
Sesampainya di danau Emi, Jully juga adik-adik nya memilih duduk di tepi danau sambil melihat kearah danau.
"Kak, bagaimana rasanya jadi istri" tanya Oki memecah keheningan
"Nano nano" ucap Emi singkat
"Emang permen nano nano, serius ini nanya" ucap Oki
"Kamu mau tau itu kenapa, bukannya kamu laki-laki, seharusnya kamu nanya ke mas mu itu bagaimana rasanya jadi suami" ucap Sinta sambil terkekeh
"Kalau jadi suami ya enak, dilayani kan, nah kalau jadi istri aku gak pernah ngerasain jadi aku mau tau gimana rasanya" rengek Oki
"O begitu, jadi istri itu kadang enak, kadang gak enak. Kalau di mengerti oleh suami dan di sayang ya enak. Tapi kalau tidak semuanya itu ya tidak enak gondok rasanya" ucap Emi jujur
"Ya berarti kakak gak ikhlas dong mengurus suami kakak, bagaimana mau mendapat ridho ilahi kalau begitu kak" ucap Oki
"Wanita itu juga perlu di sayang, di manja, di perhatikan, di mengerti dan di pedulikan Oki. Kalian laki-laki berumah tangga itu tidak semata-mata harus dilayani, juga di hormati" ucap Emi
"Tapi aku melihat mas Jully sudah melakukan semuanya tapi kakak aja sering ambekan juga marah-marah gak jelas" ucap Oki
"Gak jelas gimana, pertama aku marah sama dia ini. Aku belanja di mall tidak mengharap dibayarin sama dia, dia sendiri yang mau bayarin tapi ujung-ujungnya dia malah bilang. Lain kali jangan boros, aku juga punya uang gak bakalan ngabisin uang dia juga. yang kedua, aku mau menginap dirumah orang tua ku tapi mamanya ini malah banyak sekali drama" bentak Emi lalu berjalan meninggalkan mereka semua
"Kamu ini kak Oki, kenapa membuat kakak marah sih" ucap Yuni mengejar Emi
Jully yang melihat kepergian Emi hanya diam ditempat, dia sudah tau permasalahannya. dan wajar kalau Emi marah memang itu kesalahannya, itu yang difikirkan Jully.
"Mas, kejar kak Emi. Aku sengaja memancing dia agar mengeluarkan kemarahannya" ucap Oki
"Seharusnya kamu tidak perlu seperti itu Oki, mas mu ini sebenarnya sudah tau permasalahannya. tapi belum ada moment yang pas untuk mengatakannya kepada kakakmu" ucap Jully
"Masalah kalau di diamkan akan menjadi boom nanti mas. Sekarang selesaikan masalah kalian" ucap Oki
"Ayo kamu juga harus minta maaf kepada kakak mu karena sudah membuat dia marah" Jully menarik tangan Oki
Setelah mereka sampai ketempat Yuni berdiri tapi mereka tidak melihat Emi disana.
__ADS_1
"Yuni, mana kak Emi" tanya Oki
"Kakak pergi menggunakan taksi tadi kak, aku telat sampai kakak sudah pergi" ucap Yuni
"Aduh, kita tidak akan menemukan dia kalu sudah seperti ini" ucap Jully
"Kak, aku minta maaf tambah memperkeruh suasana ini". ucap Oki
"Sudah tidak apa-apa Oki, sekarang kita pulang saja dulu. siapa tau kakakmu pulang ke rumah" ucap Jully
"Iya mas" jawab Oki dan Yuni.
Dalam perjalanan pulang tidak ada yang bersuara. Mereka bingung harus menjelaskan kepada orang tua mereka nnti, dan mereka sangat khawatir dengan keadaan Emi sekarang. Saat mereka sampai di rumah, mereka terkaget melihat Emi sedang duduk di ruang nonton bersama dengan Fatimah
"Kakak" ucap Oki dan Yuni bersama
"Kalian sudah pulang. Ayo mandi dulu, sudah sore. Emi istirahatlah dan selesaikan masalahmu dengan kepala dingin" ucap Fatimah
"Iya ma" ucap Emi langsung beranjak pergi
"Iya nak" ucap Fatimah
"Ma, Yuni ke…" belum selesai Yuni bicara langsung di potong oleh Fatimah
"Kalian ikut mama ke kamar" ucap Fatimah tegas
"Iya ma" jawab Yuni dan Oki serempak
Dikamar Emi, Emi sedang duduk di bangku meja riasnya.
"Emi, aku mau bicara" ucap Jully
"Ehm" jawab Emi
"Kamu kenapa seperti ini, kenapa kamu tidak membicarkan masalah mu sama aku. kalau seperti ini bagaimana kita mau menyelesaikan masalah kita" ucap Jully
__ADS_1
"Aku tidak kenal sama kamu, dari awal aku sudah tidak setuju dengan hubungan ini, tapi kamu tetap memaksa. Aku sudah mulai membuka hati untuk mu, kamu tau sendiri di hatiku selama ini hanya ada Andre. Tapi seketika kamu rusak kepercayaan dan rasa ku sama kamu dengan sifat pelit, perhitungan juga seenaknya kamu itu" ucap Emi
"Aku tidak bermaksud pelit sama kamu Emi, aku juga tidak bermaksud untuk pelit, perhitungan atau apapun yang seperti kamu katakan itu Emi, aku hanya ingin mengajarkan kepadamu, hargailah harta mu saat ini karena besok belum tentu harta mu akan tetap bersamamu. pandai-pandailah berhemat bukan berarti aku pelit sama kamu, kamu sudah salah paham kepada ku" ucap Jully
"Apapun itu alasannya, Kamu hanya mencari alasan. Memang dari awal aku sudah tau kamu itu pelit dan perhitungan. makanya aku tidak suka sama kamu" ucap Emi
"Terus sekarang mau mu apa kalau kamu tidak suka kepada suamimu Emi, aku akan berubah. bimbing aku agar kami senang" ucap Jully
"Kamu sudah besar, dan punya otak kamu bisa berfikir sendiri. Dan aku mau setelah ngunduh mantu nanti kita pindah ke apartemen. Satu lagi aku tidak suka di larang kalau aku mau pulang ke rumah orang tua ku" ucap Emi
"Beri aku kesempatan, insyaallah aku akan memperbaiki semuanya" ucap Jully
Emi tidak menjawab, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mandi sore. karena badannya sudah gerah akibat lari tadi.
Jully hanya termenung melihat keluar jendela kamar dengan kejadian ini, ia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Dari Jendela Jully berpindah ke tempat tidur, belum lama ia tertidur di atas ranjang karena merasa sangat lelah.
Di kamar Fatimah, Yuni dan Oki sedang mendapatkan ceramah sore dari Fatimah.
"Oki, Yuni. Kalian tau dan kenal bagaimana sifat kakak kalian kenapa kalian membuatnya marah" tanya Fatimah
"Ma, sepanjang kami pergi adi kak Emi itu selalu mendiamkan mas Jully, Ya aku tidak enak saja sama mas Jully" ucap Oki
"Iya tapi kamu tidak harus ikut campur dalam masalah keluarga kakak kamu, mereka itu baru menikah, jadi wajar mereka seperti ini, mereka masih saling mengenal dan saling memahami satu sama lain" ucap Fatimah
"Dan kamu juga Yuni, sudah tau kakak mu sedang ada masalah masih saja gatal mau ngajakin jalan-jalan apa tidak bisa di tahan sampai besok atau pergi saja sama teman-teman kamu" ucap Fatimah lagi
"Ya maaf ma, Yuni kira mereka sudah baik-baik saja" ucap Yuni menunduk
"Sekarang kalian cukup diam dan ambil sisi baiknya, yang buruk jangan kalian tiru, dan jangan suka ikut campur urusan orang lain meski itu kakak kalian sendiri. Mereka sudah dewasa, malah lebih tua dari kalian, mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Apa kalian ngerti" ucap Fatimah tegas
"Iya ma, kami minta maaf" ucap Oki dan Yuni serempak
"Ya sudah kalian pergi kekamar kalian masing-masing sekarang" ucap Fatimah
Mereka segera pergi setelah dapat izin dari Fatimah dan sangat lega. Begitulah Emi, kalau kepalanya sedang terbakar api akan sukar untuk di padamkan. Memadamkannya hanya dengan mendiamkannya sampai ia berbicara sendiri, kalau tidak akan tetap murka sampai kapanpun. Emi wanita yang tegas dan berprinsip kuat, tidak akan ada yang bisa menggoyahkan prinsipnya itu termasuk orang tuanya.
__ADS_1