
Vir mendengkus kasar. Dia tak suka mendengar kata 'istri' dari bibir Camelia, karena dia tahu itu sekadar kiasan untuk meremehkan. Selain itu, besar kemungkinan sebutan itu tidak berlaku lagi dalam waktu dekat.
"Katamu, waktu itu akan menceraikan aku. Berhubung sekarang kamu ada di sini, biar aku saja ya, Mas, yang mengurus semuanya. Kamu cukup terima jadi."
Benar, kan? Apa yang dipikirkan Vir, sungguh menjadi kenyataan. Camelia datang tidak dengan maksud baik, sekadar berniat melepas gelar istri darinya.
"Lakukan saja! Aku juga tidak mau lagi punya istri seperti kamu!" Alih-alih memohon dan mengemis belas kasih, Vir langsung mengiakan saja apa yang diinginkan Camelia. Entahlah, egonya masih terlalu tinggi. Dalam keadaan seperti ini pun, ia masih enggan merendahkan harga diri.
"Terima kasih banyak, Mas. Kamu memang suami yang baik. Saking baiknya ... aku sampai tidak sadar jika ada kebobrokan yang kamu sembunyikan," ucap Camelia sambil tersenyum manis, seolah ingin menegaskan bahwa dirinya tetap baik-baik saja meski sudah dipermainkan sekian tahun lamanya.
Vir tak menjawab, malah membuang pandangan dan menghindari tatapan anak istrinya.
"Ya sudah, aku pulang dulu, Mas. Tempat ini terlalu nyaman, aku jadi tak enak hati untuk berlama-lama di sini. Takutnya ... mengganggu ketenangan kamu." Camelia bicara demikian sembari bangkit dari duduknya. Lantas, pergi dan meninggalkan Vir yang sudah diselimuti amarah.
Sementara Sander masih terpaku di tempat. Diam sambil menatap wajah ayahnya yang telah banyak berubah.
__ADS_1
"Aku menyayangi Papa. Tapi ... aku masih kecewa atas sikap Papa terhadap Mama," ucap Sander setelah cukup lama diam.
"Kamu kecewa padaku, tapi tidak kecewa pada kakekmu? Heh, anak bodoh. Tua bangka itu yang seharusnya lebih kamu benci!" bentak Vir.
"Aku lebih kecewa kepada Papa, karena membela orang yang salah dan mengorbankan orang yang tidak bersalah. Kakek memang brengsek karena mempermainkan saudara angkat Papa, tapi itu Kakek, bukan Mama. Mama hanyalah anak Kakek yang tidak tahu apa-apa. Selain itu ... pantaskah bagi seorang wanita menginginkan suami orang secara berlebihan? Dari awal harusnya sudah tahu apa resiko yang harus ditanggung jika menyukai lelaki milik wanita lain," ucap Sander tanpa ragu.
"Dia tidak akan jatuh cinta dan menginginkan secara berlebihan, andai saja si tua bangka itu tidak memberinya banyak janji. Kamu masih anak kemarin sore, Sander, tidak tahu apa soal-soal ini. Kamu terlalu percaya dengan pamanmu, padahal bisa saja dia memperdaya kamu."
Sander menarik napas panjang, "Bukti yang Paman bawa sangat akurat, Pa, dan buktinya ... Papa juga membenarkan itu, kan?"
Pertanyaan yang menjebak, membuat Vir kesal dan gatal untuk mendaratkan pukulan. Sayang, keadaan tak memungkinkan. Dia bisa diperlakukan lebih menyebalkan lagi jika melakukan itu, karena dianggap mengamuk.
"Aku pergi, Pa. Maaf ... aku tidak bisa membantu Papa untuk keluar dari sini. Kemampuanku tidak setinggi itu untuk melawan Paman," ujar Sander. Lantas, menyambung ucapannya dalam hati, "Tapi, aku yakin Paman juga tidak sekejam itu. Jika suatu saat Papa bisa berubah, pasti Paman akan mengeluarkan Papa dari sini."
Usai pamit dan tidak mendapat tanggapan apa pun dari ayahnya, Sander melangkah pergi, menyusul ibunya yang sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
______
Setelah menemui Vir pada hari itu, Camelia benar-benar menepati ucapannya. Tanpa segan dia mengurus perceraian antara dirinya dengan sang suami. Sander pun turut membantu. Dia mendukung keputusan ibunya kali ini. Pikirnya, memang lebih baik orang tuanya berpisah, agar tidak ada luka bagi satu atau kedua belah pihak.
Rencana perceraian itu pula sudah sampai di telinga Jason. Namun, Camelia dan Sander belum membeberkan alasan yang paling utama. Keduanya sekadar mengatakan bahwa Vir hanya memanfaatkan harta yang mereka punya, seperti Theo. Masih belum ada nyali bagi mereka untuk membahas masa lalu yang sebenarnya.
"Ma, istirahatlah! Jangan merasa sendiri, ada aku yang akan selalu menemani Mama," ujar Sander pada malam itu.
Saban hari dia tak bosan mengingatkan dan menenangkan Camelia, agar senantiasa tenang dan tidak hanyut dalam beban.
"Iya. Mama selalu beristirahat tepat waktu. Kamu tenang saja."
Usai berbincang singkat, Sander dan Camelia beranjak menuju kamar masing-masing. Namun, Sander tak langsung tidur. Dia sekadar berbaring sambil menatap langit-langit kamar, mengikuti pikiran yang masih menjelajah ke segala arah.
Sampai kemudian, bunyi getar ponsel menarik kembali kesadarannya. Dengan agak malas Sander meraihnya dan membuka satu pesan baru, yang dikirim oleh nomor kontak dari Indonesia.
__ADS_1
Saat itu pula, ia tersentak hingga matanya membelalak sempurna.
Bersambung...