Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 33


__ADS_3

POV Danu


Ku lihat sekeliling rumah, berharap netraku menemukan sosok wanita dengan khimar yang menjuntai panjang. Di jam pulang kantor seperti ini, biasanya dia sibuk dengan peralatan masaknya, namun tak ada siapapun di sana. Bahkan teh wati pun tak terlihat batang hidungnya.


Ku lanjutkan mengayunkan kaki menuju kamar. Kamar yang dulu selalu rapi, bersih, dan wangi, karena sang empu yang selalu membersihkannya. Namun aromatherapi vanila itu, kini menghilang entah kemana, bersamaan dengan menghilangnya pemilik kamar.


"Tanpanya, hidupku benar-benar tak ada warna"


Ku raih handuk bersih, lalu berjalan menuju kamar mandi, dengan mandi air dingin, serasa tubuhku menjadi lebih ringan.


Saat membuka lemari untuk memilih baju santai yang akan ku pakai, otaku berkelana mengingat betapa telatennya Nina mengurus segala keperluanku. Sebagai suami, aku memang tak memberinya nafkah batin, tapi untuk nafkah lahir, aku tak pernah telat memberi uang dengan jumlah yang fantastis setiap bulan. Entah uang itu cukup atau tidak, bahkan aku tak pernah menanyakannya.


"Maaf Nina maaf, sampai kamu nekad menjadi wanita lain dalam rumah tanggamu sendiri"


Sungguh aku tak bisa mengendalikan perasaanku. Lebih baik aku mengaji sembari menunggu adzan maghrib. Ku beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Berusaha menentramkan kegalauan yang sudah lebih dari seminggu bersarang di hatiku.


Kesejukan air suci sangat menenangkan jiwa, pujian ku haturkan pada-Nya sesaat setelah berwudhu. Ku raih mashaf merah marunku, dan mulai dengan ta'awudz serta basmallah.


**


Matahari telah terbit dari ufuk timur, cahayanya berusaha masuk melalui celah gorden yang masih tertutup rapat. kusibakan gorden berwarna silver, rasa hangat yang di pancarkan sinarnya mengalir ke seluruh tubuh.


"Teh wati masak apa pagi ini?"


"Pak maaf, saya belum masak, saya sendiri bingung, biasanya hari minggu pak Danu kan ke rumah mertua, kalau masak takut tidak di makan, pak Danu juga tidak memberitahu saya tadi malam"


"Tidak apa-apa teh wati, aku memang mau ke rumah mertua, teh wati masak untuk kalian saja. Sebentar lagi Rio datang, bilang saya ada di ruang fitnes"


"Baik pak"


Aku kembali melangkahkan kaki, untuk berolahraga di dalam ruangan. Berusaha menyibukan diri, sambil mencari dan menunggu informasi tentang istriku dari Rio dan juga mas Haidar. Sama halnya diriku, mas Haidar pun begitu panik ketika mengetahui ponsel Nina tidak bisa di hubungi. Sengaja kami tidak memberitahu masalah ini pada Abi dan Umi.


Aku berlari sekencang-kencangnya di atas permukaan treadmill, berusaha melampiaskan rasa rinduku padanya.

__ADS_1


Ku dengar decitan pintu, saat pandangan ku arahkan pada sumber suara, muncul si brengsek Nobita. Dulu aku panggil dia dengan sebutan itu, karena sangat mirip dengan tokoh kartun berkaca mata bundar, sangat malas, dan suka menyontek. Sejak saat itu ia berusaha keras untuk belajar, agar aku berhenti memanggilnya Nobita. Tapi sekarang, lumayanlah dia bisa di andalkan sebagai asisten pribadi. Walaupun kami sering melontarkan umpatan, namun tak membuat kami berselisih, selain itu kami sudah berteman sejak TK, dan papanya sebagai pengacara keluarga kami, berteman baik dengan papaku.


"Bagaimana Ri, sudah dapat informasi?" tanyaku lalu ku teguk air mineral dari dalam botol.


"Sudah, posisi ponsel Nina ada di jakarta"


Aku terhenyak mendengar jawaban Rio, ku tatap wajahnya penuh selidik, lalu ku hampiri dia "Jakarta?" ku lihat dia yang sudah memakai kaos dan celana olagraga, mengambil alih home gym, lalu duduk dan mulai menggunakannya.


"Iya. Jakarta pusat, tapi untuk posisi tepatnya belum di ketahui. Sebenarnya aku punya ide untuk mencarinya melalui medsos tapi,_"


Belum sempat dia menyelesaikan ucapanya, aku buru-buru memotongnya "Jangan, kata mas Haidar jangan menggunakan medsos, takutnya ada orang jahat memanfaatkan kondisi ini"


"Iya kamu benar Nu, maka dari itu, aku ragu-ragu mengatakannya. Lebih baik kita cari diam-diam, tapi ya itu.... harus sabar" pungkasnya dengan nafas sedikit tersengal, mungkin dia sudah lelah dengan tangannya yang menarik home gym.


Ku ambil Burbell untuk melatih otot dada, perlahan ku angkat dengan penuh hati-hati.


"Kita ke rumah mertuaku nanti setelah ini, ada kajian minggu, mertuaku sendiri yang ceramah"


"Apa ada gadis sholehah di sana?"


"Aku mau pilih satu"


"Mana mau mereka sama kamu" jawabku "Gadis di sana, mentok usianya delapan belas tahun, mereka pasti tidak mau dengan lelaki tua sepertimu"


"Halah jaman sekarang mana lihat usia, yang penting uangnya banyak"


"Asal kamu tahu saja, kalau wanita sholehah tidak memandang pria dari dompetnya"


"Haahhhhhh Kaya udah pintar saja, rugi banget si Nina nikah sama kamu"


"Dasar brengsek" umpatku lalu berjalan ke arah pintu "Buruan mandi, kajian mulai pukul sepuluh."


🌻

__ADS_1


🌻


Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, waktu menunjukan pukul 08:05, kami berniat mengunjungi rumah orang tua Nina. Ku ketuk pintu kamar tamu, aku yakin Rio masih di dalam "Ri, aku tunggu di luar"


"Yo" jawabnya singkat.


Tidak menunggu lama terlihat Rio sedang berlenggang ke arahku "Ini kuncinya" Aku melempar kunci mobil padanya, dengan tangkas Rio menangkap lemparanku.


"Opo to?" sahut Rio


"Kamu yang nyetir, nanti aku pulangnya"


Ku ucapkan salam pada abi dan umi ketika sudah sampai. Tampak mereka sedang menyantap sarapan, segera ku hampiri tanpa mencium punggung tangannya, karena kebiasaan Abi selalu makan menggunakan tangan.


Memang lebih nikmat makan dengan tangan dari pada sendok, selain itu, abi pernah bilang


Menurut penjelasan Imam Al-Ghazali, makan dengan tiga jari tangan kanan dapat menghindarkan seseorang dari sifat lupa dan dapat mengukur porsi yang cocok untuk seseorang.


Makan menggunakan tangan juga diketahui lebih sehat, dibandingkan menggunakan sendok. Lantaran, dalam tangan terdapat Enzim Rnase yang dapat menekan aktivitas bakteri pathogen dalam tubuh.


"Sini nak sarapan dulu" perintah umi dengan ramah. Umi memang selalu ramah pada siapa saja.


Aku dan Rio segera duduk lesehan dan mengambil posisi di depan abi serta umi.


"Umi, abi, ini Rio teman ku"


"Maaf ya nak Rio, tangan abi kotor" kata Abi bukan maksud menolak jabatan tangan Rio sebenarnya, hanya saja pria itu tengah makan menggunakan tangan. "Ayo kalian juga makan"


"Sini umi ambilkan" Sambar Umi Lela. Sebelumnya umi sudah menyuruhku supaya tidak perlu sarapan dari rumah. "Kalian belum makan kan?"


"Belum umi" jawabku singkat.


"Abi sudah selesai, kalian makan pelan-pelan, jangan sungkan ya nak Rio, abi tinggal dulu" ujarnya lalu meneguk segelas air.

__ADS_1


"Iya bi" jawab kami kompak


BERSAMBUNG


__ADS_2