Menikahi Seorang Bidan

Menikahi Seorang Bidan
16


__ADS_3

Emi dan teman-teman melahap habis makanan yang dikirim oleh Jully. Setelah makan mereka menunggu jam pulang dengan masih melengkapi semua laporan dan dokumentasi tindakan pertolongan persalinan yang mereka lakukan tadi.


Dirumah Emi pukul 14.00 wib Jully dan kedua orang tuanya sudah sampai untuk berkunjung juga bersilahturahmi. Ketika didepan rumah Emi, Jully langsung mengetuk pintu rumah itu.


Tok… Tok…


"Sebentar" jawab Iyem berjalan menuju pintu depan rumah untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum" sapa Jully dan orang tuanya


"Waalaikumsalam, e… Den Jully. ayo masuk den" ajak Iyem


Sedangkan dari dalam rumah Fatimah mendengar suara ketukan pintu tadi ikut keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Bi, siapa yang datang" tanya Fatimah dari dalam.


"Ini bu, ada den Jully dan keluarga" jawab bi Iyem setelah mempersilahkan Jully dan keluarganya masuk.


Fatimah langsung berjalan kearah ruang tamu setelah mendengar jawaban dari bi Iyem.


"Wah.… Sulastri, apa kabar kamu" ucap mama memanggil sahabatnya itu sambil memeluknya.


"Kabar aku baik Alhamdulillah. Kamu apa kabar, mana Ferri" ucap Sulastri


"O… Ferri ada kerjaan sedikit. Tapi sebentar lagi juga selesai. Aku panggilin dulu ya" ucap Fatimah


"Jangan, nanti saja. Jangan mengganggu pekerjaan suamimu" ucap Sulastri


"Ya Fatimah biarkan kawan ku itu mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu. Kami akan lama disini" ucap Karun


"Baiklah, tapi kita tidak duduk disini dong. Di sini khusus tamu saja. Sedangkan keluarga ya didalam tempatnya. Ayo pindah tempat duduk" ajak Fatimah


"Baiklah, kamu memang tidak pernah berubah Fatimah" ucap Sulastri


"Ah… kamu bisa aja Sulastri. Aku sudah tua. Mana mungkin tidak berubah, sebentar lagi anakku sudah menikah" ucap Fatimah merendah


Saat mereka lagi mengobrol, bi Iyem datang dan menyuguhi minuman juga cemilan yang sudah disiapkan.


"Terima kasih bi Iyem" ucap Fatimah


"Sama-sama bu" ucap bi Iyem lalu berjalan meninggalkan mereka semua

__ADS_1


"Ayo silahkan diminum bang Karun, Sulastri, Jully" ucap mama Fatimah


"Terima kasih Fatimah, kamu jadi repot" ucap Sulastri


"Biasa saja, tidak apa-apa, kita sudah lama tidak bertemu. Kalau bukan anak kita saling mengenal mungkin kita tidak akan bertemu Sulas" ucap Fatimah


"Tante, Emi nya kalau dinas pagi biasa sampai rumah jam berapa" tanya Jully


"Ha… Ha… Pa, anak mu ternyata tidak sabaran ketemu calon mantu kita" goda Sulastri


"Iya, ni bukannya yang lain ditanya dari tadi diam malah nanyain anak gadis mu Fatimah" ucap Karun


"Sabar Jully, sebentar lagi juga sampai. Kalau bukan ada yang lahiran dirumah sakit tidak pernah telat pulangnya. Ya… Begitulah Emi, dia lebih memprioritaskan pekerjaannya daripada dirinya, alasannya karena dia mau membantu kehidupan baru bagi seseorang perempuan dan seorang anak" jelas Fatimah sambil tersenyum


"Wah… Sungguh mulia sekali anak mu Fatimah. Sungguh sangat beruntung kmu jdi seorang ibu dari seorang anak yang sangat hebat itu Fatimah" puji Sulastri


"Tidak juga Sulas, kadang aku sangat merindukannya. Pernah sebulan penuh dia tidak dirumah karena diutus pelatihan dan pergi keluar negeri untuk pertemuan disana diutus oleh rumah sakit tempat dia bekerja" ucap Fatimah Lirih


"Itu hebat bukan, jarang loh ada anak perempuan yang segigih Emi, bahkan anak laki-laki ku saja kadang lebih banyak malasnya daripada bekerja" puji Karun dan menyindir Jully


"Apaan sih pa, tapi mungkin itulah sebabnya Emi sangat sulit untuk berumah tangga dan akan sangat takut untuk mengecewakan pasangannya dengan kegiatannya sebanyak itu" ucap Jully


"Ya Jully, Emi memang belum siap menikah karena memang dia takut akan kegagalan juga tidak mau berhenti bekerja karena dia tidak mau impiannya terhambat. Tante dan juga om sudah pernah menasehatinya sampai kami berdebat, tapi dia tetap dengan pendiriannya" ucap Fatimah


Emi menangis mendengar semua keluhan mama Fatimah yang menceritakan semua itu kepada Jully. Ia merasa jadi anak yang kurang perhatian kepada kelurganya dan juga ia befikir apakah keputusannya salah. Emi tetap mendengarkan semua obrolan mereka tanpa bersuara.


"Jully kalau kamu mau menjadi suami anak tante, tolong kamu mengerti keadaanya dan juga tolong maklumi sifatnya yang keras kepala itu ya" ucap Fatimah


"Baiklah tan, aku akan berusaha untuk menjaganya sebisa ku. Kalau suatu saat nanti kami menikah aku akan pindah ke perusahaan papa, biar bisa sedikit santai dan mengimbangi pekerjaan Emi tan" ucap Jully meyakinkan Fatimah


"Wah… Hebat anak papa, papa sangat senang kamu mau meneruskan usaha papa. Di tangan kamu papa yakin usaha kita akan lebih maju lagi" ucap Karun.


Setelah mereka mengalihkan obrolan tiba-tiba Ferri keluar dari ruang kerjanya.


"Pa, ini ada bang Karun dan juga Sulastri" ucap Fatimah


"Wah, kapan datang, kok aku tidak tau" ucap Ferri berjalan kearah mereka


"Setengah jam yang lalu Fer, kami tidak mau mengganggu pekerjaanmu, apa kabar kamu kawan" ucap Karun.


"Aku baik run, kalian sudah makan siang, kalau belum ayo kita makan dulu" ucap Ferri

__ADS_1


"Sudah, kami sudah makan tadi dirumah sebelum kesini" ucap Karun


"Baiklah. Ma, emi belum pulang" tanya Ferri


"Mungkin sebentar lagi pa" ucap Fatimah santai


Mereka kembali mengobrol ringan dan tidak membahas masalah Emi lagi. Emi merasa keadaan sudah aman. dia melangkah masuk dan menghapus air matanya.


"Assalamualaikum" ucap Emi


"Waalaikumsalam, nah itu Emi" ucap Fatimah.


"Maaf pa, ma, om tante Emi telat pulang, tadi ada pasien melahirkan" ucap Emi berbohong


"Tidak apa-apa Emi, sekarang kamu mandi dulu ya" ucap Fatimah


"Baiklah ma, Emi masuk dulu, om, tante, Jully" ucap Emi tersenyum manis


"Iya sayang" ucap Sulastri dan diikuti senyuman oleh Jully juga Karun


Emi masuk kedalam kamar dan langsung mandi, ia berendam selama 30menit sambil memikirkan semuanya, memikirkan perkataan teman-teman nya tadi juga memikirkan perkataan mama nya.


"Aku tidak boleh begini, ini sudah saatnya" gumam Emi dan berdiri dari bath up untuk membasuh badannya.


Setelah selesai mandi juga bersiap-siap Emi lalu berjalan keluar menemui semua orang yang berada diruang keluarga. Emi memilih duduk disamping papanya yang berhadapan dengan Jully.


"Nah, ini orangnya sudah didepan mata. Jangan mati kutu seperti itu Jully" goda Sulastri


"Apa sih ma, Jully hanya sedang makan cemilan ini kok" ucap Jully


"Pa, ma. Emi mau ngomong serius, mumpung disini ada om dan tante" ucap Emi serius


"Mau ngomong apa nak" ucap Ferri


Sedangkan yang lain melongo melihat kearah Emi, apalagi Jully, ia takut sesuatu terjadi dan ia takut Emi akan berkata yang tidak ingin dia dengar. Tapi Jully hanya diam pucat melihat kearah Emi, begitu juga dengan Emi melihat kearah Jully.


"Bicaralah nak. Apa yang mau kamu bicarakan" ucap Fatimah


"Ma, pa. Emi minta maaf kalau sudah jadi anak yang tidak mengerti kalian. Emi juga minta maaf jadi anak yang sangat jahat kepada kalian selama ini" ucap Emi


"Maksud mu apa nak, papa tidak mengerti" ucap Ferri menggenggam tangan Emi

__ADS_1


Emi menangis memeluk Ferri, ia tidak berkata apa-apa. Dan Ferri yang sangat mengerti anaknya itu hanya membalas pelukannya.


"Hei… sayang papa, tenangkan dirimu. Katakan pada papa apa masalah sebenarnya" ucap Ferri


__ADS_2