Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Ucapan Terima Kasih


__ADS_3

Setelah dirawat selama empat puluh hari di rumah sakit, Kelvin akhirnya diizinkan pulang. Kondisinya sudah membaik, hanya kaki yang masih dalam tahap pemulihan, sehingga membutuhkan kruk untuk berjalan. Bekas luka di wajah pun sudah memudar, sekadar terlihat samar-samar. Begitu pula dengan rambut, sudah mulai tumbuh meski masih pendek.


Selain Kelvin, hal baik juga terjadi pada Jason. Pria paruh baya itu sudah bisa meninggalkan kursi rodanya. Sekarang cukup memperhatikan pola hidup agar kesehatannya tetap stabil.


Demi merayakan hal-hal baik tersebut, malam ini keluarga Brox menggelar acara makan malam bersama. Kebetulan Sander juga sedang berada di Indonesia sekarang. Ada rencana lain yang sangat ia prioritaskan.


Tepat pada pukul 07.00, Riu dan Vale tiba di rumah Jason. Mereka hanya datang berdua, sedang Oliver dan Orion terlelap di rumah. Mereka masih terlalu kecil untuk diajak bepergian pada malam hari.


"Vale, Riu, langsung ke meja makan saja, Papa dan Kak Annisa sudah menunggu di sana," ujar Camelia usai menyambut dengan basa-basi.


Dengan diikuti oleh Camelia, Vale dan Riu melangkah bersama menuju meja makan. Ternyata bukan hanya Jason dan Annisa saja yang sudah menunggu di sana, melainkan juga Sander dan Kelvin.


Vale mengulas senyuman ketika bertatapan dengan mereka, seraya dalam hati mengucap syukur karena Kelvin masih diberikan keselamatan. Lantas, Vale pun duduk bersebelahan dengan Riu, tepat di depan Kelvin dan Sander.


"Bagaimana kabar sepupuku, Paman?" tanya Kelvin sambil melirik sekilas ke arah Vale. Ia pun turut bersyukur dalam batin karena wanita yang ia cintai selamat dari nahas. Tidak sia-sia dirinya berkorban.


"Mereka sehat. Kau cepatlah pulih agar bisa menjenguk mereka."


Jawaban Riu membuat Kelvin dan Sander sama-sama mengulas senyum tipis. Di balik kejadian yang sudah berlalu, kini Riu tak lagi sedingin dulu. Sangat bagus.


"Riu ... mumpung kamu dan Vale ada di sini, sekalian aku mau ngomong penting," timpal Camelia.


Riu dan Vale yang kala itu mulai mengisi piring dengan bermacam lauk, menoleh sekejap ke arah Camelia. Mengisyaratkan tanya atas ucapannya barusan.


"Besok aku dan Papa akan ke rumah Thalia. Kami akan meminang dia untuk Sander. Jika ada waktu, kamu ikutlah dengan kami. Jika tidak bisa, doakan saja semoga semua berjalan lancar," jawab Camelia lengkap dengan senyuman lebar.


Mendengar penuturan sang kakak, Riu melemparkan pandangan ke arah Sander. Lalu berkata, "Kamu akan menikah?"


Sander mengangguk.


"Kapan?"


"Tergantung keluarga Thalia, Paman. Mereka maunya kapan. Tapi, aku pastikan tidak lama. Aku tak mau menunggu sampai setahun dua tahun. Ahh, tidak, setengah tahun pun sepertinya aku tak bisa. Harus dinego agar dipercepat lagi."


Jawaban Sander mengundang gelak tawa di antara mereka, termasuk Vale. Setelah kemarin mendengar ucapan Thalia yang katanya tak mau menunda-nunda, kini Sander juga mengatakan hal yang hampir sama. Rupanya mereka sama-sama kasmaran, dan tak sabar lagi untuk segera naik ke pelaminan.


"Kamu pikir pernikahan itu mainan? Itu adalah hal besar yang menyangkut masa depan kalian, jadi mana bisa dilakukan tanpa persiapan. Kalau calon mertuamu minta tenggang waktu, itu wajar. Kamu jangan banyak membantah." Riu melontarkan nasihat bijaknya. Namun, di depannya Kelvin malah terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Kamu sendiri menikah tanpa persiapan, Paman. Dari kenal sampai sah, hanya hitungan hari, kan?" goda Kelvin, sambil lagi-lagi melirik Vale. Dan dia akui, wanita itu makin cantik setelah menyabet gelar ibu.


Meski tak mengucap sepatah kata pun, namun nyali Kelvin sudah menciut dengan sendirinya, hanya karena tatapan Riu yang dingin dan tajam. Aura kejamnya seolah terpancar lagi.


"Sudah sudah, jangan ngobrol terus. Kita makan saja sekarang, tidak enak lagi jika sudah dingin." Annisa menyela interaksi di antara Kelvin dan Riu.


Dia tak mau ada keributan lagi. Meski sikap Riu sudah banyak berubah, tetapi Annisa tahu Riu bukanlah orang yang suka dipancing-pancing. Apalagi yang berkaitan dengan Vale, adiknya itu sangat sensitif.


Alhasil, tak ada perbincangan lagi di antara mereka. Semua diam dan fokus dengan makanannya sendiri-sendiri. Di dalam ruangan yang luas itu, sekadar denting sendok dan bunyi kecapan yang mewarnai jalannya suasana.


"Kak Annisa ... kapan-kapan luangkan waktu untuk pergi ke London," ujar Riu sambil menuang air ke dalam gelas miliknya. Kala itu, Vale sedang pergi ke kamar mandi.


Annisa mengernyitkan kening. Lantas dalam beberapa detik ia menatap Riu, tetapi tak ada balasan dari adiknya. Riu malah dengan tenang meneguk minuman, seolah tak ada ucapan yang dilontarkan.


"Untuk apa ke sana?" tanya Annisa.


"Mengurus surat kepemilikan rumah."


Annisa makin bingung dibuatnya, pun dengan Kelvin dan Camelia. Merek sama-sama tak mengerti dengan maksud Riu.


Annisa dan Camelia saling pandang, begitu halnya dengan Kelvin dan Sander. Mereka sangat terkejut, pamannya benar-benar sulit ditebak.


"Bagaimana bisa kamu melakukan itu, Riu?" Annisa bicara sambil menatap tak percaya.


Riu tersenyum tenang. "Aku menyuruh orang lain untuk transaksi, jadi Theo tidak tahu jika pembelinya adalah aku."


Annisa terdiam. Meski bahagia karena membayangkan rumahnya akan kembali, tetapi dalam hatinya masih ada kejanggalan. Rasanya ... tidak mungkin Riu melakukan itu tanpa alasan.


"Apa alasanmu, Paman?" Kali ini Kelvin yang melayangkan pertanyaan, karena dia pun merasakan hal yang sama dengan Annisa.


"Sederhana saja. Aku butuh rumah itu untuk menghapus kenangan-kenangan lama, dan menggantinya dengan kenangan baru. Sehingga dalam ingatannya ... hanya ada namaku. Dan sekarang aku mengembalikannya tanpa syarat, anggap saja itu bentuk terima kasihku karena kamu sudah menyelamatkan dia."


Jawaban Riu membuat Kelvin sedikit kesulitan menelan ludah. Sejauh itu ternyata pamannya dalam mencintai Vale. Dia rela melakukan banyak hal hanga demi menghapus kenangan silam. Bahkan, ucapan terima kasih kali ini pun mungkin juga mengandung maksud lain. Tak ingin membuat Vale merasa berhutang budi misalnya.


"Ini sedikit menyesakkan bagiku, tapi ... di sisi lain aku juga bahagia, Vale. Kamu telah menemukan lelaki yang benar-benar tulus, bahkan rela melakukan apa saja demi mencintaimu. Ini lebih baik, dari pada bersamaku. Vale ... teruslah bahagia bersamanya," batin Kelvin.


Sebelum ada seorang pun yang menyahut, Vale sudah kembali ke ruangan itu. Semua lantas diam, sebelum akhirnya mengalihkan topik pembicaraan. Namun, itu tak lama. Karena beberapa menit setelahnya, Riu pamit pulang.

__ADS_1


"Jangan lupakan ucapanku tadi, Kak. Segera luangkan waktu untuk kita ke London!" Riu mengulangi ucapannya sebelum melangkah meninggalkan ruang makan.


Setelah tubuh keduanya benar-benar menghilang, Jason mulai membuka suara. Sejak tadi dia sudah dibuat penasaran dengan semua ucapan Riu.


"Kelvin, apa maksud pamanmu tadi? Kenangan apa yang dia bicarakan?"


Kelvin terdiam. Sulit baginya mengatakan kejujuran.


"Kelvin!"


"Vale adalah mantannya Kelvin." Annisa yang memberikan jawaban. Pikirnya, percuma menutupi lagi, Jason tidak akan menyerah sebelum mendapat jawaban yang tepat.


"Apa?" Jason terkejut. Pikirannya langsung tertuju pada saat dulu, ketika Annisa menceritakan hubungan Kelvin yang katanya sia-sia, karena memacari wanita yang tak lebih tinggi derajatnya.


"Jadi, dia perempuan yang kamu rendahkan itu? Yang kamu paksa Kelvin untuk meninggalkannya?" tanya Jason.


Annisa mengangguk. "Aku yang salah, Pa."


Jason terdiam cukup lama. Sekarang terjawab sudah perihal anehnya sikap Kelvin dulu, ketika orang tuanya dipenjara atas tindakan kriminal terhadap Riu. Kelvin ngotot ingin memisahkan Riu dengan Vale, alasannya agar Riu punya pertimbangan untuk membebaskan Annisa dan Theo, juga mengembalikan aset mereka. Namun ternyata, alasan sebenarnya pasti bukan itu.


Ahh, sekarang juga sudah jelas, mengapa Kelvin tak pikir panjang saat menyelamatkan Vale. Bahkan, sampai mengabaikan keselamatannya sendiri. Rupanya, pernah ada cinta yang tak sederhana di antara mereka.


"Kakek, jangan memikirkan masalah ini terlalu dalam. Dulu aku memang mencintainya, tapi sekarang tidak. Aku sudah melupakan semua kenangan bersamanya, Kek," ujar Kelvin. Cukup serius, namun belum mampu meyakinkan Jason. Bagaimana tidak, Kelvin belum lama bertaruh nyawa demi Vale. Apa itu pantas disebut sudah tidak cinta lagi?


"Aku telah salah mendidik anak-anakku," batin Jason, lagi-lagi dalam penyesalan.


Sejak kecil dia memanjakan Annisa, dan mengajarkan bahwa harta adalah poin utama. Lantas, Annisa menerapkan itu dalam masa depan anaknya, yang akhirnya justru menjadi luka tersendiri.


Selagi mereka masih terlibat obrolan serius, tiba-tiba ponsel Kelvin berdering nyaring. Ada panggilan dari nomor yang tak ada dalam daftar kontaknya.


"Halo," sapa Kelvin.


"Halo."


Kelvin terkejut sesaat. Suara yang menyambutnya adalah suara wanita. Terdengar asing, namun juga familier.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2