Menikahi Paman Mantan

Menikahi Paman Mantan
Almaira Deva Selviana


__ADS_3

Deva, satu nama yang akhir-akhir ini mengisi hari-hari Kelvin. Meski sekadar berkirim pesan dan telepon suara, tetapi cukup mampu untuk menjadi alasan Kelvin tersenyum. Bahkan, ia sempat merasa tak sabar untuk bertatap muka dengan wanita itu.


Mungkin ... karena dia memberikan semangat di saat dirinya sedang sakit, makanya begitu melekat dalam ingatan. Dan lagi, Deva hadir kala hatinya masih patah. Mungkin itu pula yang membuat kehadirannya berkesan.


Entahlah, apa pun itu, yang jelas Deva membawa kebahagiaan tersendiri bagi Kelvin.


Kini, setelah dua minggu menunggu waktu, akhirnya ada kejelasan perihal rindu yang abu-abu. Ada janji temu yang telah disepakati semalam, antara dirinya dengan Deva. Walau kakinya belum normal dan masih membutuhkan bantuan kruk, tetapi Deva tak keberatan. Tak ada tanda-tanda dari wanita itu untuk mempermasalahkan sakitnya saat ini.


'Jam empat aku pulang kerja. Nanti aku akan langsung meluncur ke sana.'


Untuk kesekian kalinya Kelvin memandangi pesan dari Deva. Untuk yang kesekian kali pula, ujung bibirnya membentuk lengkung senyum. Belum ada bayangan dalam pikirannya bagaimana bentuk rupa Deva, namun Kelvin yakin dia adalah wanita dengan kepribadian baik. Terbukti dari cara dia bicara dan mengirim pesan dalam dua minggu ini.


"Masih lama," gumam Kelvin saat pandangannya beralih pada jam digital di layar ponselnya.


Masih pukul 03.00 sore, kurang satu jam lagi dari waktu yang telah dijanjikan. Ahh, rasanya detik dan menit berjalan lebih lama dari biasanya.


Sembari menunggu, Kelvin mematut kembali penampilannya di depan cermin, yang sudah dipersiapkan sejak beberapa saat yang lalu.


Kaus putih polos, ia padukan dengan kemeja panjang navy. Lengannya digulung sebatas siku, memperlihatkan jam tangan warna perak yang melingkar di lengan kirinya. Sedangkan bagian bawah, celana jeans panjang warna senada dengan kemejanya.


"Masih tampan dan memesona meski rambut cukup buruk." Kelvin memuji diri sendiri. Merasa puas dengan tampilan dirinya yang memang rupawan, yang ia yakini masih bisa memikat lawan jenis.


Setelah setengah jam menunggu, Kelvin berangkat juga ke cafe yang tak jauh dari rumah sakit, tempat dia dirawat tempo hari. Kelvin tak sendiri, melainkan diantar sopir pribadi Jason.


Sepanjang perjalanan ke sana, tak hentinya Kelvin tersenyum. Padahal, yang mengirinya sekadar gedung-gedung tinggi dan lalu lalang kendaraan. Mungkin, bayangan Deva-lah yang menjadi pengaruh utama.


Lima menit sebelum jarum jam menunjuk tepat di angka empat, Kelvin sudah tiba di tempat tujuan. Dengan dibantu sopir, ia turun dan berjalan menuju pintu. Detak jantungnya sudah tak beraturan kala itu. Kemampuannya merayu dan mengencani banyak wanita luluh lantak seketika. Yang Kelvin rasakan kini hanyalah kegugupan hingga nyaris hilang kepercayaan dirinya.


"Kamu tunggu di mobil saja! Aku bisa masuk sendiri," ujar Kelvin.


"Baik, Tuan. Hati-hati!"


Setelah sopir kembali ke mobil, Kelvin masuk ke dalam cafe. Kakinya melangkah tertatih, menuju meja nomor 11—meja yang telah disepakati bersama Deva.


Tak lama kemudian, pandangan Kelvin tertuju pada wanita berambut lurus sebahu yang duduk membelakanginya.

__ADS_1


"Sepertinya aku memang pernah melihatnya. Tapi, kapan?" batin Kelvin. Ia menghentikan langkahnya sejenak demi menatap jeli wanita yang ternyata datang lebih dulu.


Karena memandang saja tak cukup untuk mengenali wanita itu, Kelvin akhirnya kembali melanjutkan langkah. Satu detik, dua detik, sampai juga Kelvin di hadapannya.


Sejurus melihat, kening Kelvin mengernyit seketika. Dia sangat terkejut melihat wanita yang kini mengulas senyum lebar.


"Bu Alma." Kelvin menyapa pelan, setengah tak percaya.


Wanita yang membuat janji dengannya, yang kini membimbingnya duduk, tak lain dan tak bukan adalah Perawat Almaira D. Selviana. Salah seorang perawat yang tempo hari ikut merawat dirinya.


"Hati-hati!"


Ucapan Deva membuyarkan keterkejutan Kelvin, juga rasa segan karena ternyata Deva adalah wanita yang sebelumnya sangat disegani. Sedangkan waktu bertukar pesan kemarin, sedikit pun ia tak bersikap hormat.


"Jangan memanggilku bu, kita sekarang teman, kan? Bukan perawat dan pasien lagi," ujar Deva tanpa memudarkan senyumannya.


Kelvin tersenyum ragu. Masih canggung dirinya untuk bersikap biasa. Untungnya, pelayan datang tak lama setelah Kelvin duduk. Jadi, ada alasan lain untuk menutupi kegugupan.


"Almaira Deva Selviana, itu nama panjangku. Sejak kuliah dan sampai sekarang sudah kerja, aku menggunakan nama depan sebagai panggilan. Tapi, keluarga dan teman-teman dekat, selalu memanggilku Deva." Deva kembali bicara, menjelaskan asal-usul namanya yang berbeda.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Deva mencairkan suasana yang masih canggung.


"Aku ... baik. Ya, meski kaki masih sakit, tapi sudah banyak kemajuan."


"Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya." Deva tersenyum.


Tak lama setelah itu, pesanan mereka datang. Untuk beberapa saat, keduanya disibukkan dengan minuman dan makanan ringan yang dihidangkan, sembari menenangkan perasaan yang sedikit berkecamuk.


"Apa Bu ... mmm maksudku kamu, yang meletakkan kartu ucapan di mejaku, sewaktu di rumah sakit kemarin?" tanya Kelvin dengan hati-hati dan agak gugup.


Dia takut menyinggung Deva, namun di sisi lain juga penasaran akan hal itu.


"Mmm." Gumaman pelan keluar dari bibir Deva, diiringi anggukan ramah.


Kelvin langsung menyesap minumannya, sebagai pengalihan karena belum menemukan kata yang tepat untuk diucap.

__ADS_1


"Setelah tahu kronologi kecelakaanmu, aku langsung menaruh simpati yang lebih. Melebihi pasien-pasien lain yang pernah kutangani. Kamu ... menyelamatkan seseorang, itu mengingatkanku pada Almarhum Ayah," terang Deva.


Kali ini, senyumnya berbeda, pun dengan tatap matanya. Seolah menyimpan kesedihan yang mendalam.


Kelvin pun bisa menangkap itu. Bahkan, dalam hatinya kini ada rasa nyeri yang hadir tanpa dipinta.


"Dulu, aku tidak bisa membuat Ayah sembuh. Beliau meninggal satu bulan setelah kejadian. Aku tidak ingin hal yang sama terjadi padamu, makanya ... aku melakukan hal itu untuk memberimu semangat. Yang kamu selamatkan seorang wanita, yang kutebak ... dia spesial bagimu. Jadi, aku memilih bunga untuk kusertakan dengan kartu ucapan. Maksudku, agar kamu bisa merasa bahwa cinta itu masih ada, sekalipun wanita yang kamu anggap istimewa sudah dalam genggaman orang," sambung Deva.


Kelvin masih diam. Entah perasaan apa yang dia rasakan kini, karena ternyata bunga yang ia terima tak seistimewa tebakannya. Mawar merah itu bukan lambang cinta atau sejenisnya, melainkan sekadar simpati dan penyemangat.


"Maaf, aku terlalu jauh ikut campur privasimu. Tidak seharusnya aku melakukan itu. Tapi ... sejak tahu alasanmu kecelakaan, aku tidak bisa melupakannya. Aku terus teringat dengan masa laluku sendiri," lanjut Deva dengan kepala yang menunduk. Sengaja untuk menyembunyikan wajahnya yang kian sendu.


"Ayahmu ... menyelamatkan siapa?" tanya Kelvin dengan suara lirih.


"Aku."


Kelvin menarik napas panjang. Sampai di sini dia mulai paham, mengapa Deva sesedih itu. Dia pasti merasa bersalah karena dirinyalah yang secara tidak langsung menyebabkan kematian sang ayah.


"Sebenarnya ... Ayah hampir sembuh kala itu. Tapi ... ah. Yang jelas dari sana aku jadi tahu, perawatan medis saja tidak cukup untuk membuat seseorang sembuh. Harus ada dukungan dan penyemangat dari orang sekitar, sehingga dalam diri timbul dorongan kuat untuk sembuh. Dan ... itulah yang kuterapkan padamu kemarin. Aku ingin ada dorongan kuat dalam diri kamu sendiri," lanjut Deva. Ia kembali mengangkat wajah, namun sambil berulang kali menyeka sudut matanya.


Sebenarnya, Kelvin cukup penasaran dengan penyebab kematian ayah Deva yang katanya hampir sembuh. Namun, ia pendam dulu. Masih terlalu awal untuk ditanyakan sekarang.


"Kapan peristiwa itu terjadi? Apa sudah lama?" Kelvin bertanya seraya mencuri pandang ke arah Deva, dan lagi-lagi menemukan gurat luka yang begitu menganga.


"Sangat lama. Itu terjadi saat aku masih kelas 4 SD, dan adikku masih berusia 3 tahun."


"Sekarang mereka baik-baik saja, kan? Ibu kamu? Adik kamu?"


Deva tidak langsung menjawab. Ia malah membuang pandangan ke samping, sembari tangannya mencengkeram tangkai cangkir dengan kuat.


Kelvin melihat itu semua. Ia lalu berpikir ... ada yang tidak benar dengan keluarga Deva. Selain kematian sang ayah, pastilah ada hal lain yang membuat Deva seperti ini sekarang.


"Tanpa adanya masalah yang serius, tidak mungkin simpatinya padaku sampai sebesar itu, karena aku hanyalah orang asing yang kebetulan menjadi pasiennya. Status ini harusnya tidak membuat dia bertindak di luar pekerjaan, kecuali memang ada trauma yang dia bawa sampai sekarang. Ahh, Deva, aku jadi ingin mengenal lebih tentang kamu dan hidupmu," batin Kelvin sambil tak henti memperhatikan Deva.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2