Menikahi Seorang Bidan

Menikahi Seorang Bidan
31


__ADS_3

Setelah makanan tertata rapi di atas meja Jully dan Karun sudah bergabung di meja makan.


"Ayo kita makan" ajak Sulastri


"Maaf ma, itu bi Sina gak makan sama-sama kita ya" tanya Emi


"Bi Sina sama yang lainnya makan di meja makan rumah belakang sayang, mama sudah pernah ajak mereka bergabung makan di sini tapi mereka gak mau. katanya segan" Jawab Sulastri senyum


"Iya ma, Emi ini kalau di rumahnya Bi Inem dan yang lain makan bersama-sama di meja makan yang sama. kadang mereka makan lesehan juga ma" ucap Jully menjelaskan.


"Mama tau kebiasaan mama mu nak, dia memang seperti itu dari dulu. Tidak pernah membedakan status apapun dengan orang lain. Ayo kita makan" ucap Sulastri merasa senang Emi mempunyai hati yang lapang


Sulastri sibuk mengambilkan makan untuk Karun, dan beberapa lauk sudah tertata di atas piring Karun. Dengan cekatan Emi melakukan hal yang sama dengan mertuanya itu, Jully sangat senang melihat Emi yang bisa melayaninya dengan telaten.


"Emi, apa kamu sudah lihat kegalakan mama mu ini, tadi baru cangkir yang di lempar biasanya kuali panas di lempar juga ke papa, jadi kamu harus hati-hati dengan mertua mu ini nak" ucap Karun menggoda Emi


"Papa, diam. Kenap begitu senangnya mengganggu menantu kita hah" ucap Sulastri


"Emi jangan dengarkan papa mu nak, orangnya memang seperti itu. Dia memang sudah lama berharap anak perempuan tapi tidak kesampaian" ucap Sulastri balik menggoda Karun


"Udah ahh. jadi gak seruu lagi kalau sudah membahas masalah anak. Ayo lanjut makan" ucap Karun ketus


"Kenapa papa manyun, kan sekarang papa sudah punya anak perempuan yang bisa papa goda setiap saat" Jawab Emi dengan mengedipkan sebelah matanya


"Wahhh… Anak papa memang jago merayu yq, pantesan Jully sampai klepek-klepek" ucap Karun bahagia


"Ya sudah kalau aku gak dianggap lagi di sini aku pergi saja" ucap Jully pura-pura akan pergi


"Eetttss mau kemana kamu bocah... Kenapa semua orang di rumah ini mudah sekali ngambek ya" ucap Emi menarik tangan Jully


"Ya sudah kalau tuan putri sudah bringas seperti ini terpaksa menurut" ucap Jully tersenyum.


Sambil makan mereka mengobrol ringan agar suasana tidak terlalu canggung. Karena mengingat menantu mereka baru pertama menginjakkan kaki dirumah Karun dan mereka sangat bahagia mendapatkan menantu seperti Emi yang sangat ramah dan baik terhadap semua orang. Sekarang mereka sudah menyelesaikan makan dan duduk bersama ke ruang keluarga sambil nonton bersama.


Bukan hanya keluarga itu tapi pelayan yang berjumlah 5 orang dirumah itu juga ikut gabung nonton bersama. Sebenarnya di rumah belakang sudah ada televisi untuk pelayan tapi karena sudah kebiasaan mereka mengobrol bersama layaknya keluarga besar.

__ADS_1


"Emi kapan kamu mulai masuk bekerja lagi sayang" tanya Sulastri


"Insyaallah 1 minggu lagi ma, Emi menghabiskan masa cuti tahunan Emi ma" ucap Emi


"Oya ma, pa. Besok malam kami sudah kerumah orang tua Emi dan setelah dari sana kami akan menetap di apartemen" Ucap Jully


"Kenapa cepat sekali, mama baru saja merasa bahagia di rumah ini tambah rame karena ada kalian sayang" ucap Sulastri melihat ke arah Emi seolah-olah meminta Emi untuk mengulur waktu kepindahan mereka.


"Ma, kan Jully sudah bilang setelah menikah Jully ingin mandiri ma" ucap Jully


"Sayang, tapi itu kecepatan, pa. Kenapa kamu hanya diam saja" ucap Sulastri tidak bisa menahan air matanya


"Iya Jully, menetaplah disini sebulan lagi, setelah itu kalian boleh tinggal di apartemen atau nanti papa belikan rumah di dekat sini saja" usul dari Karun


"Tidak pa. Kalau seperti itu kapan Jully akan mandiri" ucap Jully


"Sayang, benar kata papa dan mama ini terlalu mendadak. ujung-ujungnya kita akan tetap mandiri nanti nya kan" ucap Emi


"Tapi sayang" belum sempat Jully melanjutkan ucapannya sudah dipotong oleh Emi


"Ya sudah kalau begitu. Sebulan ya ma" ucap Jully


"Baiklah, sekarang ajak istri mu istirahat sayang. hari sudah malam" ucap Sulastri


"Ya ma, kami ke kamar dulu" ucap Jully


"Jully, Emi. Papa tidak minta apa-apa tapi cepatlah kasih papa dan mama cucu. Agar ketika kalian sudah pindah nanti kami tidak akan terlalu kesepian karena anak kalian akan sering main kesini" ucap Karun


"Iya pa. Jangan khawatir nanti akan tiba cucu untuk papa. Ayo sayang kita buat cucu untuk papa yang banyak" ucap Jully


"Apaan sih, malu tu di liatin sama bi Sina dan yang lain" ucap Emi


"Udah ahhh kelamaan" ucap Jully segera menggendong Emi kekamar


"Aww..." teriak Emi yang di gendong oleh Jully.

__ADS_1


Semua orang di ruang tv itu tertawa melihat tingkah kedua anak muda itu, yang lagi sayang-sayangnya.


"Lihat tu kelakuan anakmu pa" ucap Sulastri


"Namanya juga anak muda ma" ucap Karun


Mereka kembali nonton dan mengobrol dengan ART yang berada di sana. Sulastri sangat senang karena rumah itu akan ramai dihiasi oleh suara anak dan menantunya itu. Emi yang tadinya canggung sekarang sudah sedikit bersahabat dengan keadaan di rumah itu.


Malam ini Jully dan Emi hanya istirahat tidak melakukan. senam atau apapun, mereka hanya mengabiskan waktu dengan ngobrol sedikit.


"Sayang, gimana kalau kita tidak bisa mempunyai anak" tanya Emi


"Kenapa ngomong seperti itu" ucap Jully


"Semenjak papa menuntut cucu aku takut tidak bisa memberikan itu kepada mereka mas" ucap Emi


"Sudah sayang, jangan difikirkan itu pokoknya sekarang kita berusaha ya" ucap Jully


"Tapi kalu tidak bisa apa kamu akan meninggalkanku" tanya Emi


"Udah jangan bahas itu, sekarang tidur" ucap Jully sedikit kesal


"Aku mau tau Jully. Apa kamu sangat menginginkan anak" Emi tidak berhenti bertanya


"Setiap rumah tangga tujuan utamanya itu mengharapkan keturunan apalagi aku anak semata wayang dari mama dan papa, pasti sangat berharap. Tapi kalau itu tidak bisa dimiliki kita bisa mengadopsi anak suatu saat nanti" ucap Jully menjelaskan


"Kalau mama atau papa tidak menginginkan cucu adopsi tapi menuntut cucu keturunan darimu bagaimana" tanya Emi


"Kamu ini kenapa si, dari tadi membahas yang belum pasti. Ada apa sama kamu Emi" ucap Jully sedikit berteriak


"Aku hanya bertanya. Tinggal jawab aja apa susahnya, tidak perlu berteriak seperti itu" Emi kembali membentak dan berbalik arah memunggungi Jully


"Kalau suatu saat kita bisa mempunyai anak, aku akan menikah lagi dengan orang yang bisa membuat anak" ucap Jully dengan kesal dan tidak memperdulikan perasaan Emi


Emi kaget mendengar semua penuturan Jully, ia merengkuk didalam selimut sambil menangis dalam diam. Air matanya tidak berhenti mengalir, sampai hampir subuh Emi tetap menangis, karena sudah kecapek an menangis Emi tertidur sangat pulas dengan wajah yang sembab dan sesegukan kecil.

__ADS_1


__ADS_2