
Emi pulang menuju tempat dimana Jully akan menunggunya yaitu hotel tempat mereka menginap. Setibanya di hotel itu Emi langsung menuju kamar yang mereka sewa. tok… tok… tok… (suara ketukan pintu)
Ceklek suara pintu terbuka, Emi dan Jully saling pandang, "Apa aku tidak mimpi" ucap Jully masih tidak percaya Emi berada di depan pintu
"Kenapa kamu jahat sekali hah. Bukannya mengejar istri mu malah berada di sini enak-enak tidur di kamar sendiri" cerocos Emi dihadapan Jully
Melihat tindakan Emi yang berteriak-teriak itu Jully langsung mel**** ***** Emi dan menarik tubuh Emi masuk kedalam kamar hotel. Setelah berada di atas tempat tidur Jully melepaskan ****man panas itu.
"Sayang, jangan pernah tinggalkan aku lagi, aku bisa gila kalau kamu ninggalin aku lagi" ucap Jully
"Kalau gila kenapa berada sendiri disini bukannya di susul atau di kejar" jawab Emi masih tidak terima
"Aku mengejar mu sayang tapi aku kehilangan jejak taksi itu karena sudah terlalu jauh. Berjanjillah tidak akan pergi lagi" ucap Jully
"Iya sayang. Apa kita kan terus seperti ini, kamu berat Jully Nugroho" ucap Emi karena di tindih oleh tubuh kekar Jully
"Ma… Maaf sayang, aku mau mintak jatahku sayang. Boleh ya" tanya Jully
"Iya sayang" jawab Emi singkat dan menarik kepala Jully agar mendekat ke arahnya.
Maka terjadilah permainan panas antara Emi dan Jully. Setelah selesai mereka melanjutkannya di kamar mandi sambil mandi sampai mereka sama-sama puas dan kehabisan tenaga.
Sekarang mereka berada di kamar dengan sudah memakai pakaian masing-masing.
"Sayang, nanti malam kita check out ya terus kita langsung kerumah mama dan papa ya sayang" ajak Jully
"Iya sayang" jawab Sinta masih memesan makanan untuk mereka
"Sayang, kamu masih berutang penjelasan sama aku tentang pria yang tadi bersama mu" ucap Jully
"Ooo itu, dia Andre mantan aku waktu masih zaman SMA, karena dia juga aku tidak pernah mau mengenal cowok lagi dan karena masih menunggu dia aku tidak mau di jodohkan oleh siapapun. Tapi aku sadar dia tidak benar mencintaiku, dia pergi cuma lewat pesan singkat dari email saja dan tidak pernah menghubungiku sama sekali. Semenjak mengenalmu dan melihat usaha mu yang begitu gigih untuk mendapatkan cinta ku dari sejak itulah aku melupakannya. Dan masalah tadi pagi itu karena aku merasakan sedikit kerinduan di dalam hati ku. Maaf kalau kamu cemburu" jelas Emi
"Tidak apa-apa sayang, kalau kamu mau menangis dan meminjam bahuku untuk bersandar, boleh. Ini pakai aja" ucap Jully tersenyum
"Jangan ngeledek dong. Aku tidak sedih sayang, karena kesedihanku hanya untuk kamu sekarang, kebahagiaanku juga untuk kamu. Air mata ini hanya akan keluar untuk kamu saja" ucap Emi
"Wahhh mantap sekali gombalannya. Belajar dari mana" tanya Jully
"Ahh… kamu mah gitu. udah ayo siap-siap katanya mau pulang. nanti keburu maghrib ini" ucap Emi
"Iya sayang, aku percaya sama kamu dan aku mencintai kamu sayang" ucap Jully
"Aku juga mencintaimu sayang" jawab Emi.
Akhirnya mereka bersiap-siap untuk pulang, Jully membantu Emi memasukkan baju kedalam koper, dan Emi bagian yang melipat dan memisahkan baju yang kotor. Setelah semua selesai makanan yang di pesan Emi juga sudah datang.
"Sayang, ayo makan dulu, nanti keburu dingin sotonya" ajak Emi
"Iya sayang. Sebentar, aku lagi ngunciin koper ini" ucap Jully
Sekarang mereka makan di depan depan TV sambil sekali-kali bercanda. Tiba-tiba telepon Jully berbunyi.
"Assalamualaikum ma" sapa Jully
__ADS_1
-
"Iya ma, sebentar lagi berangkat. Ini lagi makan" jawab Jully
-
"Baiklah ma, Assalamualaikum" ucap Jully menutup telepon setelah salamnya di jawab.
Emi yang sudah selesai makan kembali lagi menyiapkan barang-barang mereka.
"Kenapa jadi banyak begini barang-barang nya sayang" teriak Emi
"Itukan barang kamu semua sayang" jawab Jully
"O… Iya ya, aku lupa" Emi sambil nyengira
Sekarang mereka sudah check out dari hotel itu dan menuju kerumah Karun dan Sulastri. Saat memasukki rumah Sulastri Emi sedikit merasa gugup, mungkin karena ini kali pertamanya ia berada di rumah orang lain, Emi sedikit tegang, ia membayangkan kehidupan bersama mertua yang galak dan super judes seperti yang ada di sinetron-sinetron.
"Ayo sayang" ajak Jully menggenggam tangan Emi
Emi masih diam bak kehilangan jati dirinya, ia sangat takut akan kenyataan hidup yang akan di jalaninya kedepan apabila harus hidup dengan mertuanya.
"Assalamualaikum, ma, pa. Kami sudah datang" ucap Jully yang semakin membuat Emi tegang
"Waalaikumsalam sayang. Kamu sudah datang nak. Ayo masuk" ucap Sulastri menyambut Emi dan memeluk Emi yang kelihatan tegang
"Ma, pa" Emi hanya mengucapkan itu dan menyalami kedua mertuanya itu.
"Em… Tidak ma, cuma agak capek aja" ucap Emi
"Kalau begitu kalian istirahtlah dulu, mama akan menyiapkan makanan untuk kalian" ucap Sulastri
"Jully bawak istrimu kekamar" perintah Karun
"Baiklah pa, ma. Ayo sayang" Jully merangkul pinggang Emi dengan santainya didepan orang tuanya.
Setelah didalam kamar Emi langsung bernafas lega dan ia membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Kamu kenapa sayang, kenapa wajahmu tegang seperti itu" tanya Jully yang membelai kepala Emi
"Tidak sayang, aku hanya sedikit canggung karena masih merasa asing berada disini" ucap Emi
"Kamu pasti mikirnya kalu papa dan mama orang yang galak ya" ucap Jully seakan mengerti jalan fikiran Emi
"Tidak sayang" ucap Emi merasa tidak enak
"Sayang mama dan papa itu sangat baik, dan sangat pengertian" ucap Jully
"Iya sayang, maaf" ucap Emi
"Ya sudah, ayo istirahat kamu pasti capek kan. Sekarang tidurlah sebelum jam makan malam" ucap Jully
"Iya sayang" jawab Emi lagi
__ADS_1
Di bawah Sulastri dan asisten rumah tangganya sedang sibuk menyiapkan makan malam. Papa pun ikut bergabung duduk di meja dekat dapur. Pemandangan ini sudah sangat sering terjadi karena memang keluarga Jully sering menghabiskan waktu bersama di dapur sambil menunggu Sulastri memasak makanan untuk mereka.
"Ma kenapa sepertinya Emi takut kepada mu" tanya Karun
"Apa iya pa, emang seserem itukah wajah mama" tanya Sulastri
"Sepertinya seperti itu" goda Karun
"Apaan si pa. Karena Emi belum terbiasa sama kita makanya seperti itu" ucap Sulastri
"Nanti ramah lah sedikit wajahnya jangan di tekuk terus" goda Karun lagi
"Pa, udah deh. Nanti sendok yang panas ini bisa melayang kekepala papa lo" ucap Sulastri
"Ck. pantas saja Emi jadi takut. Kamu memang galak sayang" ucap Karun
Tiba-tiba prangg Sulastri melemparkan cangkir plastik ke arah Karun. Emi yang melihat kejadian itu sangat kaget dan matanya melotot hampir keluar dari tempatnya.
"Emi, maaf nak. Ini tidak seperti yang kamu lihat. Ayo kemari sayang" ajak Sulastri
"Iya ma. Maaf Emi sedikit kaget tadi" Emi sambil nyengir lagi.
"Tidak apa-apa sayang, papa kamu ini memang seperti itu sayang, kalau becanda suka keterlaluan" ucap Sulastri
"Loh kok papa yang disalahin. Mama yang lempar cangkir itu ke papa" goda Karun lagi
"Kan mulai lagi" ucap Sulastri
"Haha... Emi kamu hati-hati sama mama mi itu, orangnya galak dan sangat menakutkan" ucap Karun sambil berlalu pergi
"Papa…" teriak Sulastri
Emi yang mendengar ucapan Karun pun sedikit merasa ngeri dan ia hanya diam melihat mertuanya itu teriak dihadapannya.
"Emi, kamu jangan dengarkan omongan papa kamu ya nak. Mama bukan mertua yang seperti di sinetron itu Emi. Mama sangat menyayangi mu, apalagi kamu anak sahabat mama sendiri. Kamu bukan menantu bagi mama sayang, tapi kamu anak perempuan mama" ucap Sulastri menjelaskan kepada Emi
"Iya ma. Maaf Emi masih agak canggung karena Emi tidak pernah berada di rumah orang lain selain rumah mama dan papa Emi ma" ucap Emi
"Iya sayang. Mama mengerti, ayo bantu mama menata ini di atas meja, sebentar lagi kita makan bersama ya. Oya mama lupa ini bi tursina, yang bantu mama dirumah ini" ucap Sulastri memperkenalkan ART nya
"Selamat malam bi, aku Emi" ucap Emi ramah
"Malam non, panggil aja bi Sina ya non" ucap Bi Sina
"Iya bi, jangan panggil Non ya. panggil Emi saja" ucap Emi
"Maaf non, saya tidak enak sama den Jully juga tuan dan Nyonya, non" ucap Bi Sina merendah
"Sudah, Bi Iyem yang di rumah Mi juga panggilnya Emi. Jangan sungkan ya bi" ucap Emi
"Aduh, sangat beruntung den Jully mendapatkan istri sebaik Nak Emi" ucap Bi Sina
"Sudah ayo kita tata makanan ini ke meja" ucap Sulastri.
__ADS_1