Menikahi Seorang Bidan

Menikahi Seorang Bidan
18


__ADS_3

Jully sangat bahagia dengan situasi sekarang. Yang berdekatan dengan Emi.


"Emi, terima kasih ya" ucap Jully yang terputus karena kedatangan pelayan cafe itu.


"Maaf pak, bu ada yang bisa saya bantu" tanya pelayan cafe


"Oya terima kasih mbak. Emi, kamu mau pesan apa" tanya Jully


"Samain aja sama kamu" jawab Emi tersenyum


"Baiklah, ini mbak. Terima kasih ya mbak" ucap Jully


"Sama-sama pak, bu. Mohon tunggu sebentar" ucap pelayan cafe


Di jawab senyuman dari Jully dan Emi. Mereka melanjutkan obrolan mereka.


"Emi terima kasih banyak. Sudah membuka hatimu untukku, dan juga sudah mau menerima ku. Maafkan sifat ku selama ini yang membuat mu jengkel. Tapi ketahuilah aku sangat mencintaimu" ucap Jully menyatakan cinta.


"Ya Jully, biarkan itu jadi masalalu dan sekarang kita jalani yang kedepannya ya. Tolong terima aku apa adanya aku, tolong tegur aku langsung kalu aku salah, tolong maafkan sifat ku yang kasar terhadap mu selama ini. Aku jujur memang belum mempunyai perasaan apapun terhadapmu, tapi aku ingin belajar mencintaimu Jully. Tolong beri aku waktu ya" ucap Emi lirih


"Baiklah, aku akan menunggumu Emi. Tapi aku boleh menanyakan suatu hal kepada mu" ucap Jully


"Boleh. Tanyakanlah" jawab Emi


"Kenapa tiba-tiba mau nerima aku, dan kenapa tiba-tiba bersikap yang membuat hatiku lebih mencintaimu hem" tanya Jully dengan menyelidiki


"Itu ya karena sudah memikirkan semuanya dari kemarin-kemarin saja" ucap Emi berbohong


"Jangan bohong Emi, walaupun baru beberapa bulan mengenalmu aku tau kapan kamu berbohong dan jujur sayang" ucap Jully


"O… itu. Pasti kamu sudah tau bukan, aku tadi mendengar semua percakapan kalian Jul. Aku merasa bersalah dengan mama dan keluarga ku Jul, dan aku merasa bersalah denganmu, makanya aku mau kamu lebih terbuka kepada ku nanti, jangan menahan semuanya dan jangan memendamnya sayang, aku tidak mau melukai hati orang-orang yang sangat aku cintai" ucap emi menjelaskan.


"Apa tadi, coba ulang lagi kata kata yang terakhir" pinta Jully


"Apa, jangan mulai lagi deh" ucap Emi mengernyitkan dahinya


"Iya deh sayang ku. Jangan pernah merubah panggilannya, tetaplah dengan panggilan itu. SAYANG" ucap Jully dan menekankan ucapannya yang terakhir


"Ih… Jangan gitu. Nanti aja kalau itu, aku malu Jully" ucap Emi menggelengkan kepalanya dengan wajah yang merona


"Ha… Ha… Ya lah. Sesuka kamu saja Em. Tapi aku boleh ya panggil sayang atau panggil adik" ucap Jully


"Apa tidak terlalu cepat" tanya Emi lagi


"Daripada terlambat sayang ku" ucap Jully


"Ya deh" jawab Emi pasrah

__ADS_1


Mereka ngobrol dan sedikit curhat mencurahkan keluh kesah tentang kehidupan mereka sehari-hari. Sampai akhirnya makanan makan dn mereka selesai makan. Mereka memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan kepuncak. Walaupun hari sudah sore tapi mereka tetap pergi kepuncak, karena Jully ingin memperbaiki semuanya.


"Kita akan sampai jam berapa kesana Jully dan akan pulang jam berapa. Besok kita sama-sama kerja loh ini" ucap Emi


"Sebentar saja Emi. Tidak masalah besok kerja, kamu bisa tidur dimobil dan besok aku akan tetap kerja. Tolong ikut ya" jawab Jully sambil menyetir.


"Baiklah. Aku tinggal tidur ya" ucap Emi


"Boleh tuan putri ku yang tersayang" ucap Jully


Emi tidur dimobil selama perjalanan menuju puncak. Setelah sampai Jully tidak membangunkan Emi yang masih tertidur. Tapi tiba-tiba handphone Jully berbunyi tanda panggilan masuk, tring… Tring…


"Assalamualaikum ma" sap Jully karena yang menelpon adalah Sulastri


"Waalaikumsalam, Jully ini sudah malam. Kalian dimana kita harus pulang nak" ucap Sulastri


"Kami dipuncak ma. Sebentar lagi pulang. Mama dan papa bisa menunggu Jully sekitar 3 jam lagi" ucap Jully


"Anak nakal, ini sudah jam 8 malam. 3 jam lagi berarti jam 11 malam. Kamu bawak kemana anak gadis orang hah" teriak Sulastri memekakkan telinga.


"Ayolah mam. Mengerti sedikitlah, kalau tidak pesan taksi online saja ya" ucap Jully


"Ya sudahlah. Demi menantu mama, mama akan nurut. Awas saja kamu berani macam-macam, ingat Jully kalian belum muhrim" Sulastri mengingatkan


"Aduh… Mama emang kita mau ngapain. Jully juga masih ingat dosa. Jully tidak mau melewatkan keindahan malam pertama Jully ma" ucap Jully meyakinkan mamanya


"Siap ibu ratu yang cerewet" Ucap Jully langsung mematikan telepon takut kena teriakan Sulastri lagi.


Selesai nelepon Sulastri Jully melihat Emi masih tertidur. Jully berinisiatif membangunkan Emi.


"Emi… Em… hei… kita sudah sampai sayang" Jully menggoyang badan Emi dan membelai kepala Emi dengan lembut


"E… Kita sudah sampai mana Jul" Tanya Emi sambil menggeliat karena bangun tidur


"Kita sudah dipuncak. Ayo keluar sebentar" ajak Jully


"baiklah" jawab Emi dan langsung membuka pintu mobil.


Emi sungguh takjub melihat pemandangan yang sangat indah dari atas tebing itu.


"Wah… sangat indah pemandangannya Jully" ucap Emi


"Ini belum seberapa dibanding keindahan bidadari di depan ku sekarang" ucap Jully


"Apa? sejak kapan kamu bisa menggombal. Katanya tidak pernah mendekati cewek. Atau kamu adalah seorang playboy cap kapak itu" ucap Emi penuh pertanyaan


"Sejak bersama mu. Dan itu bukan gombalan. Tapi memang keluar tulus dari dalam sini. Emi kamu sangat cantik hari ini" ucap Jully jujur sambil memandang mata Emi.

__ADS_1


Emi memandang lekat mata Jully mencari kebohongan dimata Jully. Tapi ia yakin Jully berkat jujur.


"Sebegitu besarnya cinta mu untukku Jully" ucap emi


"Lebih dari apapun. kamulah yang akan jadi prioritas dalam hidupku. Dan kamulah yang akan selalu mengisi seluruh hatiku setelah mama ku" ucap Jully.


Emi memeluk Jully dan merasakan sangat bahagia. Mungkin sedikit demi sedikit hati yang selama ini kaku dan kebas sudah sedikit melunak karena ketulusan yang Jully berikan kepada Emi.


"Terima kasih Jully. Aku sangat beruntung bisa mengenal mu dan menjadi pendamping hidupmu" ucap Emi didalam pelukan Jully


"Sama-sama sayang. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ataupun pergi dari ku sayang, apapun keadaanya tetaplah bersama ku sayang, karena kamu adalah separuh jiwa ku" ucap Jully


"Baiklah sayang. Terima kasih" ucap Emi melepaskan pelukan itu.


"Hari sudah malam sayang. Kita pulang ya, takutnya nanti kemalaman. Besok aku jemput pergi kerja ya" ucap Jully


"Baiklah. Terima kasih untuk hari ini. Jangan pernah berubah" ucap Emi


"Oke calon Nyonya Jully Nugroho" goda Jully dan merangkul pinggang Emi berjalan menuju mobil.


Mereka berjalan pulang menuju jakarta. Emi yang sudah kelelahan akhirnya ketiduran dimobil. Sampai akhirnya sampai didepan rumah Emi Jully segera turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah tanpa membangunkan Emi.


Tok… Tok… Tok…


"smSiapa" tanya Ferri dari dalam rumah


"Jully om" jawab Jully dan langsung dibukakan pintu oleh Ferri.


"Assalamualaikum om. Maaf Jully telat ngantarin Emi. Tadi dijalan sedikit macet om" ucap Jully menjelaskan


"Waalaikumsalam. Tidak apa-apa Jully. Emi nya mana" jawab Ferri ramah


"Emi ketiduran dimobil om. Mau bangunin tapi kasihan" ucap Jully


"Ya sudah, om minta tolong bopong Emi kedalam kamar ya Jul. Om sudah tua. tidak kuat mengangkat tubuh Emi yang sudah besar" pinta Ferri


"Baiklah om" ucap Jully langsung berjalan menuju mobil dan membopong tubuh Emi menuju kamarnya. Sedangkan Ferri sudah membukakan pintu kamar Emi. Setelah selesai Jully segera keluar dari kamar Emi.


"Terima kasih Jully" ucap Ferri


"Sama-sama om, Jully langsung pamit pulang ya om. Besok harus kerja lagi" ucap Jully


"baiklah Jully. Jangan lupa minggu besok bawaklah rombongan untuk melamar anak om ya" ucap Feri tiba-tiba


"smSiap om, dengan senang hati, kalau begitu Jully permisi pulang ya om. Assalamualaikum" jawab sambil tersenyum


"Waalaikumsalam" Ferri pun mengantarkan Jully kepintu depan rumah.

__ADS_1


__ADS_2