
Jully sangat bingung dengan pola fikir Emi yang sangat takut dengan kehidupan rumah tangga.
"Maaf Emi bukan maksud aku memaksakan kehendak sama kamu, tapi aku hanya tidak habis fikir apa yang kamu takutkan dengan berumah tangga. Kalau kamu takut tentang pekerjaanmu aku tidak akan mengganggu kalau memang itu harus" jelas Jully
"Aku tidak takut sama sekali, yang aku minta tolong pahami aku dan kehidupan dunia kerja ku. Karena aku tidak mau suatu saat suami atau keluarga suami ku menuntut banyak tentang ini dan itu" jelas Emi
"Oke kalu begitu aku mengalah, tapi sampai kapan" tanya Jully lagi
"2 atau 3 tahun lagi" jawab Emi singkat
"Apa" jawab mama Fatimah, papa Ferri dan Jully serempak
"Iya. Apa ada yang keberatan. Karena memang aku belum siap untuk berumah tangga dalam waktu dekat. Kalau kamu tidak mau menunggu ya sudah cari yang lain. Gampang kan" ucap Emi santai tanpa dosa.
Mereka bertiga saling pandang dengan jawaban Emi. Fatimah tidak menyangka anaknya akan sekeras itu dengan prinsip hidupnya.
"Emi, kamu sudah dewasa, sudah bekerja. sampai kapan kamu akan seperti ini nak, kamu itu seorang perempuan suatu saat kamu akan menikah dan pekerjaan bukan prioritas utama mu nak. Sama siapapun kamu menikah hukum itu akan terjadi nak. Mama dan papa sudah tua, kami juga ingin menimang cucu nak" ucap Fatimah sambil menangis kepada Emi
"Ma, Emi hanya belum siap bukan tidak mau. Emi hanya ingin mengenal Jully lebih dalam. dan Emi tidak mau uang mama dan papa habis sia-sia untuk menyekolahkan Emi tapi tidak ada manfaat apa-apa" ucap Emi lirih
"Sudah tan, Jully minta maaf. Jully tidak bermaksud untuk memaksa Emi. Jully akan menunggu Emi, sampai Emi sendiri yang mengatakan siap menikah" ucap Jully
"Ya Allah Emi, kemana kamu akan mencari laki-laki seperti ini. Yang rela kamu buat menunggu seperti ini" ucap Ferri heran kepada anak perempuan pertamanya
__ADS_1
"Kenapa semuanya jadi menyudutkan Emi. Apa ini tujuan kamu sebenarnya tuan Jully yang terhormat. Kau bicara dengan ku pagi tadi, dan malam ini kamu mintak dukungan dan memojokkan ku didepan orang tua ku. hah" teriak Emi
"Tidak Em, kamu salah paham Emi." jawab Jully akan menjelaskan tapi dipotong langsung dengan Emi
"Sudah cukup tuan Jully yang terhormat. sekarang kamu pergi dari sini. Dan jangan pernah datang lagi kerumah ku. Dan untuk mama dan papa, kalau kalian masih keras untuk menjodohkan Emi. Emi akan keluar dari rumah ini. Permisi" tegas Emi berlari menuju kamarnya.
Jully hanya terdiam melihat prilaku Emi yang keras dan sangat kuat dengan prinsipnya. Tujuan Jully hanya ingin mengetahui sampai kapan ia harus menunggu karena di bogor Emi tidak memberikan kejelasan sampai kapan ia harus menunggu Emi.
"Jully, om minta maaf atas sifat dan sikap Emi ya. tapi begitulah Emi dia sangat keras pada prinsipnya. Om dan tante sudah mencoba menggoyahkannya dengan cara menjodohkannya dengan beberapa laki-laki tapu tidak berhasil. Dia tetap dengan pendiriannya karena dia tidak ingin setelah menikah pekerjaannya jadi permasalahan didalam rumah tangganya nanti" jelas Ferri
"Ya om, Jully mengerti. Maksud Jully juga tadi untuk mencari tau keputusan Emi berkenalan sampai kapan. Itu saja om kalau 2 tahun Jully akan menunggu om, tan. Itu tidak jadi masalah buat Jully. Karena Jully memang sudah mencintai Emi dari semenjak pertama bertemu. Dan Jully yakin Emi yang terbaik untuk Jully, di balik sifat keras Emi ada terselip kebaikan yang sangat besar om" ucap Jully menenangkan kedua orang tua Emi.
"Terima kasih nak Jully, sudah sangat mengerti anak tante. Jangan pernah menyerah ya. Karena tante juga yakin Jully lah yang terbaik untuk anak tante" ucap mama Fatimah
"Ya tan. Jully permisi dulu om, tan sudah malam takut nanti mama dan papa jadi khawatir" Jully pamit
Akhirnya Jully pulang kerumahnya dengan rasa bersalah terhadap Emi. Ia merasa sudah menyudutkan Emi dan membuat Emi sangat marah kepada dirinya.
"bagaimana ini, Emi akan sangat membenci ku kalau seperti ini. Apa aku tidak usah menemuinya dalam beberapa hari ini. Biar dia tenang dulu saja" gumam Jully sambil menyetir mobil.
Setelah beberapa puluh menit perjalanan Jully sampai kerumahnya. Jalanan jakarta malam hari ini tidak terlalu padat, sehingga untuk mengendarai mobil pun sangat lancar dan cepat sampai tujuan.
"""***"""
__ADS_1
Keesokan harinya. Emi bangun pukul 10.00 WIB. Karena Emi minta tambahan libur 1 hari lagi kegiatannya selama seminggu sangat menguras tenaga Emi.
Materi yang disampaikan juga berbeda-beda. Keingintahuan masyarakat bogor juga sangat tinggi membuat Emi dan teman-teman satu timnya sedikit kuwalahan. Yang seharusnya sehari itu kerja mereka dari jam 08.00 sampai dengan 13.00 WIB jadi sampai pukul 17.00 WIB. Tapi dengan hal itu mereka merasa puas karena materi yang mereka sampaikan tepat sasaran juga dipahami oleh masyarakat.
Papa juga adik-adik Emi sudah berangkat sejak pagi tadi. Sedangkan mama Fatimah yang ibu rumah tangga sedang sibuk masak makan siang didapur dibantu dengan ART nya bi Iyem.
Emi keluar dari kamarnya untuk mencari makanan didalam kulkas karena perutnya sudah sangat lapar.
"Anak gadis mama baru bangun. Kalau mau makan sudah mama siapin nasi goreng kesukaan mu dibawah meja" sapa mama Fatimah
"Hem… terima kasih ma. Emi belum lapar, mau makan ini aja dulu" ucap Emi menghindari mama Fatimah dengan menunjukkan segelas susu dan buah-buahan yang diambilnya dari dalam kulkas
"Tidak sehat makanannya Emi. Makan nasi dulu nanti perutnya sakit lagi loh" tegur Fatimah
"Hem… Terima kasih" jawab Emi berjalan menuju kamarnya.
"Anak itu sangat keras kepala" gumam Fatimah
Mama memilih melanjutkan masak bersama bi Iyem didapur. Bi Iyem sudah mengabdikan diri dikeluarga Ferri sudah sejak Emi lahir sampai sekarang. Bi Iyem sangat mengerti apa yang dirasakan Emi saat ini. Dan sangat paham dengan sikap Emi.
"Itu bi, anakmu itu keras kepala sekali. Di nasehati dan diajak kompromi malah seperti itu, ngidam apa aku waktu hamilnya dulu ya" ucap Fatimah kesal
"He… Nak Emi memang seperti itu bu, tapi bibi yakin nak Emi seperti itu karena ada sesuatu hal yang mengganjal dihatinya yang sedang ia pahami. Kalau sudah dapat keputusannya nanti, dia akan mencair sendiri. Sifat tuan Ferri menurun 100% kepada nak Emi Bi" ucap Iyem menjelaskan
__ADS_1
"Benar bi, itu sifat papa nya di jiplak semua sama Emi, aku jadi pusing kalau sudah menghadapi 2 orang itu" keluh Fatimah
"Sabar aja bu, biarkan nak Emi sendiri dulu dan berfikir. Jangan dipaksa kalau dipaksa nanti jadinya kacau bu. Ibu ingat dulu waktu nak Emi mau masuk sekolah kesehatan tapi tuan ferri maunya sekolah bisnis. Karena dipaksa akhirnya nak Emi memberontak tidak masuk sekolah dan mendaftar sendiri disekolah kesehatan" jelas Iyem menjelaskan dan mengingatkan kejadian masa lampau kepada mama Fatimah