
Emi berjalan keluar untuk menikmati suasana pagi hari disana dan menjemur pakaiannya yang terkena hujan kemaren. Setelah itu dia masuk kembali kekamar.
"Setelah baju gue kering gue akan pulang. Lo terserah mau pulang atau mau tetap disini gue gak peduli" ucap Emi
"Gue antar lo pulang" jawab Jully
"Tidak usah, gue bisa sendiri" ucap Emi
"Jangan membantah, gue gak suka sama bantahan" ucap Jully sambil masih memainkan ponselnya.
Mereka tidak bersuara lagi, tiba-tiba hp Emi berbunyi tanda panggilan masuk.
Tring…Tring
"Lallo dengan Emi" sapa Emi
"Woyyy lu dimana, dicariin direktur tu" ucap teman satu Rumah sakit Emi yang bernama Irvan
"Ihhh bisa gak kalo gak pake teriak. Budeg telinga gue van" Emi kesal
"Ya lo dimana direktur nyariin lo" kabar dari Irvan sontak membuat Emi kaku
"Kenapa direktur cari gue van, gue dipuncak sekarang. Ada apa, apa gue dipecat" Emi panik sendiri
"Mana gue tau yang gue denger lo diutus kedesa didaera Bogor untuk memberikan seminar kebidanan kepada ibu hamil" ucap Irvan
"Ooo itu, bukannya kegiatannya itu 3 hari lagi ya. gue udah siapin semua kok. Gue baru bisa pulang ke jakarta sore nanti. Gue kejebak longsor ini van. Bisa gue mintak tolong sampaikan ke direktur seperti itu" pinta Emi memelas
"Baiklah gue sampai kan nanti" jawab Irvan malas
"Terima kasih teman baikku" ucap Emi merayu dan mematikan telpon, tapi tampak kecemasan di wajah Emi.
"Lo kenapa, kenapa muka Lo jadi tegang gitu. kesambet Lo" ucap Jully dengan wajah kakunya
"Dasar pria brengsek, gue kayak gini karena lo tau. Kalau bukan karena ulah lo, gue gak bakalan kena sial kayak gini" Emi murka dengan Jully
"Ya maaf. Tapi tidak sepenuhnya salah gue dong. coba kalau kemaren lo nurut apa kata gue. Kita gak bakalan terjebak kayak gini kan" ucap Jully santai
Emi kesal mendengar jawaban Jully dan melemparinya dengan bantal diatas kasur itu.
Emi dan Jully menyibukkan diri sendiri karena mereka sangat canggung berada dikamar yang sama. Setelah informasi kalau jalan sudah bisa dilalui mereka segera berangkat menuju ibu kota.
"Gue turun dijalan xxx aja nanti" pinta Emi
"Gue anterin sampai rumah, bukan tipe gue yang bisa seperti itu menurunkan perempuan ditengah jalan" ucap Jully
"Terserah lu aja" jawab Emi kesal merasa selalu di semena-menakan oleh pria yang baru ia kenal
__ADS_1
Mereka tidak berbicara lagi, Emi memilih tidur dimobil sedangkan Jully hanya sibuk menyetir mobil melaju kearah ibu kota.
Setelah masuk kekawasan ibu kota Jully membangunkan Emi.
"Heiii… Heiii… bangun, kita udah dijakarta, dimana rumah lo" tanya Jully
"Eemmm... gue turun disini aja. Sudah berenti didepan sana" pinta Emi
"Berapa kali gue bilang, gue gak mau ada penolakan. Sebutin alamat rumah lo. Kita kesana sekarang" bentak Jully
"Lo dari kemaren seenak nya aja sama gue. Emang lo siapa gue hah, tau nama aja kagak" Emi kembali membentak Jully
"Terserah lo aja. Turun sana" ucap Jully sambil menghentikan mobilnya ditengah jalan
Emi pun turun dan segera menghentikan taksi, ia langsung pulang kerumahnya dengan perasaan kesal. Emi sampai dirumah sudah gelap jam menunjukkan pukul 19.00 wib.
Setelah sampai dirumah Emi langsung kekamar dan langsung mandi. Setelah itu ia langsung tidur.
Di ruang keluarga rumah Emi papa dan mama sedang duduk sambil mengobrol dengan kedua adik Emi yang bernama Oki dan Yuni. Oki dan Yuni adik yang sangat penurut juga sangat menjaga kakak nya. Karena kakak mereka sangat manja dan labil. Pada saat mereka sedang ngobrol tiba-tiba bel rumah berbunyi. Ting tong…
"Yun, itu ada orang yang datang. Coba dilihat dulu" Fatima menyuruh Yuni membukakan pintu
"Baik ma" jawab Yuni sambil berjalan.
Yuni berjalan menuju pintu depan rumah dan membukakan pintu itu. Pada saat pintu dibuka Yuni melihat ada sosok pria yang berdiri didepan pintu tapi dia tidak mengenal nya
"Gue Jully, apa kakak mu ada" Jully memperkenalkan diridan menyodorkan tangan kearah Yuni
"Oya ada mas, nama saya Yuni ada perlu apa ya mas" tanya Yuni setelah berkenalan
"Saya mau bertemu dengan kedua orang tua mu Yun, apa mereka ada dirumah" tanya Jully
"ooo ada, silahkan masuk mas" suruh Yuni
"Pria aneh, nanya kakak sekarang malah mau ketemu papa mama. Apa dia pacar kakak ya" gumam Yuni sambil mempersilahkan masuk Jully
"Terima kasih" Jully segera masuk mengikuti langkah Yuni.
"Duduk dulu mas, saya panggilkan mama dan papa didalam" ucap Yuni
"Terima kasih dek" jawab Jully sambil tersenyum
Yuni berjalan menuju ruang keluarga untuk memanggil kedua orangtuanya.
"Ma, pa ada tamu. Katanya teman kakak tapi mau ketemu mama dan papa" ucap Yuni
Mereka semua mengkerut kan dahi tanda bingung dengan perkataan Yuni.
__ADS_1
"Siapa" tanya Fatimah bingung
"Tau!! temui aja dulu baru mama dan papa tau" ucap Yuni juga bingung
"ayok ma, kita temui dulu" ajak Ferri
Mereka menemui Jully yang duduk diruang tamu sendirian. Mereka mengingat ngingat apakah mereka kenal dengan laki-laki ini. Tapi mereka tidak mengingatnya. Walaupun pak Ferri dan Fatimah sahabatan dengan kedua orang tua Jully tapi mereka terakhir ketemu waktu anak anak mereka masih kecil. Jadi wajar saja kalau mereka tidak saling mengenal.
"Selamat malam Om, Tante. saya Jully" sapa Jully
"Malam, saya Ferri, ada perlu apa ya" papa Ferri memperkenalkan diri nya
"Oya Om, saya kesini mau ngomong serius tentang anak om" ucap Jully
"Maksud anda, anak saya yang mana" tanya Ferri
"Anak om yang besar, saya tidak tau namanya karena belum sempat kenalan. Tapi saya menyukai anak om, saya ingin menjadikan anak bapak istri saya" ucap Jully percaya diri
"Apa? Ha…Ha… Ha…" Ferri tertawa keras begitu juga dengan mama juga adik-adik Emi. Mereka serasa tidak percaya dengan pernyataan Jully
"Om, tante maaf saya tidak main-main. Saya serius om, tante. Kita sudah pernah bertemu bahkan tidur sekamar, om dan tante boleh tanyakan sendiri kepada emi" ucap Jully memperjelas
"Apa kau bilang, beraninya kau menuduh anak ku berbuat rendahan seperti itu" papa Ferri menjadi geram dan hendak menghampiri Jully tapi ditahan oleh Oki
"Sabar pa, kita tanya kan sejelasnya dulu apa mmaksudnya" ucap Oki menenangkan papa Ferri
"Mas kalau ngomong yang jelas, apa yang kamu maksud" tanya mama Fatimah
"Kemaren kita pergi kepuncak berdua. Di sana saya menyatakan perasaan saya yang sesungguhnya kepada anak tante, tapi anak tante menolaknya dan terjadi perdebatan dan setelah kami akan pulang kejakarta dijalan ada longsor, kami terjebak longsor itu tan. Akhirnya kami mencari penginapan terdekat, tapi cuma tersisa satu kamar. Kami tidur satu kamar tan" jelas Jully
"Ooo seperti itu tapi kalian tidak melakukan apa apa kan" tanya Fatimah
"Tidak tan, kami hanya ingin beristirahat saja itupun saya tidur disofa dan anak tante ditempat tidur" jelas Jully lagi.
"Apa kamu serius dengan perasaan kamu dan sudah yakin dengan anak tante" ucap Fatimah
"Ya tan, insyaallah kalau allah mengizinkan berjodoh akan bersatu" ucap Jully
"Baiklah, 3 hari lagi ajaklah orang tuamu kesini, dan jangan lupa anak tante bernama Emi, Emi Susanti. Ha… Ha…" ucap Fatimah tertawa karena merasa lucu anaknya dilamar oleh pria, tapi mereka tidak saling kenal.
"Terima kasih tante" ucap Jully tersenyum senang
"Tunggu, disini saya sebagai papa belum setuju. Kalian baru saja saling kenal dan kenapa saya harus menikahkan kamu dengan anak saya. Saya yakin anak saya juga tidak akan setuju dengan pinangan ini" ucap Ferri
"Saya akan berusaha untuk membuat Emi jatuh cinta sama saya seperti dia yang sudah memikat hati saya om. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama emi om, dan saya selama ini tidak pernah jatuh cinta kepada wanita lain selain emi om" jelas Jully
"Baiklah saya kasih waktu kamu seminggu untuk meluluhkan hati anak saya. Kalau tidak berhasil, jauhi dia dan jangan pernah ganggu dia lagi. Apa kamu paham" tegas papa Ferri
__ADS_1
"Siap om. Insyaallah saya akan berusaha" ucap Jully yakin.