
Keesokan harinya Emi sudah merasa sedikit tenang dan moodnya sudah mulai kembali baik lagi, Ia sangat bahagia pagi ini.
"Sayang, kamu lagi apa" tanya Jully
"Sedang nyiram tanaman dan bersihin halaman rumah. hari ini pak iwan lagi pulang kampung, istrinya sakit" ucap Emi lembut.
Jully yang mendapatkan jawaban dari Emi merasa lega karen mood istrinya sudah kembali baik lagi. Ia tersenyum dan memeluk Emi dari belakang.
"Sayang, 3 hari lagi kamu kan masuk kerja, kita pulang ke apartemen aja bagaimana. Karena aku tidak mau istri ku yang cantik ini jadi kelelahan karena harus kerja juga membersihkan rumah di rumah mama" ucap Jully
"Tapi nanti mama gimana" tanya Emi
"Mama biar aku yang urus. sekarang kamu siapkan barang untuk kita pindahan ke apartemen ya" ucap Jully
"Sebaiknya kita pulang kerumah mama dulu hari ini mas, besok baru kita bicara kan lagi sama mama dan papa di rumah. Kalau langsung pergi tidak enak bukan" ucap Emi
"Baiklah sayang, kita siap-siap dulu ya. Biar nanti malam bisa langsung ngomong sama mama dan papa. Karena besok mas sudah harus masuk kantor sayang" ucap Jully
"Ya mas" ucap Emi
Emi dan Jully kembali masuk kedalam rumah, mereka menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarga Emi yang sudah berkumpul di sana.
"Ehem" goda Yuni sambil tersenyum ke arah Emi dan Jully
"Yuni" tegur Fatimah
"Maaf ma" ucap Yuni tertunduk
"Tidak apa-apa ma, kamu mau berangkat sekolah Yun" tanya Jully
"Iya mas, ada ujian hari ini" ucap Yuni
"Sekolah yang pintar ya, jangan pacaran dulu. pacaran setelah menikah lebih enak daripada sudah lama pacaran tapi tidak jadi" ucap Jully
"Iya mas, Yuni mau ikut jejak kak Emi aja" ucap Yuni
"Bagus itu" jawab Emi dengan wajah datar
"Sudah ayuk makan dulu nanti keburu dingin sotonya" ucap Fatimah
__ADS_1
Mereka makan sambil sekali kali mengobrol kadang juga bercanda. Semua orang di ruangan itu sangat bahagia di pagi hari yang cerah itu.
"Pa, ma. Jully dan Emi hari ini mau pergi ke rumah mama dan papa Jully dulu, besok insyaallah kita mau pindah ke apartemen" ucap Jully
"Loh bukannya kalian harus ngunduh mantu seminggu lagi. terus katanya kemarin mau menetap di sana dulu selama 1 bulan" ucap Fatimah
"Iya ma, tapi tadi malam Jully sudah mikirin, 3 hari lagi Emi kerja, pasti pulang bekerja Emi sudah kecapekan kalu di rumah Jully Emi pasti tidak bisa istirahat. Walaupun mama dan semua orang di. rumah sudah melarang Emi membantu pekerjaan rumah tapi mama tau sendiri Emi bagaimana. Jully gak mau Emi kecapekan ma" Jelas Jully
"Tapi bagaimana dengan mama dan papa mu Jul, nanti mereka salah paham sama kalian juga mama dan papa" ucap Ferri
"Tidak pa, nanti Jully yang bilang sama mereka. Biar mereka tidak salah paham pa, ma" ucap Jully
"Kalau kamu bagaimana Emi" tanya Ferri
"Kalau Emi nurut aja sama mas Jully pa, mana baiknya aja pa" ucap Emi
"Ya sudah kalau itu sudah jadi keputusan kalian berdua papa dan mama hanya bisa mendukung. Papa hanya berpesan sama kalian rukun-rukun lah, terus kalau ada masalah cepat kalian selesaikan, jangan berlarut-larut. Kalian yang akan menjalani kehidupan kalian berdua jangan keseringan Ribut" nasihat Ferri
"Iya pa, Jully akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Emi dan imam yang baik untuk keluarga Jully" ucap Jully
Makanan yang mereka santap sudah habis, dan sekarang waktunya Yuni dan Oki pergi ke sekolah masing-masing, sedangkan Ferri akan berangkat ke kantornya.
"Iya pa" jawab Emi dan Jully serempak dan bersalaman bergantian kepada Ferri
"Mas kami juga berangkat ya" ucap Oki bersalaman kepada kedua kakaknya itu.
"Iya Oki, Yuni. Ini ada uang jajan dari mas ya. jatah 1 minggu" ucap Jully sambil mengeluarkan 2 amplop untuk Oki dan Yuni
"Wah jadi jajan kami nambah ni" ucap Oki melihat kepada orang tuanya dan kedua kakaknya itu
"Iya, mas Jully yang mau kasih, kalau kakak mah mau larang tadinya" ucap Emi
Mereka membuka amplop masing-masing dan terperangah melihat beberapa lembar uang Rp. 100.000,00 sebanyak 15 lembar didalam amplop itu, seketika mata Oki dan Yuni membulat sempurna di rasa itu terlalu banyak untuk 1 Minggu
"Mas, ini kebanyakan untuk 1 minggu. Papa aja kasih kami cuma 50ribu untuk sehari" ucap Oki
"Selagi mas bisa kasih, minggu besok mas akan transfer ke rekening kalian masing-masing ya" ucap Jully
"Terima kasih banyak mas" ucap Yuni kegirangan
__ADS_1
"sisanya ditabung, jangan dipoya poyakan" ucap Fatimah
"Iya ma" ucap Oki dan Yuni serempak
Mereka berpamitan dan segera menuju ketujuan masing-masing. Sedangkan Emi langsung ke kamar untuk membawa beberapa lembar baju nya dan baju kerjanya pindah ke rumah Jully. Emi mengambil beberapa koper untuk memasukkan barangnya ke dalam koper. Jully yang melihat Emi akan membawa semua barangnya hanya geleng-geleng kepala, merasa lucu melihat kesibukan istrinya itu.
"Sayang, untuk apa di bawah semua. Kita kan bisa beli lagi nanti, yang perlu saja ya" ucap Jully
"Tapi harus hemat" jawab Emi
"Untuk apa kamu hemat kalau mas masih mampu membelikan semuanya. Ayo susun lagi gang tidak perlu" ucap Jully
"Baiklah mas. Bantuin" rengek Emi
Barang yang tidak diperlukan Emi langsung disusun kembali di dalam lemari Emi, tapi itulah wanita yang tadinya ada 3 koper gede dan 1 koper kecil keperluan nya juga tetap banyak. yang dibawah tetap 2 koper besar.
"Ya Allah, ini mah sama aja. Kirain mas tadi cukup satu koper aja" ucap Jully
"Ha ha, itulah ke unikan seorang perempuan mas" ucap Emi
Koper yang akan dibawa Emi sudah dibawah Jully ke ruang keluarga, koper yang tinggal tadi sudah disusun lagi ke gudang tempat Emi mengambilnya tadi.
"Emi kenapa kamu bawak barang banyak sekali, apa kamu tidak akan kembali kesini lagi, tidak akan datang kesini lagi" ucap Fatimah
"Tidak ma, barang Emi masih banyak kok dikamar, ini yang memang Emi perlukan ma" ucap Emi
"Alhamdulillah, fikir mama tadi kamu bawak semua" goda Fatimah
"Mama ihh, apa gak boleh Emi kesini lagi" ucap Emi
"Boleh sayang, ini tetap rumahmu" ucap Fatimah
"Ya udah ma, Emi mandi dulu. Kami pergi setelah makan siang" ucap Emi
"Iya nak, ingat pesan papa mu tadi Emi" ucap Fatimah
"Siap Bos" Jawab Emi
Sekarang Emi mandi dan bersiap-siap setelah makan siang ia akan pergi kerumah mertua nya lagi.
__ADS_1