Menikahi Seorang Bidan

Menikahi Seorang Bidan
10


__ADS_3

Emi masih memikirkan dari mana Emi akan memulai pembicaraan itu. Tapi Emi harus tetap melakukannya.


"Hei nona, kamu ini memang aneh dan sering buat orang penasaran ya, tadi kamu bilang mau bicara tapi sekarang asik melamun sendiri" ucap Jully membuyarkan fikiran Emi


"Ck… Kamu itu kenapa selalu tidak sabaran jadi orang. Aku lagi memikirkan dari mana aku harus ngomong dan seperti apa aku akan menjelaskannya" ucap Emi polos


"Ha… Ha… kamu ini sungguh sangat lucu Em, tapi dengan sifat kamu yang seperti ini membuat aku semakin tergila gila kepada mu" ucap Jully tidak berhenti tertawa


"Ck… Apanya yang lucu. Sekarang diam kalau tidak pergi dari kamarku" ucap Emi kesal


"Baiklah tuan putri. Jangan marah-marah nanti cepat tua" Jully kembali menggoda Emi


"Hei tuan Jully yang terhormat, kamu ini sudah aku tolak mentah-mentah, sudah ku usir dari rumah, sudah aku caci maki tetapi kenapa kamu tetap saja ngikutin kemana aku pergi dan tidak pernah jera untuk mendekati aku, kan aku sudah pernah mengatakan kalau aku belum siap untuk menikah" jelas Emi berhenti sejenak dan mengambil nafas panjang


"Kamu tidak akan mengerti jam dan waktu dari pekerjaan ku sebagai seorang bidan, aku juga tidak mau setelah menikah harus menjadi ibu rumah tangga. Aku juga tidak bisa diatur harus pulang jam sekian, melayani suami apalagi punya anak dalam waktu dekat, karena pekerjaanku dirumah sakit itu sangat menyita waktu. Sedangkn orang tua aku saja sering protes dengan kegiatan yang aku jalani setiap hari" jelas emi kembali


"Memangnya jadi seorang bidan itu sesibuk itu kah, sampai kamu cemas tidak bisa membagi waktumu untuk keluarga juga takut berumah tangga Emi" tanya Jully


"Jadi seorang bidan itu tidak begitu sulit, tetapi tergantung dengan kegiatan di instansi mana ia bekerja. Dan kepercayaan juga kemampuan yang iya miliki. Contohnya seperti aku sekarang, selama satu minggu aku tidak berada dirumah karena aku ada kegiatan diluar kota juga karena aku bekerja dirumah sakit pusat. Sedangkan bidan yang bekerja dirumah sakit lain atau puskesmas bahkan yang membuka praktek sendiri itu juga berbeda-beda tugas yang mereka emban" jelas Emi


"Ya sudah, kalau yang lainnya bisa menikah dan mengurus keluarganya kenapa kamu harus takut. Orang lain bisa kenapa kamu tidak bisa. Aku mengajak kamu berumah tangga bukan karena aku akan mengekang kamu em. Tapi kalau bisa membantu meringankan beban kamu" ucap Jully


"Beban yang mana kamu akan bantu Jully. Kamu tau, aku tidak pernah sempat untuk buka bersama atau sahur bersama kelurga ku selama ini, dan hari idul adha atau Idul Fitri juga hari libur lainnya kadang aku tidak bersama keluarga ku dirumah. Aku harus bekerja. Aku tidak mau ada orang yang mengeluh dan bahkan memperkarakan masalah kerja ku suatu saat nanti" Ucap Emi dengan tegas

__ADS_1


"Aku mengerti Emi, aku juga tidak meminta kamu untuk jadi istriku dalam waktu dekat. Aku akan menunggu dan mencoba memahami mu Em. Memahami segalanya tentang kaku dan juga pekerjaanmu sebagai bidan. Aku akan coba mengenalmu begitu dalam sampai kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu sudah siap menjadi istri ku" ucap Jully meyakinkan Emi karena jully berfikir ini cara Emi untuk menolak lamarannya.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan Jully, silahkan kamu mengenalku, tapi tidak dengan pacaran. Aku tidak akan berpacaran denganmu apalagi membuat komitmen apapun dengan mu. Aku akan hidup seperti biasa. Dan aku tidak akan menuntut apapun dari mu" ucap Emi tegas


"Baiklah Emi, aku akan menunggumu. Yang aku minta dari kamu cuma satu, jangan berpacaran dengan orang lain selama kita saling mengenal" pinta Jully


"Ya… Kalau itu aku tidak janji, karena aku sudah mengatakan kalau aku tidak ada komitmen apapun dengan mu, dan jangan campuri urusan pribadi ku" ucap Emi


"Baiklah kalau itu mau mu, kalau suatu saat kamu mempunyai kekasih aku akan menyerah" ucap Jully


"Oke. Semuanya sudah jelas. Sarapan kita juga sudah habis. Sebaiknya kita sekarang istirahat dulu. Karena sore nanti kita akan berangkat pulang kejakarta" ucap Emi


"Mak… Maksudnya kita istirahat apa" tanya Jully gelagapan


"Ck… Masa itu saja tidak mengerti, kamu kembali kekamarmu istirahat disana, dan aku juga akan istirahat Jully" ucap Emi menjelaskan


"Otakmu jangan lupa dicuci dulu biar tidak gesrek" ketus Emi


"Ha… Ha… Ya sudah aku kembali kekamar dulu calon istri ku yang baik dan cantik. Terima kasih atas undangan makanan paginya" ucap Jully dan pergi keluar kamar Emi


"Ih… Dasar itu orang kurang minum obat mungkin dia. Besok aku akan beri dia obat satu kardus biar otaknya tidak melenceng" ucap Emi pelan


Emi segera menuju tempat tidurnya dan melanjutkan tidur. Sampai ia tidak bergerak sama sekali. Waktunya makan siang Emi lewatkan begitu saja. Emi sangat kelelahan, sebenarnya Emi sudah harus check out pagi tadi tapi memang sudah kebiasaan Emi kalau ada kegiatan diluar kota selalu melebihkan waktu istirahat di tempat kegiatan biar tidak di ganggu.

__ADS_1


Setelah hari menunjukkan pukul 16.30 WIB Emi baru terbangun karena merasakan lapar. Iya segera mandi lalu mengganti pakaian santainya. Ia menuju restoran dipenginapan itu.


Emi memilih duduk dibangku paling ujung yang menghadap ke pemandangan yang sangat bagus dan menyejukkan mata. Setelah ia duduk disana beberapa menit pelayan restoran pun datang menyuguhkan menu makanan yang tersedia direstoran itu. Tapi tiba-tiba Emi ingat akan sesuatu. Emi ingat dia disini tidak sendiri, dia berdua dengan Jully.


"Mbak, maaf kalau saya pesan disini tapi tolong diantar kekamar no xx bisa tidak" tanya Emi kepada pelayan restoran


"Boleh nona. Silahkan pesan nona" ucap pelayan itu


Emi mencatat beberapa menu makanan untuk berdua. Emi melakukan ini karena merasa tidak enak dengan Jully yang akan mengantarkannya pulang nanti kalu dia makan duluan.


"Nah ini saja mbak, terima kasih sebelumnya. Saya tunggu dikamar ya mbak" ucap Emi lembut dan langsung pergi menuju kamar.


Di jalan kekamar Emi mampir kekamar Jully lalu mengetok pintu kamar Jully tok…tok…tok…


"Siapa" tanya Jully sambil membuka pintu


"Ini aku, cepat mandi dan siap siap, lalu ke kamarku untuk makan siang, kaku pasti belum makan" ucap Emi


"Kok perhatian sih, aku kan makin cinta jadinya" goda Jully


"Ck… Jangan kepedean deh, aku cuma tidak enak hati karena kamu akan mengantarkan aku pulang nanti, anggap saja itu imbalan untuk aku menumpang mobilmu nanti" jelas Emi polos


"Ya deh. Aku mandi dulu. Nanti aku kekamarmu" ucap Jully

__ADS_1


"Baiklah" jawab Emi singkat lalu pergi menuju kamarnya


"Kamu baik dan pengertian Emi, tapi gengsi mu terlalu tinggi" gumam Jully, lalu masuk kekamarnya untuk bersiap-siap


__ADS_2