Menikahi Seorang Bidan

Menikahi Seorang Bidan
11


__ADS_3

Jully menutup pintu kamarnya dan bersiap siap untuk mandi juga membereskan barang-barangnya untuk segera menuju kekamar Emi. Setelah semuanya siap dan selesai mandi Jully langsung kekamar Emi.


Tok… Tok… Jully mengetuk pintu kamar Emi.


"Siapa" tanya Emi


"Aku sayang" ucap Jully


Emi segera membuka pintu lebar "ck… Kau ini sama dengan perempuan, mandi saja lama sekali. Aku sudah kelaparan menunggu" ucap Emi kesal


"Maaf sayang. Sekalian aku menyiapkan barang-barang untuk kita pulang nanti" jelas Jully


"Ayo masuk, kita makan dulu. Baru kita check out" ajak Emi membukakan pintu kamarnya.


Ketika mereka sudah masuk kedalam kamar Emi tidak sengaja menginjak belakang sendal hotel yang dipakainya sendiri menyebabkan keseimbangan tubuh emi goyang, Emi akan jatuh tapi cepat Jully menangkap tubuh Emi dengan memeluk Emi dari belakang. Jully mengangkat tubuh mungil Emi agar tidak terjatuh.


Cukup lama mereka dengan posisi itu Emi merasakan deru nafas Jully di lehernya Emi tersadar dengan posisi mereka. Seketika Emi langsung memberontak minta dilepaskan.


"Le… Lepas Jully" teriak Emi


"Ma… Maaf Emi, aku tidak bermaksud" ucap Jully yang langsung dipotong oleh Emi


"Jangan mencoba cari-cari kesempatan dalam kesempitan kamu" tuduh Emi


"Tidak Em, aku murni menolong kamu, bukan mencoba mencari kesempatan Em" ucap Jully


"Terserah kamu saja" ucap Emi langsung pergi kemeja untuk makan.


Mereka makan tanpa ada yang bersuara. Dan terlihat kecanggungan di wajah Emi karena kejadian tadi. Setelah selesai makan Emi duduk di balkon kamarnya sambil memandang keluar hotel. Ia merasa tidak enak hati kepada Jully karena menyalahkan Jully tadi padahal Jully berniat menolongnya agar tidak jatuh.


"Huh… Bodohnya" gumam Emi dibalkon


"Kenapa melamun Em" ucap Jully membuyarkan lamunan Emi


"O… Ti… Tidak, hanya menikmati pemandangan saja" ucap Emi gugup


"Jam berapa kita akan berangkat kejakarta nanti kemalaman sampai bukannya besok kmu harus kembali bekerja" ucap Jully


"Tidak, besok aku masih libur. Lusa baru bekerja kembali. Sebentar lagi ya, aku masih menikmati pemandangan yang sangat indah ini. Di Jakarta cuma lihat gedung aja" ucap Emi tanpa melihat kearah Jully


"Ya udah aku tunggu didalam ya. Di sini dingin. Jangan lama-lama nanti kamu masuk angin" ucap Jully sambil berjalan


"Ck… Cerewet sekali jadi cowok" ucap Emi pelan.


Sekitar 30 menit emi duduk dibalkon dan dia memutuskan untuk masuk kedalam. Ia melihat Jully yang tertidur di kasurnya sangat kaget.


"Ini orang, kenapa malah tidur disini" ucap Emi menghampiri Jully


"Hei… Hei… Bangun, ayok cepat bangun. Udah jam berapa ini" ucap Emi mengguncang tubuh Jully


"Apa sih ma, masih pagi ini. Sebentar lagi" ucap Jully menarik guling tapi Jully tidak sengaja menarik tangan Emi yang terus menggunjang badannya.

__ADS_1


Akhirnya Emi terjatuh diatas tubuh Jully dan membuat Jully kaget sontak membuka matanya.


"Wahhh kamu kenapa menindih ku" ucap Jully mendorong tubuh mungil Emi kesamping


"Apa-apaan kamu Jully kamu yang narik aku. Tapi kamu yang mengatakan aku menindih mu. Dasar cowok brengsek" ucap Emi berdiri dan mengambil kopernya lalu meninggalkan Jully.


Jully kembali kaget melihat emi pergi, Jully mengejar Emi sambil menarik kopernya yang sudah sedikit jauh berjalan menjauhi Jully.


"Em, em tunggu. Maafkan aku, aku tidak tau tadi. Aku kaget" ucap Jully setelah berada disamping Emi


"Ya sudah tidak usah banyak drama, sekarang kita pulang" ucap Emi mengacuhkan Jully berjalan kearah mobil


Mereka sudah berada didalam mobil. Jully melajukan mobilnya kearah jakarta. m


Mobil itu melaju tanpa ada yang bersuara selama perjalanan. Sampai mobil memasuki pekarangan rumah Emi jam menunjukkan pukul 20.30 WIB


"Terima kasih banyak untuk tumpangnnya. Dan hati-hati dijalan" ucap Emi akan turun


"Apa aku tidak ditawari masuk dulu atau sekedar minum kopi" ucap Jully tiba-tiba


"Ya sudah ayo kalau mau masuk. Di rumah juga ada papa. Kamu bisa ngobrol dengan papa" ucap Emi


"Terima kasih banyak" ucap Jully


Mereka masuk kedalam rumah. Emi melihat orang tuanya sedang nonton diruang keluarga.


"Pa, ma. Anak kalian pulang… Kenapa tidak disambut sih" teriak Emi dari depan pintu


"Ma, kan Emi ada nelepon kemarin sama mama. kok gitu ngomongnya" ucap Emi


"Kamu selalu seperti itu" keluh Fatimah


"Eee ada nak Jully, kenapa kalian bisa bersama" tanya Ferri


"Malam om, malam tante. Ya om, tan. Jully sengaja menjemput Emi kepuncak om. Kalau tidak dijemput takut diculik orang" Jully menggoda Emi yang memeluk Fatimah


"Wah… Calon menantu papa sangat perhatian" ucap Ferri ikutan menggoda Emi


"Ck… Apaan sih, garing banget. Ma, pa. Emi kekamar dulu mau istirahat capek" ucap emiy


"Loh kok kekamar, ini tamunya dibuatin kopi dulu nak. Kenapa kamu tidak sopan begini" ucap Fatimah marah


"Kan ada mama, kata dia tadi mau ngobrol sama papa dan mama. Emi capek ma" keluh Emi


"Tidak bisa. Tamu kan punya kamu, ya sudah kamu jamu dia dengan baik" ucap mama tegas


"Ck… Menyusahkan saja." ucap Emi kesal akan pergi


"Mau kemana kamu" ucap Ferri


"Ya tunggu sebentar pa Emi tarok ini dulu. Baru melayani raja tolol ini" bentak Emi berjalan meninggalkan mereka

__ADS_1


"Benar-benar ini anak" ucap Fatimah menggelengkan kepala


"Udah om, tante. Jully kesini memang mau ketemu om dan tante. Ada yang mau Jully bicarakan" ucap Jully


"Loh… Kenapa kamu tidak ngomong dari tadi" ucap Ferri


"Maaf om tapi tante dan emi sudah berdebat duluan. Sebenarnya Jully juga ingin Emi mendengarkan om" ucap Jully merasa bersalah


"Baiklah Jully, tidak apa-apa Emi akan tetap pergi kalau tidak dibegitukan" ucap Ferri


"Mari duduk dulu Jul, emi sedang membuatkan kopi" ucap Fatimah


Belum lama mereka duduk dan ngobrol ringan emi datang dengan 2 gelas kopi juga 2 jus jeruk. Lalu menghidangkannya dimeja


"Nah begitu kan manis" goda Fatimah


"Iya" jawab Emi singkat lalu duduk dikursi berseberangan dengan mama dan papanya.


"Kenapa duduk disana, sini duduk dekat sama mama" ucap Fatimah


"Ck… Biarin disini aja udah. Cepat kamu mau ngapain Jully. Gue ngantuk" ketus Emi


"Duh, duh… Yang baru pulang sudah merajuk saja ini pa" goda Fatimah


Emi hanya diam malas menanggapi orang tuanya dan Jully. Ia sibuk dengan hp ditangannya.


"Om, tan, em. Aku mau ngomong sama kalian" ucap Jully membuka suara


"Cepat ngomong, dari tadi juga" ketus Emi tapi tetap asik dengan hp nya


"Em, aku serius. Aku ingin mengenalmu, jadi aku mohon kamu membuka sedikit hati mu untuk ku Emi. Aku akan menuruti semua perkataan mu, aku tidak akan menuntut apapun dari mu, dan tidak akan mempermasalahkan semua kegiatanmu" ucap Jully


"Ck… itu lagi. Kan udah diomongin di bogor tadi pagi" ucap Emi jengah


"Iya, karena aku tau kamu takut dan tidak yakin terhadap aku Em, aku akan memaklumi semua keadaanmu Em" ucap Jully


"Ya udah, kita jalani tapi aku tidak mau ada komitmen apapun diantara kita. itu aja" ucap Emi kekeh


"Udah-udah. amama dan papa paham sekarang permasalahannya sekarang. Emi maksud Jully itu sampai kapan kamu akan berkenalan dengan Jully. berapa lama" ucap Ferri


"Pa, Emi belum tau sampai kapan. Tapi Emi bakalan ngomong kalau sudah waktunya nanti" jawab Emi


"Tapi sampai kapan nak, papa dan mama juga ingin kamu berumah tangga. Umurmu sudah segitu masa tidak terfikir untuk berumah tangga, kami mau menimang cucu dari kamu Em" ucap Ferru


"Pa, ma. Cinta, sayang, rumah tangga itu tidak bisa dipaksakan dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana mau menjalani rumah tangga kalau belum saling memahami" jelas Emi


*


*


*

__ADS_1


Segitu dulu ya guys. semoga kalian semua suka. terima kasih


__ADS_2