Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Menemui Vir


__ADS_3

"Tidak usah sombong! Kamu itu hanya wanita yang tidak diinginkan oleh Kelvin," ucap wanita yang tak lain adalah Angela.


Entah kesialan apa, kenapa Vale harus bertemu dia di sana. Menyebalkan!


Namun, Vale malah tertawa dalam menanggapi ucapan Angela. Lucu menurutnya. Saat ini, apa istimewanya Kelvin? Dibandingkan Riu, dia berada jauh di bawahnya. Lantas, masihkah ia akan menyesal? Ahh, tentu saja tidak.


"Tidak diinginkan Kelvin, tapi diratukan oleh suamiku. Kau lihat tadi? Pria yang duduk bersamaku. Dia jauh lebih tampan dari Kelvin, kan? Dan kau tahu, dia juga jauh lebih kaya. Dia punya aset di mana-mana, milik pribadi. Tidak seperti Kelvin yang mengandalkan kekayaan orang tua. Oh, maaf, sekarang kan ... orang tuanya juga tidak kaya. Mereka cerai dan ayahnya dipenjara, kan?" ucap Vale sambil melipat tangan di dada.


Angela makin geram. Dia yang dulu hanya menjadi suruhan Juliet untuk menggoda Kelvin, nyatanya malah jatuh cinta dengan lelaki itu. Sayangnya, cinta itu tidak disambut baik setelah Kelvin tahu bahwa dia adiknya Juliet. Selain itu ada alasan lain yang membuat Kelvin tak mau lagi berhubungan dengannya, yakni Vale. Makanya, sekarang Angela merasa marah ketika tahu bahwa Vale tampak bahagia dengan lelaki lain, sementara dirinya diabaikan oleh Kelvin.


"Tahu apa kamu soal keluarga Kelvin? Dia jauh lebih segalanya dari lelakimu. Dan dia ... hanya akan menjadi milikku, paham?" Tanpa menunggu jawaban Vale, Angela langsung pergi dengan hati yang luar biasa kesal.


Sementara Vale, benar-benar tertawa kali ini. Jauh lebih segalanya, dia bilang. Apa tidak salah? Annisa saja memohon kepada Riu untuk membantu masalahnya. Lalu bagaimana ceritanya Kelvin bisa lebih segalanya dibanding Riu? Ahh, kocak.


"Ada-ada saja yang lucu," gumam Vale sambil menggeleng-geleng. Lantas, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, yang tadi sempat tertunda.


Usai menuntaskan hajatnya di kamar mandi, Vale keluar dan kembali ke tempat duduk semula. Namun sebelum itu, ia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Mencari keberadaan Angela yang mungkin saja masih ada di sana. Akan tetapi, nihil. Tidak ada wanita itu di sana.


"Apa yang kamu cari?" tanya Riu ketika melihat tatapan sang istri memindai ke sekeliling.


Sembari mendaratkan tubuhnya di hadapan Riu, Vale menarik napas panjang, "Tadi aku bertemu Angela. Selingkuhan Kelvin dulu."

__ADS_1


"Apa yang dia katakan?"


"Lawakan. Membahas masa itu. Dikira aku masih belum move on mungkin," jawab Vale.


"Anggap saja dia sedang menghibur diri."


"Iya."


Senyuman kembali terukir di bibir keduanya. Rasa bahagia begitu membuncah, merasa beruntung memiliki satu sama lain.


Malam itu, Riu dan Vale menikmati keindahan Kota London yang dibalut kerlap-kerlip cahaya. Tak bosan keduanya menjelajah jalanan. Sampai larut malam, mereka masih asyik mengambil peran dalam sibuknya kota kala itu.


________


Kini, Camelia tidak ragu lagi untuk berpisah dari lelaki itu. Bahkan, rasa cinta yang sebelumnya begitu menggebu, sekarang menjadi luka yang begitu perih. Sampai kapanpun, Camelia tidak akan jatuh cinta lagi kepada Vir. Kalaupun lelaki itu akan berlutut di bawah kakinya, memohon dan mengemis maaf, sedikit pun Camelia tidak akan luluh. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bodoh lagi. Cukup Sander, satu-satunya kenangan dari Vir yang perlu diingat. Yang lain, hempaskan.


"Kamu kenapa belum rapi? Memangnya tidak kerja?" tanya Camelia ketika Sander sudah menyusulnya ke meja makan dengan pakaian santainya.


Sander menggeleng.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku mau ikut Mama."


Camelia menarik napas panjang, "Kamu yakin? Mama ke sana ingin bicara baik-baik dengan papamu. Mama tidak mau kalau nanti kamu malah emosi."


Sander membalas ucapan ibunya dengan senyuman dan juga jawaban singkat—tidak.


Namun, benar tidaknya, masih diragukan oleh Camelia.


Akan tetapi, wanita itu tak bisa menolak karena dari Sander jua lah dia tahu semuanya. Terlebih setelah Sander berganti pakaian dan masuk ke dalam mobil. Mau tidak mau, Camelia akan membawanya serta menemui Vir.


Karena jaraknya cukup jauh, membutuhkan waktu yang sedikit lama bagi keduanya untuk tiba di rumah sakit jiwa tempat Vir berada. Hampir tengah hari mereka tiba di sana.


Beruntungnya Camelia dan Sander langsung mendapat sambutan baik. Selain itu, tidak sulit juga prosesnya dalam menemui Vir. Hanya menunggu beberapa saat, keduanya dipersilakan bertemu dengan pasien.


Cukup banyak yang berubah dari Vir sekarang. Gambaran lelaki yang tampan nan gagah, kini sudah tak ada lagi. Tinggal wajah kusam dan tubuh kurus kering, sampai-sampai pipi tampak cekung, pun dengan kelopak mata.


"Untuk apa kalian ke sini?" Dengan setengah menggeram Vir melayangkan tatapan tajam kepada anak dan istrinya.


Vir tahu kedatangan mereka bukan dengan maksud baik. Riu sudah menjebaknya, hingga tak bisa keluar dari tempat laknat itu. Riu juga sudah tahu tentang kedoknya bersama Theo, dan bisa dipastikan Riu mengumbar semua itu kepada Camelia.


"Mas, begitukah cara menyambut istri?" Camelia menjawab sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2