kini sedang dikerumuni petugas keamanan. Jalanan yang tadi menampung kendaraan dengan laju normal pun, sekarang macet total.


"Nyonya___"


"Sebentar!" potong Vale dengan intonasi tinggi.

__ADS_1


Dia tak mau beranjak dari sana sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri, siapa yang mengendarai mobil Kelvin.


"Mereka sudah tewas, badannya remuk terjepit tronton!"


Ucapan seseorang yang ikut melihat kejadian, mencuri perhatian Vale. Sekejap saja ia sudah menatap truk yang menjadi dalang dari semua peristiwa. Rupanya, pengendara kendaraan itu yang dikatakan tewas. Wajar, karena sampai sekarang masih ada darah yang menetes dan menggenang di aspal. Vale tebak orang di sana tidak hanya terluka, tetapi seperti diperas, makanya tadi ada yang mengatakan bahwa tubuhnya remuk.


"Denyut nadinya masih ada. Cepat larikan ke rumah sakit!"


Teriakan dari arah yang berbeda membuat Vale menoleh seketika. Seseorang yang berada di dalam mobil Kelvin sudah berhasil dikeluarkan. Meski katanya masih ada denyut nadi, tetapi tubuhnya bersimbah darah, terutama di bagian wajah dan kepala.


"Kelvin! Kelvin! Kelvin!"


Antara sadar dan tidak, Vale menjerit berulang kali. Meski wajahnya penuh luka dan darah, tetapi Vale masih mengenalinya. Dia adalah Kelvin, sang empunya mobil itu, sang mantan yang mungkin sengaja menyelamatkannya hingga mengabaikan keselamatan sendiri.


"Ahhh!"


Vale kembali menjerit. Namun, kali ini lebih ke mengerang. Tangannya pula makin kuat memegangi perut yang membuncit. Sopir langsung mendekat dan sigap menolongnya.


Jika terjadi sesuatu dengan majikannya, tamat sudah riwayatnya.


________


Hangat genggaman yang begitu terasa di lengannya, perlahan menyadarkan Vale dari komanya. Setelah tiga hari penuh menutup mata dan tak bisa merespon apa pun, kini perlahan bisa menggerakkan jemarinya. Sangat pelan, nyaris tak terlihat.


"Sayang, kamu sudah bangun, Sayang?" Riu menatap takjub pada gerakan sang istri.


Setelah tiga hari tiga malam dia tak tidur dan hanya menunggui Vale, akhirnya detik itu mendapat jawaban indah dari Tuhan. Di balik wajah kusutnya, Riu mengulas senyum tipis. Ada harapan untuk sang istri kembali seperti sedia kala.


Beberapa saat kemudian, mata Vale mulai terbuka. Dia seperti memindai ke sekeliling, mungkin masih mencerna di mana dia berada sekarang. Riu dan dokter pun tak banyak bertanya. Mereka memberi ruang bagi Vale untuk memulihkan kesadarannya.

__ADS_1


"Sayang," panggil Riu ketika mendapati tatapan lekat dari Vale. Ia yang kala itu sudah bangkit, dengan penuh kasih membelai rambut Vale, seakan memberi kekuatan pada wanitanya.


Sementara itu, Vale masih berusaha mencerna puing-puing ingatan sebelum akhirnya terbaring lemah di sana. Saking fokusnya dengan pikiran sendiri, Vale sampai tak mendengar kata demi kata yang dilontarkan dokter, yang saat itu sedang memeriksanya.


Setelah cukup lama merangkai kepingan ingatan dan mengurainya menjadi peristiwa yang jelas, Vale kembali menatap Riu.


"Bagaimana Kelvin?"


Satu pertanyaan yang pertama keluar dari bibir Vale. Ya, dia masih ingat jelas bagaimana kondisi lelaki itu pasca kecelakaan.


Sampai beberapa detik berlalu, Riu setia dalam diamnya.


"Dia baik-baik saja, kan?"


Masih dengan suara yang lemah, Vale kembali menanyakan kondisi Kelvin. Sayangnya, Riu tetap diam. Malah kali ini sambil menunduk.


"Tolong jawab pertanyaanku," pinta Vale.


 "Sayang, jangan memikirkan apa pun dulu. Fokus saja dengan kesehatan kamu. Tiga hari tiga malam kamu koma."


Riu sengaja mengalihkan topik agar Vale melupakan sejenak tentang Kelvin. Namun, bukan cemburu yang menjadi alasan utamanya, melainkan hal lain.


"Dengan diam dan menghindar begini, aku makin khawatir dengan kondisi Kelvin. Karena jika dia baik-baik saja, tidak mungkin Riu diam saja. Meski dia sering cemburu, tapi aku tahu, dia tidak kekanak-kanakan. Tidak mungkin mengedepankan cemburu dalam keadaan yang serius."


Suara hati yang panjang lebar, yang sayangnya tidak bisa diungkapkan karena tenaga belum memadai.


Vale hanya menyimpan unek-unek itu sendiri, sembari memanjatkan doa semoga Kelvin selalu ada dalam lindungan-Nya.


Dalam kondisi perasaan yang masih kacau, tangan Vale perlahan bergerak. Dari lurus, kini ditekuk hingga menyentuh perut. Tepat pada saat itu, ia menyadari sesuatu. Perutnya ... sekarang rata, tak lagi membuncit seperti kemarin.

__ADS_1


"Anakku," batin Vale dalam ketakutannya.


Bersambung...


__ADS_2