
"Kenapa kamu mikirin itu sih Emi, suatu saat akan ada orang yang baik dan menerima mu dengan semua kondisi mu" ucap Emi pelan dan beranjak dari tempat duduknya.
Emi pergi meninggalkan cafe itu menuju sebuah taman pinggiran kota. Ia duduk disebuah bangku yang menghadap kearah danau. Emi sibuk dengan semua fikirannya.
"Kenapa mama dan papa sangat mendukung Jully dan kenapa juga aku harus menikah cepat tanpa mengenal satu sama lain" ucap Emi dalam hati.
Emi masih sibuk dengan lamunannya sendiri. Ia melihat kearah danau sambil menikmati makanan yang dibelinya dipinggir jalan ketika menuju kearah danau. Setelah ia berada disana cukup lama seorang laki-laki menghampirinya.
"Hai, maaf mengganggu, apa boleh gabung" ucap Jully
"Hem... Ini bukannya tempat umum. Kalau mau duduk, ya duduk saja. Tidak ada tulisan dilarang duduk disini bukan" ucap Emi tanpa melihat kearah Jully
"Emi, maaf ya atas kejadian malam tadi. Aku tidak bermaksud memojokkan mu. Aku tidak pernah pacaran apalagi dekat dengan seorang perempuan. Aku tidak mengerti dan juga tidak memahami cara merayu seorang perempuan. Aku memang sedikit kaku untuk hal semacam itu Emi, dulu waktu aku melihat mu semua pandanganku tentang perempuan itu berubah. Kamu sangat berbeda dengan mereka semua Emi, itulah yang membuat aku langsung tertarik kepadamu" jelas Jully
"Tapi kenapa kamu suka sekali memaksakan kehendak mu, kamu juga selalu membuatku jengkel dan merasa sangat marah ketika melihatmu" ucap Emi tetap melihat kearah danau
"Ya memang aku sengaja Emi, aku ingin tau sisi buruk mu, karena kalau kata mama ku jangan menilai seorang gadis dengan kebaikannya. Tapi nilailah dengan sisi buruknya. Dari situ kamu akan melihat dan merasakan betapa cintanya kau kepada seseorang gadis itu" ucap Jully
"Kau sangat aneh, bukannya seorang laki-laki itu maunya seorang istri yang baik, lembut, penurut dan juga menyayangimu" ucap Emi memandang Jully
"Ya memang seperti itu kebanyakan laki-laki, tetapi setelah mereka tau keburukan dari istri mereka, mereka tidak bisa menerima semuanya dan kadang dari sana pemicu perselingkuhan, perceraian, dan juga kesalah pahaman" ucap Jully
"Begitu. Aku baru melihat orang seperti kau, dan itu menurutkan cukup aneh, tapi alasanmu cukup masuk akal" ucap Emi tersenyum
"Terima kasih. Oya Em, aku boleh tanya sesuatu. Tapi kalau kamu tidak mau jawab ya tidak apa-apa sih, jawablah jika kamu setuju menjawabnya" ucap Jully
"Boleh tanyakan saja, insyaallah aku akan menjawabnya" ucap Emi
"Apa segitu takutnya kamu dengan rumah tangga.? kenapa kamu selalu menghindar setiap kali laki-laki ingin mendekati mu, apa ada trauma yang terjadi sebelumnya" tanya Jully
__ADS_1
"Sebenarnya tidak ada, tapi aku hanya takut melihat rumah tangga yang banyak hancur karena istrinya bekerja, dan suami tidak bisa menerima pekerjaan istri. Sahabat-sahabat ku, teman-teman ku dirumah sakit tempat ku bekerja banyak yang gagal dalam rumah tangga hanya karena mereka bekerja dan ada juga sebagian dari mereka yang berhenti bekerja setelah melahirkan baby karena dipaksa oleh suami mereka dengan ancaman kalau tidak berhenti mereka akan ditinggalkan" jelas Emi
"Itu karena laki-laki itu hanya melihat sisi baik dan sangat Egois terhadap pasangannya Em. Kalau mereka saling mengerti dan saling memahami mereka tidak akan seperti itu. Malah mereka akan saling menyokong, kalau sudah punya anak apa salahnya sewa baby sitter dan adakan pembantu dirumah untuk membantu meringankan pekerjaan istri mereka. Bukan begitu" ucap Jully
"Itu pendapat kita dan kita belum menjalani Jully, kita akan merasakan dan mengalami setelah kita menikah nanti" ucap Emi tidak menyadari ucapannya.
"Apa kau bilang barusan Em, tolong diulangi lagi" pinta Jully tersenyum
"Yang mana" tanya Emi bingung
"Yang itu, yang barusan" ucap Jully
"Perceraiannya teman-teman ku" tanya Emi
"Bukan yang terakhir" ucap Jully
"Yang mana, kamu ngomong apa sih Jully aku tidak mengerti" ucap Emi
"Ooo yang itu..." Emi seketika sadar dan memandang kearah Jully wajah Emi yang sangat merah setelah menyadari kalimatnya tadi
"Tidak maksudnya, ya kan kita sama-sama belum menikah dan belum pernah menjalani itu semua jadi tidak akan mengerti" ucap Emi menjelaskan
"Kalau kamu mau pembuktiannya, ketika kita menikah nanti aku akan membuktikan semuanya dan aku tidak akan mengingkari janji ku" ucap Jully yakin
"Aduh... Anda memang orang yang sangat percaya diri ya bapak Jully yang terhormat" ucap Emi
"Sedikit tidak apa-apa lah he... He..." ucap Jully tersenyum manis kearah Emi yang masih memperhatikan Jully
Ketika Emi melihat senyuman Jully yang tidak pernah ia lihat jantungnya langsung berdegup kencang. Deg... Deg...
__ADS_1
"Ada apa dengan jantungku, kenapa dia sangat manis" ucap Emi dalam hati
"Hei non, kok melamun" ucap Jully membuyarkan lamunan Emi
"Maaf aku melihat sesuatu diujung sana tadi, oya Jully apa kamu masih mau disini. Aku mau pulang karena sudah sore" ucap Emi
"Tidak, aku juga akan pulang. Ayo jalan bersama kemobil. Kebetulan mobil kita parkirnya dekat kok" ucap Jully
"Baiklah, ayok" ajak Emi
Mereka berjalan kearah mobil dengan obrolan ringan dan ketika sampai didepan mobil Jully menghadap kearah Emi.
"Emi, ketahuilah aku sangat mencintaimu. Aku akan menunggumu sampai kau siap" ucap Jully pelan sambil memandang mata Emi
Emi mencoba mencari kebohongan dimata Jully yang sendu. tapi ia tidak menemukannya.
"Ya Jully, terima kasih sudah mau sabar menghadapi ku dan sudah mau menunggu ku. Aku hanya butuh waktu untuk berfikir. Dan aku masih butuh waktu untuk melakukan sesuatu" ucap Emi lembut
"Tidak apa-apa, aku akan mendukungmu dengan apa yang sudah menjadi keputusanmu Emi" ucap Jully
"Terima kasih" ucap Emi tersenyum dan akan masuk kedalam mobil
"Emi, kalau kamu ada waktu hari minggu ini orang tua ku mau main kerumah mu. Bukan untuk lamaran tapi untuk silahturahmi dengan papa dan mama mu dan juga mau mengenalmu" ucap Jully
"Baiklah, nanti akan aku sampaikan sama mama dan papa ku Jul" ucap Emi dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Setelah kepergian Emi, Jully masih berdiri ditempat yang sama. Dan tersenyum manis memandang kearah mobil Emi yang berjalan meninggalkan taman itu.
"Benar kata om Ferry, Emi tidak bisa dipaksa dan tidak bisa di kerasi" ucap Jully pelan
__ADS_1
Jully pun meninggalkan taman itu berjalan menuju rumahnya. Jully sengaja minta izin tidak masuk kekantor lagi setelah melakukan meeting di cafe tadi. Ia membuntuti dan mengikuti Emi kemana pun Emi pergi.